Rabu, 03 Juni 2015

DPD RI Bahas Sengketa Warga-PT KAI

DPD RI Bahas Sengketa Warga-PT KAI


DPD RI Bahas Sengketa Warga-PT KAI

Posted: 02 Jun 2015 08:50 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Sengketa lahan antara warga Kelurahan Sawahbrebes, Kecamatan Tanjungkarang Timur, Bandarlampung, dengan PT KAI menarik perhatian kalangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Guna mencari solusinya, lima anggota DPD, yakni Abdullah Manaray, Andi Surya, Lalu Suhaimi, Abdul Rahmi, dan Marthin Billa, melakukan pertemuan dengan puluhan warga pada Senin (1/6) di kelurahan setempat.

    Wakil Ketua DPD RI Abdullah Manaray mengatakan, terdapat dua hal yang dilakukan dalam badan akuntabilitas publik, yakni menindaklanjuti berbagai temuan Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan menindaklanjuti laporan masyarakat yang diterima DPD. ''Kami berjanji menindaklanjuti masalah antara warga dengan PT KAI. Kami minta warga bersabar," ujarnya.

    Anggota DPD RI lainnya Andi Surya menuturkan, sengketa lahan antara warga Sawah Brebes dan PT. KAI ini sudah berlangsung lama. Bahkan sebelum dirinya menjabat sebagai anggota DPD RI. Menurut dia, ada sesuatu yang harus dibenahi di dalam sengketa ini.  "Kedatangan kami ini mewakili pemerintah, masyarakat terutama masyarkat Lampung. Kegiatan ini tidak ada unsur politiknya," kata dia.

     Menurutnya, sengketa ini dikarenakan PT. KAI menggunakan ground card sebagai dasar untuk melakukan penggusuran terhadap rumah warga Sawah Brebes ini.   "Yang jadi pertanyaan, apakah ground card itu masih berlakuk atau tidak saat ini," tandasnya.

     Salah satu warga setempat di dalam pertemuan itu Suhadi mengutarakan, munculnya sengketa ini lantaran PT. KAI mengklaim jika lahan yang saat didiami ratusan warga yang terdiri dari RT I sampai RT IV itu miliki PT. KAI. Padahal warga setempat sudah bermukim di daerah tersebut sejak 50 tahun lalu.   "Sebelumnya daerah ini (Sawah Brebes) daerah rawa. Orang tua kami pertama yang pertama kali bermukim di sini ," imbuhnya.

    Diungkapkannya, awal mula munculnya sengketa ini yakni adanya perbedaan landasan hukum yang digunakan antara PT. KAI dan warga. Pertama PT. KAI masih menggunakan ground card (semacam peta lama di jaman Belanda). Kemudian kedua, sengketa ini muncul diduga adanya ambisi pejabat PT. KAI dengan pemilik modal.

    "Pada tahun 2012 kami pernah didatangi segelintir orang yang menyatakan jika di daerah Sawah Brebes ini akan dibangun pusat perbelanjaan. Kemudian yang ketiga kami menduga ada penyimpangan administrasi terkait surat lahan," ungkapnya. (ben/c1/adi)

 

Gelar Pasar Murah, Pemkot Gandeng Retail

Posted: 02 Jun 2015 08:49 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Mulai merangkaknya harga kebutuhan pokok di pasar-pasar yang ada di kota ini langsung direspons Pemkot Bandarlampung. Dalam waktu dekat, pemkot berencana menggelar pasar murah secara serentak di 20 kecamatan.

Informasi ini disampaikan Asisten I Bidang Perekonomian Pola Pardede kepada Radar Lampung kemarin (2/6). ''Kami sudah merapatkan hal tersebut dan telah diagendakan jadwal pertemuannya. Bahkan, suratnya sudah dinaikkan ke Pak Wali untuk disetujui dan tinggal menunggu surat turun," ujarnya.

Senada disampaikan Kasubag Sarana Perekonomian Bagian Perekonomian Pemkot Bandarlampung Blasius Siswanto. Menurutnya, pasar murah pemkot akan digelar tiga kali di awal bulan dan pertengahan Ramadan serta menjelang lebaran.

"Ya, rencanaya kali pertama digelar pada 16 Juni 2015, tahap kedua pada 2 Juli 2015, dan tahap ke tiga pada 14 Juli 2015," ujarnya kemarin.

Dia menjelaskan, komoditi yang akan dijual di pasar murah di antaranya berupa minyak, gula, beras, sirup, susu, dan telor. "Yang jelas bahan kebutuhan pokok untuk menghadapi bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri," kata dia.

Dia melanjutkan, untuk pasar murah ini, pemkot akan bekerja sama dengan seluruh retail yang ada di kota ini. "Kami undang semua retail seperti Indomaret dan Alfamart. Bahkan, UKM dari Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag), Dinas Pertanian, serta Bulog ikut bergabung di pasar murah," paparnya.

Bahkan, terus dia, rencanaya Wali Kota Herman H.N akan meninjau langsung dengan berkeliling pada pasar murah yang digelar di 20 kecamatan secara serentak tersebut sejak pagi hingga sore hari.

"Ini diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada warga untuk mendapatkan bahan-bahan pokok yang murah menjelang Ramadan, pertengahan puasa, dan menjelang lebaran. Sebab, kami sedang mengusulkan kepada pihak retail untuk dapat memberikan diskon sebesar 20–50 persen ataupun harga yang berbeda dari harga pasaran," tukasnya.

Sementara, Kabid Perdagangan Diskoperindag Bandarlampung Firmansyah Akib mengatakan, rapat persiapan sudah dilalui. Saat ini tinggal koordinasi antar pihak terkait dari intansi maupun pihak retail yang akan mengikuti pasar murah yang diselenggarakan Pemkot Bandarlampung.

"Saat ini tinggal pelaksanaanya saja yang akan dilakukan di 20 kecamatan. Bahkan, kami masih mempersilakan retail ataupun perusahaan yang ingin bergabung memberikan diskon kepada masyarakat," katanya.

    Diketahui, dari hasil pantauan Radar Lampung pada tiga pasar tradisional, yakni Pasar Pasirgintung, Pasar Induk Tamin, dan Pasar Tugu, harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Di antaranya bawang merah, bawang putih, gula, telur, dan kacang tanah.

Seperti di Pasar Pasirgintung. Sugiyono, salah satu pedagang di pasar tersebut, mengatakan, kenaikan bahan pangan sudah terjadi sejak dua hari lalu. Tepatnya pada Jumat (29/5).

Menurutnya, harga kacang tanah Rp21.500 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp20 ribu. Lalu bawang merah dan bawang putih, kenaikan harganya masih fluktuatif. ''Sebab sewaktu-waktu harga bawang berubah. Bahkan dalam satu bulan terjadi perubahan harga sampai tiga kali, dari Rp28,5 ribu menjadi Rp28 ribu dan kini mencapai Rp29 ribu," ujarnya Minggu (31/5).

Senada disampaikan Mulyono, pedagang sayur mayor. Kenaikan harga bahan sayur mayur terjadi pada kol dan cabai rawit. "Tadinya kol hanya Rp4 ribu per kilogram mas, sekarang jadi Rp6 ribu. Alasannya ketersediaan barang yang sulit didapat dari petani. Lalu, cabai rawit yang saat ini diangka Rp20 ribu, ini ada kenaikan Rp2 ribu dari harga sebelumnya Rp18 ribu." katanya.

Sementara Wiwik, pedagang ayam dan telur mengatakan, untuk harga ayam masih stabil Rp20,6 ribu per kilogram. Namun, harga telur ayam ras sudah naik dari Rp19 ribu menjadi Rp21 ribu.

Kenaikan harga bahan pangan juga terjadi di Pasar Induk Tamin. Di sana, Radar bertemu dengan beberapa pedagang. Di antaranya Paidi, penjual kacang tanah dan bawang.

Ia membenarkan ada kenaikan pada kacang tanah, bawang merah, dan bawang putih. Sebab, saat ini ia menjual per kilogram kacang tanah Rp21,5 -Rp24 ribu sedangkan sebelumnya hanya Rp19 ribu. Lalu, pada bawang merah saat ini mencapai Rp35 ribu sedangkan sebelumnya hanya Rp22,5 ribu. "Kalau bawang putih masih tetap Rp18 ribu per kilogram," jelasnya.

Kemudian Pepen, penjual beras, gula, terigu, sagu mengatakan, kenaikan harga pangan sudah mulai terasa dari pekan sebelumnya. "Tapi untuk harga beras masih stabil diangka Rp8-Rp10 ribu," katanya.

Kesetabilan harga beras menurutnya diikuti dengan stabilnya harga terigu yang masih tetap diangka Rp6 ribu. "Untuk gula sudah naik dari Rp10 ribu sekarang menjadi Rp12 ribu per kilogram," kata Pepen.

Sementara, di Pasar Tugu kenaikan harga yang sama pun terjadi di pasar ini. Bahkan pedagang di sana keseluruhanya memprediksi dalam beberapa hari ke depan akan kembali terjadi kenaikan pada beberapa bahan pangan. (goy/p2/c1/whk)

Empat WC untuk 62 KK

Posted: 02 Jun 2015 08:46 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Derasnya pembangunan di Bandarlampung ternyata tak berjalan merata. Buktinya, masih ada wilayah di kota ini yang kondisi pemukimannya memprihatinkan. Seperti di Kampung Talangcikirai RT 4/Lingkungan 1, Kelurahan Talang, Kecamatan Telukbetung Selatan (TbS). Di wilayah ini, warga RT setempat harus mengantre untuk mandi maupun buang air lantaran di rumah mereka masing-masing tidak memiliki kamar mandi maupun WC.

Diketahui, di RT 4 Kampung Talangcikirai terdapat 62 kepala keluarga (KK). Semua warga di sana ketika akan mandi menggunakan tempat pemandian umum yang hanya ada satu di lokasi tersebut. Sementarajika akan buang air, di lokasi ini hanya ada empat WC umum.

Pantauan Radar Lampung di lokasi tersebut kemarin, ada dua bangunan WC yang letaknya terpisah. Bangunan pertama berada di pertigaan gang rumah warga, sedangkan bangunan kedua berada di samping musola kampung setempat.

Pada bangunan pertama terlihat ukurannya begitu kecil dan satu pintu telah mengalami kerusakan. Selain itu di depannya ada alat pompa air yang biasa digunakan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Selanjutnya untuk sumur dibentuk kolam berukuran 2 x 4 meter dan digunakan warga untuk mencuci dan mandi.

    Nunung (50), salah satu warga setempat mengatakan, mereka sudah biasa mengantri ketika WC penuh. "Ya, kami selalu bergantian dengan yang lain," ujarnya kemarin (2/7).

Karenanya, ia berharap Pemkot Bandarlampung menambah WC di lokasi tersebut. "Ya kami berharapnya ada WC lagi, dan diperbaiki yang lama. Lihat saja mas kondisinya kan sudah terlihat begitu tua," tukasnya.

Sementara, saat wartawan koran ini mencoba menyambangi rumah ketua RT setempat, Radar hanya bertemu dengan istrinya Mulyati (50).

Dia membenarkan, di RT tersebut hanya memiliki empat WC. Selain itu ada satu tempat pemandian umum dan dua penampungan air.

"Ada 62 KK yang tinggal di sini, kami tidak punya biaya untuk membuat WC, karenanya WC umum itulah yang dimanfaatkan warga. Saya saja masih menggunakan WC umum," ucapnya.

Saat dikonfirmasi, Lurah Talang Sarkoni mengaku pihaknya sebenarnya sudah siap menambah WC dan tempat pemandian umum di wilayah tersebut dengan menggunakan dana dari program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) Bandarlampung.

Namun, rencana itu belum dapat diwujudkan dengan alasan terkendala lokasi. "Di sana itu tidak ada hibah lokasi untuk dibuatkan kembali WC dan tempat pemandian umum, karena lokasi tersebut sangat padat penduduk," kilahnya.

    Maka dari itu, solusi yang ditawarkanya saat ini kepada warga untuk dapat menempati WC dan pemandian umum yang ada sementara waktu sampai adanya hibah lokasi untuk dibangun kembali sarana tersebut.

    "Untuk perbaikan juga belum ada, tapi mungkin lewat musrenbang tahun depan akan kami usulkan," janjinya.

Diketahui, Pemkot Bandarlampung telah menggelontorkan Rp39,5 juta dalam program P2MB pengganti dari PNPM Mandiri yang sudah dihapuskan oleh pemerintah pusat. (goy/p2/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar