Senin, 13 Juli 2015

Bandara Embarkasi Terhambat APBDP

Bandara Embarkasi Terhambat APBDP


Bandara Embarkasi Terhambat APBDP

Posted: 12 Jul 2015 10:18 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung, tampaknya, memang ngotot untuk menjadikan Bandara Radin Inten II Lampung Selatan sebagai bandara internasional. Berbagai upaya terus dilakukan demi menjadikan bandara yang ada di Serambi Sumatera tersebut sebagai bandara embarkasi.

    Namun sayangnya, proses pengerjaan pembebasan lahan terhambat. Alasannya, anggaran yang dialokasikan belum bisa dicairkan.

    Asisten I Bidang Pemerintahan Setprov Lampung Tauhidi memaparkan, belum bisa turunnya anggaran tersebut dikarenakan belum adanya rincian yang diajukan.

    ''Karena memang belum terinci apa yang diperlukan yang ada di lapangan. Makanya belum bisa dikerjakan lagi," kata dia.

    Dilanjutkan, diperkirakan kepastian lanjutan pengerjaan pembebasan lahan tersebut baru bisa dilakukan setelah disahkannya APBD perubahan. ''Belum bisa dipastikan. Nah, mungkin bisa bulan ini atau bulan depan," terangnya.

Berdasarkan RUP anggaran untuk pembebasan lahan Branti II adalah Rp 47,05 miliar. Namun demikian, di APBD Perubahan akan ada penambahan. Namun demikian belum bisa dipastikan.

"Belum dapat dipastikan berapa. Setahu saya kemarin di APBDP akan ada penambahan menjadi sekitar Rp50 miliar," kata dia.

Dampak belum turunnya dana ini, berdampak kepada keseluruhan bahkan untuk pengukuran lahannya pun terhambat.

"Kalau kita maunya secepatnya. Jadi kalau sudah disahkan Agustus mendatang kan tidak terlalu lama tinggal sebulan lagi. Sebab yang berhak mengubah anggaran kan itu kewenangannya ada di Dewan,"kata dia.

Sementara itu anggota komisi IV DPRD Lampung Watoni Noerdin mengatakan, seharusnya satuan kerja terkait untuk bisa mempersiapkan rincian apa saja yang dibutuhkan dalam pembebasan lahan Branti II tersebut.

Hal itu dikarenakan, pengejaran target Pemprov di 2017 untuk menjadikan Branti sebagai Bandara Internasional.

"Setidaknya, seharusnya sudah harus dilakukan. Jika masalahnya penyusunan APBD-Perubahan, saya kira itu tidak menjadi persoalan karena sudah dalam pembahasanm" kata dia.

Yang jelas, sambung Politisi PDI Perjuangan ini, jika sudah teranggarkan dan bisa dicairkan, Pemprov harus menyegerakan pengerjaan pembebasan lahan tersebut agar dapat melaksanakan tahapan selanjutnya. (abd/c1/adi)

Tingkat Adopsi Anak di Kota Minim

Posted: 12 Jul 2015 10:16 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Kasus bayi yang ditelantarkan atau dibuang oleh orang tuanya di Kota Bandarlampung cukup banyak. Kasus terbaru adalah penemuan bayi di tempat pembuangan sampah depan pemakaman umum di Jl. Dr. Setiabudi RT 01/Lk. II, Negeri Olok Gading, Telukbetung Barat (TbB), pada Senin (6/7) lalu.

Sayangnya, budaya adopsi anak di warga Bandarlampung masih minim. Padahal, bayi yang dibuang itu sebenarnya masih memiliki peluang untuk mendapatkan hak perlindungan, yakni melalui proses adopsi.    Minimnya budaya mengadopsi anak di kota ini bisa dilihat dari data pengajuan adopsi di Dinas Sosial (Dissos) Bandarlampung dalam kurun tiga tahun terakhir.

Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Dissos Bandarlampung Muzairin Daud mengatakan, untuk 2015 baru ada satu pengajuan adopsi anak. Bahkan untuk data tahun 2013-2014, tidak ada satu pun warga Bandarlampung yang mengajukan untuk mengadopsi anak.

    ''Memang banyak warga yang datang ke sini untuk bertanya bagaimana prosesnya. Tetapi yang kami catat kan hanya mereka yang memberikan pengajuan," katanya.

    Namun, terkadang banyak kasus pengadopsian anak yang terjadi di bawah tangan. Misalnya seperti bayi yang ditelantarkan orang tuanya karena faktor ekonomi, bisa saja orang tua kandungnya itu langsung menjualnya ke pihak lain karena tidak ada biaya untuk merawatnya.

    Bahkan tidak menutup kemungkinan tindakan tersebut dilakukan bidan yang membantu proses persalinan. Karena mengetahui orang tua bayi tidak mampu merawat atau meninggalkan bayi, maka bayi tersebut dijual dengan harga tinggi.

    "Biasanya memang sering terjadi seperti itu, untung saja yang menemukan bayi di Kecamatan TbB waktu itu jujur. Dia mau melaporkan. Coba kalau jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab," jelasnya.

    Mengenai cara pengadopsian anak, dia mengatakan hal itu bukan hal yang mudah. Ada beberapa prosedur yang harus dijalani sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak.

    Pertama, calon orang tua angkat harus melapor ke Dissos terlebih dahulu dengan membawa berkas-berkas yang diperlukan. Upaya ini bisa dilakukan setelah atau sebelum calon orang tua angkat memilih anak adopsi dari yayasan atau panti asuhan.

    "Setelah berkas kami terima, selanjutkan kami akan melakukan survey baik kepada calon orangtua angkat maupun anak yang akan diadopsi," lanjutnya.

    Proses survey itu bertujuan untuk mengetahui latar belakang dan kepribadian calon orangtua. Survey dilakukan di lingkungan keluarga, tetangga dan tempat pekerjaan. Sementara survey calon anak adopsi untuk mengetahui asal usul dan keluarganya terdahulu.

    Setelah itu diajukan ke pengadilan dan menunggu keputusan. Proses dari pengajuan hingga keputusan tidak sama waktunya.  "Ya kalau orangtuanya sibuk, prosesnya bisa lama. Tapi kalau memang benar-benar niat dan selalu mengikuti perkembangan, ya paling 6-12 bulan," imbuhnya.

    Dia melanjutkan hal-hal yang sangat mereka utamakan adalah alasan calon orangtua angkat mengadopsi anak. Sebab pihaknya harus sangat teliti dan hati-hati.

    ''Kami kan maunya anak itu bisa dirawat, jangan malah ditelantarkan, apalagi dijual. Makanya alasan utama calon orang tua angkat haruslah benar-benar karena cinta kasih," tutupnya. (yay/c1/whk)


Penelantaran Bayi Masih Marak

BANDARLAMPUNG – Kasus penelantaran bayi di Kota Bandarlampung cukup mengkhawatirkan. Buktinya, selain kasus penemuan bayi di tempat pembuangan sampah depan pemakaman umum di Jl. Dr. Setiabudi RT 01/Lk. II, Negeri Olok Gading, Telukbetung Barat (TbB), pada Senin (6/7) lalu, ternyata kasus lainnya juga banyak terjadi di bidan-bidan yang membuka praktik.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Bandarlampung dr. Amran kepada Radar Lampung kemarin (12/7). ''Kami memang tidak memiliki data kasus penelantarannya, tetapi memang banyak yang melahirkan di bidan-bidan yang membuka praktik, lalu ditinggalkan oleh orang tuanya," beber dia kemarin.

Amran mengatakan, latar belakang meninggalkan bayi tersebut kebanyakan karena orang tuanya tidak mampu dalam hal ekonomi. Selain itu juga karena faktor hamil di luar nikah.

Namun mengenai proses perawatan bayi yang ditelantarkan tersebut, Amran mengaku tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut, sebab menurutnya hal itu di luar kewenangan instansinya.

    Sementara, Kepala Staf Medis Fungsional (SMF) Obstetri dan Ginekologi (Obgin) Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM) dr. Taufikqurahman Sp.O.G. juga mengakui pernah ada kasus bayi yang tidak diurus orang tuanya pasca melahirkan juga sempat terjadi di tempatnya.

    "Memang pernah tapi sekarang sudah jarang terjadi," ucapnya.

Dia membenarkan jika orangtua yang menelantarkan anaknya lebih karena disebabkan faktor ekonomi. Selain itu juga karena kehamilan di luar nikah. Sehingga mereka mengambil keputusan untuk meninggalkan bayi itu setelah dilahirkan.

Senada, Liskanaria, salah seorang perawat di Rumah Sakit Urip Sumoharjo Bandarlampung mengatakan, masih banyak kasus orang tua yang meninggalkan bayi pasca melahirkan.

    "Iya banyak itu, tapi mungkin sejak adanya program BPJS sudah berkurang, tapi memang ada," ungkapnya.

    Namun, biasanya untuk kasus bayi hasil hubungan di luar pernikahan orang tuanya malu melahirkan di rumah sakit. Sebab nantinya akan dirinci datanya.

    ''Makanya terkadang mereka lebih memilih melahirkan di bidan-bidan yang membuka praktik," pungkasnya. (yay/c1/whk)

Alhamdulillah, Cuaca Kota Bakal Lebih Sejuk

Posted: 12 Jul 2015 10:14 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Kabar gembira bagi warga Bandarlampung. Sebab, cuaca kota ini yang panas dalam beberapa pekan ke belakang diperkirakan berkurang. Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung, Kota Bandarlampung dalam tiga hari ke depan berawan, bahkan berpotensi hujan ringan.

    Informasi ini disampaikan Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Lampung Sugiono kemarin (12/7). Dia menjelaskan, beberapa daerah di Lampung bahkan mulai turun hujan. Seperti di Mesuji, Tanggamus, Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Lampung Selatan.

    ''Intensitasnya ringan ke sedang. Memang tidak besar, tetapi cukup menyejukkan," katanya.

    Sementara untuk di Bandarlampung sendiri berpotensi untuk hujan dengan intensitas rendah. Kendati demikian, Sugiono tidak menyebutkan bahwa dengan turunnya hujan, musim kemarau telah berakhir.

    "Jadi jangan dianggap berakhir ya, harus tetap diwaspadai dampak kemarau panjang yang akan dihadapi nantinya," imbaunya.

Diketahui musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun membuat beberapa satuan kerja (satker) di Pemkot Bandarlampung meningkatkan kewaspadaannya.

Sebab, beberapa penyakit rentan menyerang warga di musim kemarau ini. Di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Bahkan, menurut Kadiskes Bandarlampung dr. Amran, instansinya sudah mendapatkan laporan dari beberapa puskesmas tentang meningkatnya keluhan penyakit ISPA yang menyerang warga.

''Memang selama kemarau, penyakit ISPA yang paling umum. Kami juga sudah mendapatkan laporan keluhan penyakit ini dari puskesmas," ujarnya, Sabtu (11/7).

Dia melanjutkan, terkait kekurangan persediaan air juga dapat memicu munculnya penyakit diare. Penyebabnya karena sumber-sumber air selain PDAM akan mengering. Sehingga pada saat berair pun yang muncul airnya berpotensi tercemar.

Selain itu potensi munculnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) juga patut diwaspadai. Sebab munculnya DBD tidak lagi secara periodik, namun saat ini bisa terjadi sepanjang tahun.

"Biasanya kan demam berdarah muncul April-Oktober, tapi sekarang ini bisa muncul sepanjang tahun. Jadi harus harus diwaspadai," imbaunya.

Menurut dia, cara antisipasinya cukup mudah. Masyarakat hanya perlu menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat.Contohnya seperti mencuci tangan sebelum makan.

"Di samping itu kami juga punya petugas yang melakukan penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Kemudian gerakan Jumat bersih. Ya jangan sampai ada kejadian dulu baru turun," jelasnya. (yay/p5/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar