Kamis, 20 Maret 2014

Aneh, Dishub Malah Razia Truk

Aneh, Dishub Malah Razia Truk


Aneh, Dishub Malah Razia Truk

Posted: 19 Mar 2014 07:29 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Kepekaan Dinas Perhubungan (Dishub) Bandarlampung terhadap instruksi Wali Kota Herman H.N. untuk merazia sopir angkutan kota (angot) patut dipertanyakan. Bagaimana tidak, Dishub tak mengindahkan instruksi tersebut. Satuan kerja (satker) itu malah merazia truk dan mobil pikap. Razia yang dilakukan kemarin itu digelar di Jl. Pangeran Emir M. Noor, Tanjungkarang Pusat.

Jalan tersebut memang bukan merupakan jalur trayek angkot. Karena pantauan Radar Lampung, tak satu pun angkot yang terkena razia.  

Saat ditanyakan, Kabid Lalu Lintas Dishub Bandarlampung Iskandar Zulkarnain membantah jika pihaknya belum merazia sopir angkot yang melanggar aturan. Dia mengaku razia angkot sudah dilakukan beberapa pekan sebelumnya.

''Kalau angkot sudah kami razia kok. Sudah tiga pekan belakangan ini. Pastinya bukan cuma mobil pikap dan truk yang kami razia, angkot juga," akunya.

Dia menjelaskan, razia angkot dilakukan beberapa pekan sebelumnya di beberapa titik jalan. Seperti di Jl. Teuku Umar tepatnya di depan Taman Makam Pahlawan, Jl. Cut Nyak Dien, Jl. Soekarno-Hatta, Jl. Yos Sudarso, dan Jalan Pangeran Antasari.

''Kami merazianya tidak di satu tempat. Di tempat lain juga kami razia. Kebetulan tadi itu (kemarin, Red) razia dilakukan di Jl. Pangeran Emir M. Noor yang targetnya mobil pikap dan truk. Tetapi sebelumnya angkot juga sempat kami razia," ujarnya.

Dalam razia tersebut, terus Iskandar, pihaknya bekerja sama dengan Polresta Bandarlampung. ''Jadi jika pelanggaran itu masuk ke ranah kepolisian, kami serahkan ke Satlantas Polresta Bandarlampung. Tetapi kalau pelanggaran itu masuk ranahnya Dishub, kami yang akan menertibkan," jelasnya.

Diketahui, pada Senin (17/3), Wali Kota Herman H.N. menginstruksikan Dishub untuk segera merazia sopir angkot. Instruksi ini disampaikannya untuk meminimalisasi angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan angkot. Terlebih, ia mendengar kabar banyak angkot disopiri remaja berusia di bawah 17 tahun.

Instruksi itu didukung Ketua Komisi C DPRD Bandarlampung Barlian Mansyur. Dia mengaku setuju dengan apa yang disampaikan Wali Kota Herman H.N.

''Ya harus itu. Ini salah satu langkah mencegah kecelakaan. Kalau ini terus dibiarkan, kecelakaan lalu lintas yang disebabkan angkot ugal-ugalan akan sering terjadi dan menyebabkan kerugian jiwa di masyarakat," kata Barlian.

Dia melanjutkan, dalam mengantisipasi hal tersebut, pihaknya memandang perlu adanya penertiban kepada sopir angkot yang membawa kendaraan, namun belum memenuhi persyaratan.

''Karena itu, kami minta Dishub bergerak ke lapangan untuk mengecek seluruh angkot. Kalau menemukan ada angkot yang dibawa sopir di bawah umur, kami minta ada tindakan tegas dari Dishub," tandasnya.

Politisi Partai Golkar ini menambahkan, tindakan tegas yang dilakukan Dishub bisa bermacam-macam. Salah satunya pencabutan izin trayek angkot itu agar tidak lagi menarik penumpang di jalan raya.

''Kan izin trayeknya bisa dicabut. Ini supaya ada efek jera kepada pemilik angkot agar angkotnya tidak lagi dikemudikan sopir di bawah umur," pungkasnya.

Diketahui, Wali Kota Herman H.N. meminta Dishub segera mengecek ke lapangan dan merazia sopir angkot. Ini dimaksudkan untuk menghindari kecelakaan lalu lintas di jalan raya yang melibatkan angkot.

''Kalau untuk warga Bandarlampung, apa pun akan saya lakukan. Apalagi ini untuk kebaikan warga supaya terhindar dari kecelakaan yang disebabkan angkot," tandasnya, Senin (17/3). (yud/p2/c1/whk)

Hujan Tiga Jam, Dua Rumah Rusak

Posted: 19 Mar 2014 07:28 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Hujan deras selama tiga jam sejak pukul 17.00-20.00 WIB Selasa (18/3) menjadi musibah bagi Abu Bakar, warga Kampungsawah, Kelurahan Waygubak, dan Iyan, warga Kampung Sukaindah I RT 16, Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang.

Kedua rumah mereka rusak berat. Ya, akibat hujan deras tersebut, kediaman Abu Bakar tertimpa pohon besar berdiameter sekitar dua meter. Sedangkan kediaman Iyan diterjang tanah longsor hingga menjebol tembok rumahnya.

Pantauan Radar Lampung di kediaman Abu Bakar, puluhan anggota Badan Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) Bandarlampung membantu untuk menyingkirkan pohon. Puluhan warga setempat juga ikut membantu.

Mihlan (30), tetangga Abu Bakar, mengatakan, kejadian berlangsung sekitar pukul 17.00. Kala itu hujan deras disertai angin kencang. ''Tiba-tiba suara gemuruh terdengar seperti gempa bumi. Saya saat itu sedang berada di dalam rumah bersama keluarga. Ketika saya keluar, tahu-tahunya pohon bayur telah menimpa rumah Abu Bakar," katanya.

Sementara, Abu Bakar tidak menyangka pohon bayur tersebut bisa tumbang. ''Baru kali ini ada peristiwa seperti itu di kampung kami. Saya juga tidak menyangka pohon itu bisa roboh, karena masih tergolong muda," katanya.

Menurut dia, akibat kejadian itu, rumahnya rusak hampir 85  persen. ''Meski begitu, saya bersyukur, tidak satu pun keluarga saya terkena timpahan pohon. Padahal saat kejadian, semuanya ada di dalam rumah," ungkapnya.

Sementara Iyan mengatakan, longsor yang menerjang rumahnya terjadi pada pukul 19.30. ''Penyebabnya di atas rumah saya tidak ada saluran air. Sehingga saat hujan deras kemarin, tanah di atasnya longsor," ujarnya. (fbi/p2/c1/whk)

Oktober, Gas seperti Keran Air

Posted: 19 Mar 2014 07:27 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Kepastian penyelesaian proyek pembangunan unit penampungan dan regasifikasi atau Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Lampung kian jelas. Dalam kunjungan kerja PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ke Pemprov Lampung kemarin, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT PGN Djoko Saputro memastikan proyek tersebut rampung Juli tahun ini.

''Pelaksanaan proyek FSRU di Lampung ini berjalan sangat baik. Untuk penyiapan kapal penampungnya sudah 90 persen. Sedangkan pemasangan pipa distribusi ke konsumen telah mencapai 70-an persen. Untuk itu, Juli tahun ini kita sudah siap menyalurkan gas untuk Lampung. Sesuai skedul awal," ujarnya kemarin.

Dengan FSRU ini, terus dia, PT PGN dapat menyuplai gas sebanyak 80 juta kubik per hari untuk Lampung. Untuk menyuplai pasokan tersebut, PGN membangun pipa distribusi sepanjang 90 km yang terbentang dari Labuhanmaringgai, Lampung Timur, sampai Bandarlampung.

''Untuk Juli nanti ada 13 calon industri yang siap menerima gas. Tetapi perusahaan mana saja, saya belum bisa merincinya secara gamblang. Salah satu yang paling siap adalah Hotel Novotel," katanya.

 Selain 13 perusahaan tersebut, rencananya PT PLN memanfaatkan jasa PGN untuk sumber pembangkit. Terutama PLN Sutami dan PLN Sribawono. Sayang, hingga kini PT PLN masih pikir-pikir.

Ya, PLN masih mempertimbangkan besaran biaya yang dikenakan. Padahal dibandingkan memanfaatkan BBM (bahan bakar minyak), PLN bisa lebih hemat lebih dari 50 persen biaya. ''Jadi kita masih tunggu konfirmasi dari PT PLN. Utamanya PLN yang masih menggunakan pembangkit diesel," ungkapnya.

Untuk masyarakat kalangan rumah tangga, ia mengklaim penggunaan gas ini jauh lebih irit. Tidak hanya dibanding BBM, penyaluran melalui FSRU ini pun masih jauh lebih irit dibanding penggunaan elpiji.

Pihaknya mengasumsikan rata-rata rumah tangga menggunakan dua tabung elpiji 12 kg per bulan. Dengan harga berkisar Rp240 ribu. Sementara dengan penyaluran gas melalu FSRU ini, kalangan rumah tangga hanya akan mengeluarkan biaya Rp30–50 ribu per bulan.

''Hanya, khusus untuk rumah tangga kemungkinan kita baru siap bulan Oktober," paparnya.

Saat ini, pihaknya masih fokus untuk penyaluran industri. Untuk rumah tangga, manakala sudah berkembang, segera dibangunkan pipa distribusinya.

''Yang penting bangun pipa utama dulu. Nanti pipa cabang ke rumah tangga bahkan SPBU yang akan dikonversikan menjadi SPBG tinggal menyambungkan dari pipa utama," sebutnya.

Untuk kalangan rumah tangga, kemungkinan besar diprioritaskan pada kawasan perumahan dahulu. ''Nanti kita survei perumahan mana yang siap. Kita akan sambungkan pipa hingga gerbang mereka. Selanjutnya untuk pipa menuju rumah ke rumah, pengembang perumahanlah yang menyiapkan," tukasnya.

Dilanjutkan,  masyarakat diharapkan tidak takut menggunakan gas yang penggunaannya bisa seperti keran air tersebut. Pihaknya mengklaim selama ini jumlah kecelakaan sangat kecil.

''Berat molekul dari gas lebih ringan dibanding udara. Lain dengan elpiji yang kalau bocor akan mengendap ke bawah dan menumpuk. Kalau gas tidak. Jadi tak berbahaya," tuturnya.

Terpenting, pemasangan pipa dapat dilakukan oleh pihak berkompeten. ''Memasang pipa harus oleh tenaga yang disertifikasi PGN. Tidak bisa tenaga asal-asalan. Dengan begitu, saya jamin penggunaan gas ini akan sangat aman," pungkasnya. (sur/p2/c1/whk)

AJI Gelar Pelatihan Pewartaan Tata Kelola Hutan

Posted: 19 Mar 2014 07:26 PM PDT

BANDARLAMPUNG –  Pada tahun 2000, luas hutan di Provinsi Lampung mencapai 1,004 juta hektare (ha) atau 30,43 persen dari luas wilayah Sai Bumi Ruwa Jurai yang mencapai 3,528 juta ha. Diperkirakan, luas hutan di Lampung kini telah mengalami penurunan. Penyebabnya, antara lain, adanya pembalakan liar, perambahan, pengalihan fungsi, dan kebakaran.

Karena fakta tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung berinisiatif melaksanakan pelatihan pewartaan transparansi tata kelola kehutanan di Lampung 2014.

Kegiatan yang rencananya berlangsung pada 5-6 April itu dilaksanakan di Hotel Amalia Bandarlampung bekerja sama dengan Watala, USAID, dan WWF Lampung.

Ketua AJI Bandarlampung Yoso Muliawan mengatakan, peserta pelatihan terbatas. Yakni hanya 20 jurnalis dan penggiat lingkungan di Lampung.

''Peserta akan diseleksi melalui karya tulis yang mereka kumpulkan saat mendaftar. Pendaftaran dibuka kemarin (19/3) hingga Senin (24/3)," terang Yoso.

Menurutnya, selama pelatihan, peserta dipandu Direktur Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) IGG Maha Adi. Selain itu, diskusi panel yang menjadi salah satu sesi pelatihan akan menghadirkan narasumber dari Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, dan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung.

''Peserta akan belajar membuat kerangka, liputan, dan teknis pelaporan peliputan mendalam tentang kehutanan," jelas Yoso.

Pasca pelatihan, terus dia, AJI akan memberikan beasiswa kepada tiga peserta dengan karya tulis terbaik. ''Beasiswa berupa uang tunai dengan total Rp4 juta dan trofi," pungkasnya. (rls/p2/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar