Kamis, 04 Juni 2015

Astaga, Kartu BPJS Berubah Jadi Kertas HVS

Astaga, Kartu BPJS Berubah Jadi Kertas HVS


Astaga, Kartu BPJS Berubah Jadi Kertas HVS

Posted: 03 Jun 2015 09:28 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan cabang Bandarlampung menuai keluhan warga. Ini terkait kebijakan pemberian kartu BPJS bagi peserta baru. Ya, bagi peserta baru diberikan kartu berbeda dari sebelumnya. Kartu baru BPJS itu hanya di-print di selembar kertas HVS berukuran folio.

Keluhan ini disampaikan Hadi (31), salah seorang peserta BPJS. Warga Kelurahan Gunungterang, Kecamatan Langkapura, ini mengaku kaget saat menerima kartu baru BPJS dari perusahaan tempatnya bekerja.

''Saya bingung, saat menerima kartu BPJS untuk anak saya yang baru lahir, kok hanya di-print dengan selembar kertas HVS," ujarnya.

Dia menilai kartu baru BPJS tersebut sangat rentan rusak. Sebab, kertas untuk kartu BPJS hanya berupa HVS. ''Ya, tidak layak sama sekali kalau seperti ini. Apa iya rumah sakit percaya?" keluhnya.

Senada disampaikan Ranti (22). Warga Kelurahan Rajabasa ini juga mengeluhkan kondisi kertas untuk kartu baru BPJS. ''Masak iya hanya kertas HVS? BPJS kan program negara. Kalau begini kan cepat rusak," tukasnya.

Pernyataan sama dilontarkan Tri (20). Warga Kelurahan Jagabaya ini juga ikut mengeluhkan kartu baru BPJS. "Ya, meskipun katanya nggak apa-apa, tapi melihatnya seperti kartu main-mainan saja kalau seperti ini mah. Masak iya BPJS nggak punya biaya sampai nggak bisa membeli kertas yang layak bagi peserta BPJS," sesalnya.

Terpisah, saat dikonfirmasi, Hubungan Eksternal BPJS Kesehatan cabang Bandarlampung Langga Wira Pratama membenarkan jika kartu baru bagi peserta BPJS hanya di-print menggunakan kertas putih HVS.

Kendati demikian, ia memastikan kartu tersebut sah digunakan di fasilitas kesehatan. "Masyarakat tetap mendapatkan pelayanan sama kok," jaminnya.

Dia menjelaskan, pergantian bahan kartu itu terjadi karena adanya rencana pengalihan ke Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang merupakan program Presiden Joko Widodo.

''Jadi, itu sudah instruksi pusat. Nah, untuk blangko KIS sudah mulai disebarkan. Saat ini baru di Medan, Sumatera Utara. Jadi karena menunggu pengalihan KIS, kartu dibuat demikian. Pastinya pelayanan kesehatannya sama," jaminnya lagi. (gie/p2/c1/whk)

Ayo Seleksi Siaran Televisi!

Posted: 03 Jun 2015 09:27 PM PDT

BANDARLAMPUNG - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Lampung mengimbau warga ikut aktif menyeleksi siaran yang tak layak tonton. KPID meminta agar warga tak segan melapor jika ada siaran televisi atau radio yang seperti itu.

    Hal ini disampaikan Ketua KPID Lampung Tamri beserta sejumlah komisioner KPID lainnya saat bersilaturahmi ke Graha Pena Lampung kemarin. Tamri didampingi Wakil Ketua KPID Febriyanto Ponahan, Komisioner Bidang Kelembagaan Wirdayati, Koordinator Bidang Pengawasan Sri Wahyuni, Agung Wibawa, Koordinator Bidang Perizinan Iqbal Rasyid, dan Komisioner KPID Ahmad Riza.

    Menurut dia, stasiun televisi di Lampung perlu memberikan muatan yang seimbang. Artinya, selain sisi bisnis, stasiun TV juga harus berorientasi pada pendidikan masyarakat. ''Ke depan, kita dukung program pembangunan di Lampung. Ini agar kearifan lokal Lampung dapat terpublikasi sampai tingkat nasional," ujarnya.

    Febriyanto Ponahan menambahkan, saat ini lembaga penyiaran di Lampung belum dapat memenuhi konten lokal sebanyak 10 persen. Ini dikarenakan baik stasiun TV maupun radio terkendala dalam hal biaya.

    ''Masyarakat dapat melaporkan ke call center di 081179005000 atau melalui akun Twitter di @kpidlampung atau melalui akun Facebook di KPID-Lampung jika terdapat siaran televisi yang tidak layak ditonton," imbuh Sri Wahyuni.  

    Redaktur Pelaksana Radar Lampung Taufik Wijaya mengapresiasi langkah yang ditempuh KPID Lampung. Dia juga berharap jalinan kerja sama KPID dengan Radar Lampung semakin baik lagi. ''Semoga komisioner KPID dapat mengemban amanah dengan baik," harapnya. (ben/p1/c1/wdi)

Wow, Kabag Umum Update Status ke Malio Club saat Kunker

Posted: 03 Jun 2015 09:26 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Sejak Selasa (2/6), kondisi ruangan Komisi III dan IV DPRD Bandarlampung sepi. Sebab, penghuninya tengah melakukan kunjungan kerja (kunker) ke luar Lampung, Untuk komisi III, mereka berkunjung ke Jakarta-Tangerang. Sementara komisi IV ke Jakarta dan Kalimantan Timur (Kaltim).

Dalam kunker itu, beberapa PNS di sekretariat DPRD Bandarlampung ikut mendampingi. Salah satunya Kepala Bagian (Kabag) Umum Ellya Saleh yang mendampingi kunker komisi IV.

Namun demikian, Ellya Saleh kemarin menuai sorotan. Hal ini terkait status pada akun Facebook-nya. Ya, kemarin malam, ia meng-update lokasi di Facebook tengah berada di Red Top Hotel Pace Pacenongan Jakarta. Melalui akunnya itu, Ellya menginformasikan tengah bersama seseorang bernama Merry Alita.

Lalu, Ellya kembali mem-posting status lokasi di akun Facebook-nya bahwa ia bersama Merry Lena Erwin sedang berada di Malio Club.

Hasil penelusuran Radar Lampung di http://duniamalam79.blogspot.com/2011/04/dunia-malam-di-malioboro-jakarta-benar.html, Malio Club adalah adult entertainment yang terletak di Jl. Gajah Mada, Jakarta.

Menurut situs tersebut, tempat ini adalah salah satu ''surga dunia" bagi para cowok di Jakarta. Malio Club atau yang bernama Malioboro Club pada lantai dasarnya terdapat spa serta pemandian air panas dan dingin.

Selain itu, di lokasi tersebut terdapat penari-penari striptis di atas panggung pemandian. Dan ketika musik berhenti, cewek-cewek penari striptis tersebut turun ke pemandian dan menari di depan pengunjung dan berstriptis dengan menggunakan tubuh pengunjung menjadi tiangnya.

Pada lantai dua lokasi tersebut memiliki tempat massage dan restauran, di mana tempat tersebut dapat mendengarkan musik jazz sampai ajep-ajep. Lokasi tersebut juga menyuguhkan penari stripis. Lalu, pada lantai tiga dipenuhi kamar yang dapat disewa secara privasi dan lantai empatnya terdapat diskotik.

Saat dikonfirmasi Radar Lampung melalui telepon selularnya kemarin, Ellya membantah jika kemarin malam pergi ke Malio Club. Ellya menyatakan, update status di Facebook-nya hanya bercanda.

"Nggak ada yang dugem, itu ngeledekin si Merry. Jadi cuma main-main," kilahnya.

Dia melanjutkan, kunker yang ia ikuti tersebut dilakukan hingga Sabtu (6/6). "Senin (8/6) sudah kerja kembali kok," pungkasnya.

Terpisah, pengamat kebijakan publik Lampung Dr. Dedi Hermawan dan Dr. Ahmad Suharyo mengkritik etika PNS yang tidak berjalan sesuai koridornya. Bahkan, membuat asumsi publik buruk kepada citra PNS itu sendiri dengan memposting hal yang tak semenstinya di posting.

Dedi Hermawan mengatakan, berbicara postingan sedang berada di salah satu tempat dugem sama halnya berbicara etika yang dimiliki PNS itu sendiri.

"Harapannya PNS kan tetap berjalan di koridor etika dengan menampilkan perannya sesuai tupoksi pada saat mendampingi anggota DPRD kunker," kata dia.

Selain itu, PNS yang mengikuti agenda DPRD tersebut juga diharapkan ada informasi yang baik di akun pribadi media sosialnya. "Jadi bukan hal yang tidak relevan yang diunggah," sesalnya.

Senada disampaikan Ahmad Suharyo. Menurutnya, dari kacamata etika pelayanan publik, postingan Ellya Saleh menunjukkan etika yang tidak baik.

Artinya telah terjadi penyalahgunaan jabatan dan tidak tepat dilakukan oleh seorang abdi negara. Terlebih, mereka yang ikut untuk mendampingi anggota dewan untuk melaksanakan tugas yang dibiayai negara

"Jika prilaku itu benar, maka sangat disayangkan. Karena ketika negara sudah membiayai namun pembiayaan tersebut tidak dimanfaatkan dalam menggali pengalaman yang baik sesuai fungsinya di daerah orang lain," sesalnya. (goy/p2/c1/whk)

Pintu Tol Bandara Disepakati

Posted: 03 Jun 2015 09:25 PM PDT

Kementerian Pilih Desa Haduyang, Natar
BANDARLAMPUNG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengirimkan delegasi ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) kemarin. Tujuannya melobi akses pintu Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Hasilnya tak sia-sia. Pemerintah pusat menyetujui pintu tol untuk Bandara Radin Inten II Lampung Selatan. Nantinya, pengguna JTTS dengan tujuan bandara bisa memanfaatkan pintu keluar itu.

    Salah satu anggota delegasi tersebut, yakni Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Adeham, menyatakan, ada tiga opsi desa untuk lokasi akes pintu tol ke bandara.

    Pemaparan akses tol itu dilakukan kepada Direktur Bina Teknis Pengadaan Jalan Tol Dirjen Bina Barga Kemenpupera RI Subagjo. ''Kami menghadap kementerian dikarenakan rencana tiga titik tersebut bersilangan dengan perpanjangan landasan pacu bandara. Makanya kami konsultasikan ke kementerian," katanya.

    Tiga alternatif pintu keluar jalan tol itu yakni di Desa Branti, Desa Tanjungsari, dan Desa Haduyang, Kecamatan Natar.

    Subagjo pun langsung menanggapi permintaan pemprov. Dia menjelaskan, pihaknya memilih Desa Haduyang sebagai pintu keluar JTTS.

    ''Pertimbangannya, jarak tempuh yang lebih dekat. Kemudian di sekitar lokasi tidak banyak melalui pemukiman penduduk. Nah, artinya hal tersebut mendukung berjalannya ini. Lagi pula akses juga lebih cepat keluar," paparnya.

    Kepala Biro Administrasi Pembangunan Zainal Abidin mengatakan, konsultan perencana akan melakukan kajian teknis ulang. Dna juga nantinya pihak konsultan akan memasang patok tengah pintu tol. "Mengenai masalah ini, kita akan konsultasikan ke konsultan perencana. Nah, nantinya kita kaji ulang kembali. Mudah-mudahan tidak ada kendala lain lagi," kata dia. (abd/p1/c1/wdi)

PT Sumit Biomas Berhenti Beroperasi

Posted: 03 Jun 2015 09:25 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Banyaknya kecaman terhadap PT Sumit Biomas lantaran diduga mencemari lingkungan di Jl. Pangeran Tirtayasa RT 07, 08, dan 09/Lk. 1 Kampung Gali, Kelurahan Campangraya, Sukabumi, membuat perusahaan tersebut memutuskan berhenti beroperasi.

Itu diketahui saat Radar Lampung akan mengonfirmasi manajemen perusahaan pengolahan cangkang sawit tersebut terkait tujuh tuntutan warga kemarin (3/6).

Saat tiba di sana, aktivitas di perusahaan itu tidak seperti biasanya. Selain sepi, perusahaan tersebut juga ditutupi pagar seng berwarna hijau.

    Di pos satuan pengamanan, terdapat dua orang berkaus satpam. Mereka mengatakan, sejak Senin (1/6), perusahaannya memang sudah tidak beroperasi. Bahkan, bahan baku cangkang sawit juga telah dikosongkan.

    ''Katanya hari ini (kemarin, Red) manajemen lagi rapat internal. Tetapi tidak di kantor dan saya kurang tahu di mana tempatnya," ujar pria dengan rambut bergaya tegak yang menolak menyebutkan namanya tersebut.

Saat Radar mencoba menghubungi telepon selular (ponsel) General Manager (GM) PT Sumit Biomas Harnizal Johar, ia tidak menjawab panggilan meski ponselnya dalam kondisi kembali aktif.

Sementara kemarin, warga Jl. Pangeran Tirtayasa RT 07, 08, dan 09/Lk. 1 Kampung Galih, Kelurahan Campangjaya, Sukabumi gagal menyampaikan tujuh tuntutan hasil musyawarah warga terhadap manajemen PT Sumit Biomas.

Ketua RT 07 Mukhlis Hidayat (38) mengatakan, hingga kemarin, warga masih menunggu kesiapan dari perusahaan untuk bertemu. "Ini kami masih menunggu, karena belum dipanggil juga," ujarnya.

    Terpisah, anggota Komisi III DPRD Bandarlampung Yuhadi mengatakan, komisinya akan terus mengawal permasalahan dugaan pencemaran ini hingga tuntas dan terbukti benar atau tidaknya limbah tersebut mencemari sumur-sumur warga.

    "Kami juga akan terus mengawal rekomendasi kesepakatan awal antara perusahaan dengan warga sebanyak 14 butir. Terlebih di bidang pengelolaan limbah dan penanganan limbah produksi dari padat maupun cair," katanya.

    Politisi asal Partai Golkar ini meminta perusahaan dan warga untuk saling terbuka kepada semua pihak atas hasil kesepakatan. Hal ini dimaksud agar semua terang benderang dan tidak ada permainan yang disembunyikan.

    "Terlebih soal limbah, ini kan permasalahan orang banyak. Jangan hanya dijadikan alat oleh orang-orang tertentu saja," ingatnya.

    Senada disampaikan Sekretaris Komisi III DPRD Bandarlampung Muchlas E. Bastari. Dia mengaku, komisinya berencana memanggil ulang PT Sumit Biomas dan akan melakukan sidak ke perusahaan tersebut.

    "Tujuannya agar progress polemik ini juga jelas sampai di mana. Apakah warga sudah menerima hak-nya, dan pengelolaan limbah di sana sudah diperbaiki sebagaimana mestinya," katanya. (goy/p2/c1/whk)

Herman H.N. Berang

Posted: 03 Jun 2015 09:24 PM PDT

Terkait Informasi Adanya Pengusiran Seniman di Pasar Seni
BANDARLAMPUNG – Suasana Pasar Seni, Enggal, sontak menjadi tegang sekitar pukul 16.00 WIB kemarin (3/6). Penyebabnya, Wali Kota Herman H.N. marah besar saat inspeksi mendadak (sidak) di pasar yang berlokasi di pusat Kota Bandarlampung tersebut.

    Tujuan wali kota ke sana untuk membuktikan informasi dari salah satu media mengenai adanya pengusiran seniman di Pasar Seni.

Bahkan saat itu, bukan hanya Herman H.N. yang terlihat berang, tetapi juga Sekretaris Kota (Sekkot) Badri Tamam, Asisten II Bidang Perekonomian Pola Pardede, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Bandarlampung Yus Amri Agus.

Alhasil, kedatangan wali kota dan para pejabat pemkot itu membuat ciut nyali orang-orang yang ada di Pasar Seni.

Terlebih, wali kota dengan nada marah menanyakan beberapa penunggu pondok Pasar Seni. ''Siapa yang diusir? Ngaku?" tanyanya dengan lantang.

Namun, saat itu, para penunggu pondok Pasar Seni yang ditanya wali kota mengaku tidak ada yang merasa diusir. Kepada Herman H.N., mereka menyatakan hanya dipindahkan sementara di pondok lainnya lantaran pondok mereka akan dibersihkan dan di cat dalam rangka menjelang perayaan HUT Kota Bandarlampung ke-333.

"Jadi siapa yang bilang diusir? Mana warga yang bilang? Tolong jelaskan dan tunjuk orangnya!" geramnya.

Kemudian, salah satu penunggu pondok Pasar Seni bernama Andre lantas meminta maaf kepada Herman H.N. "Maaf pak, kami mendapatkan surat pemberitahuan untuk mengosongkan, dan kami bingung mau tinggal di mana? Kami pikir diusir," katanya.

Kemudian Herman H.N. meminta semua warga di sana untuk menempati kembali pondok-pondok di lokasi tersebut. "Ya sudah ditempati lagi dimana tempat tinggalnya selama ini, tidak ada yang diusir!" tandasnya.

Sementara, Kadisbudpar Bandarlampung Yus Amri Agus membenarkan jika pihaknya mengirimkan surat kepada penghuni pondok di Pasar Seni. Isinya surat pemberitahuan untuk dibersihkan sementara dalam rangka menyambut HUT Bandarlampung ke-333. "Jadi bukan pengusiran!" tegasnya. (goy/p2/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar