Senin, 01 Juni 2015

Harga Pangan Merangkak Naik

Harga Pangan Merangkak Naik


Harga Pangan Merangkak Naik

Posted: 31 May 2015 10:19 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Pemkot Bandarlampung sepertinya harus menentukan langkah antisipasi jelang bulan Ramadan yang tinggal hitungan hari. Sebab, harga bahan pangan di beberapa pasar yang ada di kota ini mulai merangkak naik. Itu terbukti dari pantauan Radar Lampung pada tiga pasar tradisional, yakni Pasar Pasirgintung, Pasar Induk Tamin, dan Pasar Tugu.
Bahan pangan yang mulai merangkak naik itu di antaranya bawang merah, bawang putih, gula, telur, dan kacang tanah.

Seperti di Pasar Pasirgintung. Sugiyono, salah satu pedagang di pasar tersebut, mengatakan, kenaikan bahan pangan sudah terjadi sejak dua hari lalu. Tepatnya pada Jumat (29/5).

Menurutnya, harga kacang tanah Rp21.500 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp20 ribu. Lalu bawang merah dan bawang putih, kenaikan harganya masih fluktuatif. ''Sebab sewaktu-waktu harga bawang berubah. Bahkan dalam satu bulan terjadi perubahan harga sampai tiga kali, dari Rp28,5 ribu menjadi Rp28 ribu dan kini mencapai Rp29 ribu," ujarnya kemarin (31/5).

Senada disampaikan Mulyono, pedagang sayur mayor. Kenaikan harga bahan sayur mayur terjadi pada kol dan cabai rawit. "Tadinya kol hanya Rp4 ribu per kilogram mas, sekarang jadi Rp6 ribu. Alasannya ketersediaan barang yang sulit didapat dari petani. Lalu, cabai rawit yang saat ini diangka Rp20 ribu, ini ada kenaikan Rp2 ribu dari harga sebelumnya Rp18 ribu." katanya.

Sementara Wiwik, pedagang ayam dan telur mengatakan, untuk harga ayam masih stabil Rp20,6 ribu per kilogram. Namun, harga telur ayam ras sudah naik dari Rp19 ribu menjadi Rp21 ribu.

Kenaikan harga bahan pangan juga terjadi di Pasar Induk Tamin. Di sana, Radar bertemu dengan beberapa pedagang. Di antaranya Paidi, penjual kacang tanah dan bawang.

Ia membenarkan ada kenaikan pada kacang tanah, bawang merah, dan bawang putih. Sebab, saat ini ia menjual per kilogram kacang tanah Rp21,5 -Rp24 ribu sedangkan sebelumnya hanya Rp19 ribu. Lalu, pada bawang merah saat ini mencapai Rp35 ribu sedangkan sebelumnya hanya Rp22,5 ribu. "Kalau bawang putih masih tetap Rp18 ribu per kilogram," jelasnya.

Kemudian Pepen, penjual beras, gula, terigu, sagu mengatakan, kenaikan harga pangan sudah mulai terasa dari pekan sebelumnya. "Tapi untuk harga beras masih stabil diangka Rp8-Rp10 ribu," katanya.

Kesetabilan harga beras menurutnya diikuti dengan stabilnya harga terigu yang masih tetap diangka Rp6 ribu. "Untuk gula sudah naik dari Rp10 ribu sekarang menjadi Rp12 ribu per kilogram," kata Pepen.

Sementara, di Pasar Tugu kenaikan harga yang sama pun terjadi di pasar ini. Bahkan pedagang di sana keseluruhanya memprediksi dalam beberapa hari ke depan akan kembali terjadi kenaikan pada beberapa bahan pangan. (goy/c1/whk)


Warga Desak Pemkot Turun Tangan

WARGA Bandarlampung berharap pemkot segera turun tangan mengatasi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Amalia (23), warga Kelurahan Jagabaya II, Kecamatan Wayhalim, mengatakan, bahan-bahan kebutuhan rumah tangga sudah banyak yang mengalami kenaikan.

Di antaranya bawang putih yang saat dibelinya di Pasar Tugu sudah mencapai Rp40 ribu per kilogram. Selain itu, menurutnya, kenaikan harga juga terjadi pada bawang merah, yang kini mencapai Rp38 ribu per kilogramnya.

''Telur juga naik jadi Rp19 ribu dari Rp17 ribu per kilogramnya. Malah kata pedagangnya mau naik lagi Rp20 ribu dalam waktu dekat ini," keluh ibu rumah tangga yang tengah hamil 5 bulan itu.

Menurutnya, kejadian seperti ini memang sudah biasa terjadi menjelang Ramadan, karenanya pemkot harus sudah membahas langkah yang akan ditempuh ke depan.

Senada disampaikan Indah Ristanti (20). Ibu satu anak asal Kecamatan Kemiling ini memiliki usaha kue. Per harinya ia menggunakan telor untuk bahan kuenya sebanyak dua kilogram.

Dengan kenaikan harga telor yang tinggi tersebut membuatnya khawatir. "Jadi mau dijual berapa kue saya kalau begini?" ungkapnya.

Dia berharap, jika pemkot akan menggelar operasi pasar untuk menjual komiditi yang berhubungan dengan bulan Ramadan dan hari Raya Idul Fitri. Seperti telur, beras, tepung, dan bahan pendukung lainnya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bandarlampung Paika berjanji dalam waktu dekat akan menggelar pasar murah di beberapa wilayah kota ini.

Hal ini dimaksudkan agar sebagian komiditas bahan pangan dapat dipenuhi warga dengan harga yang terjangkau. "Ya, tanggal 18-19 Juni lah kami akan gelar pasar murah. Lalu, dilanjutkan di pertengahan bulan puasa dan mendekati lebaran," katanya.

Rencana tersebut menurutnya sedang dalam proses dan sudah dikirim ke wali kota untuk disetujui. "Kami tinggal tunggu suratnya turun saja mas," tukasnya.

Sementara, mulai naiknya harga bahan kebutuhan pokok di Bandarlampung menuai tanggapan dari anggota komisi II DPRD Bandarlampung Nu'man Abdi serta pengamat Ekonomi Lampung Erwin Octaviano dan Asrian Hendi Caya.

Menurut Nu'man Abdi, setiap memasuki hari-hari raya, komoditas perdagangan selalu mengalami kenaikan. Terlebih, Bandarlampung yang memiliki ketergantungan sangat tinggi akan bahan pangan.

Sebab, kota ini bukan daerah asal produksi pangan. Untuk itu, Diskoperindag dapat melakukan monitoring ketersedian bahan pangan tersebut setiap harinya.

"Sehingga warga bisa memastikan bahan pangan aman dan tersedia di pasaran. Jadi tidak semakin sulit mendapatkan bahan pangan tersebut," imbaunya.

Selain itu, kata politisi PDIP ini, harus ada solusi yang diberikan kepada warga saat harga komoditas semakin naik. Yakni, dengan dilakukanya pasar murah.

"Jadi instansi yang ada turun ke pasar-pasar. Cek harga, dan lakukan pasar murah untuk meringankan beban warga," pintanya.

Sementara, Pengamat Ekonomi asal Universitas Bandar Lampung (UBL) Erwin Octaviano mengatakan, memang agak sulit menebak kenaikan saat memasuki bulan puasa.

"Karena kenaikan ini adalah faktor permintaan dari sebuah peristiwa yang permintaan kebutuhan pangan tinggi membuat penawaran harganya pun tinggi," kata dia.

Sehingga dengan permintaan tinggi tersebut suplai barang diharuskan tinggi, meskipun harganya juga tinggi. "Dalam hal ini akan sulit dicegah dan pemerintah belum bisa temukan formulasi yang bagus mengatasinya. Yang bisa dilakukan salah satunya pasar murah," ujar dia.

Dia menjelaskan, di kota ini akan terjadi inflasi paling tinggi selama satu tahun ke belakang ini. "Dan itu ditemukan saat memasuki bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Jadi pemerintah harus perhatikan ini agar masyarakat tidak terlalu berat dalam menerima kenaikan harga barang dan sebagainya," tukasnya.

Senada disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Lampung Asrian Hendi Caya. Ia menilai kenaikan harga bahan pangan tidak bisa di rem. Alasannya, kenaikan harga tersebut terlahir secara alamiah dan otomatis di seluruh Indonesia.

"Tapi memang masih dapat dikendalikan, namun bukan berarti bisa dihentikan. Caranya, bisa untuk operasi pasar murah, agar harga naik tidak berlebihan dan menjamin ketersediaan barang dipasaran," tandasnya. (goy/p2/c1/whk)

Wali Kota Tuntut Ganti Rugi

Posted: 31 May 2015 09:47 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Dugaan pencemaran yang dilakukan PT Sumit Biomas terhadap warga Jl. Pangeran Tirtayasa RT 07, 08, dan 09/Lk. 1 Kampung Gali, Kelurahan Campangraya, Sukabumi, terus dipantau perkembangannya oleh Wali Kota Bandarlampung Herman H.N.

    Mantan kepala Biro Keuangan Pemprov Lampung ini meminta kepada jajarannya yang menangani dugaan pencemaran itu bertindak cepat dan profesional.

    Selain itu, Herman H.N. juga menuntut perusahaan pengolahan cangkang sawit ini memberikan ganti rugi terhadap kerusakan lingkungan yang diduga akibat aktivitas perusahaan tersebut.

''Ya, diganti rugi dong! Kalau rekomendasi yang belum tanyakan kepada warga, apa saja yang harus dibayarkan," ujarnya usai menghadiri ulang tahun Front Pembela Merah Putih (FPMP) Bandarlampung di Kecamatan Kedamaian kemarin (31/5).

Terpisah, Ketua RT 07 Mukhlis Hidayat (38) mengatakan, hingga kemarin, warga dengan manajemen perusahaan belum menemui kata sepakat meski pertemuan sudah berlangsung.

Menurut dia, pihaknya masih menunggu iktikad baik dari manajemen perusahaan hingga tadi malam. "Kalau memang masih belum ada persetujuan, saya berencana mau lapor ke polsek untuk berjaga-jaga sebagai langkah antisipasi. Sebab, saya khawatir warga berdemonstrasi  sampai mem-blokir jalan," katanya.

Sementara General Manager PT Sumit Biomas Harnizal Johar membenarkan jika pihaknya sudah bertemu dengan warga. "Hasilnya kami masih menunggu dari manajemen pusat. Tunggu saja," ujarnya singkat.

Sebelumnya, terkait permasalahan ini, pengamat lingkungan Lampung Prof. Muhammad Akib meminta pemkot untuk menempuh langkah-langkah ke depannya ketika hasil uji laboratorium yang tengah dilakukan menunjukkan PT Sumit Biomas mencemari lingkungan.

Langkah pertama adalah melakukan proses administrasi. Yakni mulai teguran dan sebagainya. Kemudian bisa merujuk pada penghentian sementara aktivitas perusahaan tersebut.

''Jika hasil lab. sudah keluar dan terbukti, operasional PT Sumit Biomas harus dihentikan sementara," ujarnya kepada Radar Lampung, Sabtu (30/5).

Menurutnya, jika hal tersebut tak digubris, maka langkah yang harus ditempuh pemkot selanjutnya adalah mencabut izin perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan sawit itu.

''Kalau urusan pidana kan nanti ada prosedurnya. Tetapi yang pasti prosesnya dari administrasi dulu, baru ke ranah pidana. Namun itu ada prosedur yang harus dilalui," jelasnya.

Dia menambahkan, jika PT Sumit Biomas kooperatif, selama penghentian sementara itu harus melengkapi apa saja yang kurang seperti yang diinginkan pemkot.

"Pemkot bisa membimbing perusahaan itu ke arah yang lebih baik, sebab daerah juga butuh investor demi kemajuan daerah tersebut," pungkasnya.

Diketahui, rapat dengar pendapat (hearing) yang digelar Komisi III DPRD Bandarlampung dengan PT Sumit Biomas dan warga Jl. Pangeran Tirtayasa RT 07, 08, dan 09/Lk. 1 Kampung Gali, Kelurahan Campangraya, Sukabumi, pada Jumat (29/5) mengungkap fakta baru.

Dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan sawit itu juga menguat. Dalam hearing yang dihadiri Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung Hendrawan serta Kabid Pengawasan dan Pengendalian dan Penegakan Hukum BPPLH Bandarlampung Cik Ali Ayub itu, manajemen perusahaan ini mengaku salah.

General Manager (GM) PT Sumit Biomas Harnizal Johar mengakui air limbah perusahaannya sering meluber ke pinggir jalan ketika hujan. ''Tetapi, kami ini kan punya aliran inlet dan outlet. Meskipun saya akui terkadang dari outlet meluber ke jalan raya dengan warnanya yang hitam ketika hujan turun," tuturnya.

Dia juga mengakui posisi gudang perusahaannya lebih tinggi dari perkampungan warga sehingga kebocoran melalui tembok perusahaannya bisa terjadi, yang akhirnya air meresap hingga sumur warga.

"Tapi ini masih prediksi kami, mungkin disebabkan kebocoran di tembok yang kami tidak ketahui. Kami sudah berupaya menutupnya supaya air limbah tidak ada yang mengalir ke belakang perusahaan," akunya.

Namun, terus dia, di luar kemampuannya, bisa saja rembesan air limbah terjadi. "Kami akan berusaha memperbaikinya, maka dari itu kami mohon petunjuk dari semua pihak apa yang harus kami lakukan," paparnya.

    Pada hearing itu, terungkap juga beberapa rekomendasi perjanjian antara manajemen, pemerintah, dan warga sekitar yang tidak dipenuhi perusahaan tersebut sejak berdiri pada 2013.

    Di antaranya,  program corporate social responsibility (CSR) kepada warga, menjaga lingkungan, penghijauan di sekitar lokasi, pemberian air bersih, SOP pengelolaan arang, pengelolan limbah padat, limbah cair, dan limbah berbahan, bahaya, dan beracun (B3), serta menjaga tonase jalan supaya tidak rusak. Lalu, mempekerjakan masyarakat sekitar di perusahaan.

    Dia berjanji, tuntutan yang disampaikan komisi III DPRD Bandarlampung, warga, Walhi, dan BPPLH akan diselesaikan. "Kalau ini sebagai aturan dan tuntutan warga dalam rekomendasi yang diinginkan, kami pasti jalankan. Mohon dukungan dan arahan," pungkasnya. (goy/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar