Rabu, 11 Desember 2013

Tunggu Hasil Scanning Saskia

Tunggu Hasil Scanning Saskia


Tunggu Hasil Scanning Saskia

Posted: 10 Dec 2013 10:46 PM PST

BANDARLAMPUNG – Hingga kemarin, kapan kepastian operasi terhadap Saskia, bayi berusia 3 bulan penderita aspes (bisul) di kepalanya, belum diketahui. Tim medis Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM) juga belum melakukan scanning ulang terhadap warga Kelurahan Langkapura, Kecamatan Kemiling, Bandarlampung, tersebut.

Dokter ahli bedah saraf Agung Sulistio mengatakan, langkah scanning terhadap buah hati pasangan Lihin dan Desi itu akan dilakukan setelah pihaknya mendapat konfirmasi dari bagian radiologi.

''Nah untuk langkah medis ke depannya yang dilakukan terhadap pasien, kami juga menunggu dari hasil scanning," ujarnya kemarin.

Berdasarkan hasil catatan medis sementara, kata dr. Agung, kejang terhadap Saskia berkurang. Nanahnya juga keluar sendiri. ''Untuk nanah di dalam tengkorak pasien juga belum kami ketahui. Saat ini kami hanya merawat luka dan memberi obat antibiotik," terangnya.

Sementara Desi, ibu Saskia, mengaku khawatir dengan rencana operasi terhadap buah hatinya. Sebab, benjolan di kepalanya tepat berada di ubun-ubun.

''Ya, tidak apa-apa meski Saskia belum dioperasi. Saya juga ngeri kalau cepat-cepat, karena ini kan tepat di otaknya. Saya takut berbahaya," tutur Desi.

Namun, dia mengaku akan mengikuti apa pun yang terbaik menurut dokter. ''Saya juga kembali mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang memperhatikan keselamatan Saskia. Semoga dibalas Tuhan dengan pahala dan rezeki yang berlimpah," ungkapnya. (fbi/p2/c1/whk)

Dari Pementasan di Teater Satu Taman Budaya Lampung

Posted: 10 Dec 2013 10:44 PM PST

Susila, Sebuah Sindiran Untuk Negeri Bernama Indonesia
Inilah lakon yang menggambarkan upaya monopoli kebenaran moral. Di sebuah zaman, ketika undang-undang susila ditegakkan, yang bayang-bayangnya seperti sudah bisa dirasakan. Ya, sebuah zaman yang menyeramkan, tetapi juga penuh kekonyolan.

Laporan Ari Suryanto, BANDARLAMPUNG

ACARA tayuban sedang berlangsung di pinggiran kota. Para penari asyik bergoyang, bergerak dengan sensual sehingga mengundang gairah para lelaki yang ikut berjoget.

Suasana begitu meriah dan bergairah. Orang-orang yang gembira ikut menari dan berteriak-teriak mengiringi goyangan para penari.

Kemudian muncul seorang lelaki bertubuh tambun dan berkaus putih lusuh. Dialah Susila. Di pundaknya terlihat pikulan berisi dagangannya yang terdiri bermacam mainan anak-anak. Ada mobil-mobilan, wayang, balon, kitiran, dan lainnya.

Ya, begitulah gambaran awal pementasan teater bertema Sidang Susila dalam rangkaian panggung perempuan yang digelar Teater Satu Taman Budaya Lampung kemarin.

Datang dari Provinsi Bengkulu, Putri Nefriyanti bersama enam temannya sukses menghibur puluhan penonton. Meski sedikit dibumbui adegan 17 tahun ke atas, mereka yang tergabung dalam kelompok Teater Kedai Proses itu berhasil menyampaikan pesan sisi buruknya peradilan di negeri ini.

Ya, penggambaran cerita tersebut mulai merangkak masuk alur cerita kala Susila, yang tak sengaja melintas, ikut menari di bawah iringan musik.

Tubuhnya yang tambun terlihat erotis, tetapi juga lucu ketika menari. Gerakan tarinya komikal dan mengundang tawa. Seperti mengkhayalkan hal-hal yang erotis, Susilo terus asyik menari.

Namun mendadak terjadi kepanikan. Muncul beberapa ''polisi moral" yang langsung mengobrak-abrik tayuban itu. Susila yang bertubuh tambun terlihat kaget, bingung, dan hanya melongo memandangi itu semua. Ia ingin ikut lari juga, tetapi tubuhnya yang tambun tak bisa membuatnya bergerak cepat.

Dua polisi moral langsung mengepung Susila yang hanya bisa  mengangkat tangan kebingungan. Dia hanya bisa pasrah ketika para polisi moral itu meringkusnya dengan jaring yang ditelungkupkan ke tubuhnya.

''Lho, ada apa ini? Ada apa? Waduh," ucap Susila yang terlihat kebingungan lantaran tidak tahu dengan apa yang terjadi itu.

Bak mendapat tangkapan besar, para polisi moral itu langsung menyeret dan menggelandang Susila. Petugas juga turut membawa dagangan Susila yang dianggap dapat dijadikan barang bukti. ''Waduh, daganganku. Daganganku…," kata Susila yang tampak pasrah.

Perlahan lampu meredup. Hanya terdengar teriakan dan lolongan Susila mengingatkan pada situasi yang penuh kekerasan. Sayup-sayup suara Susila makin lemah dan menghilang.

Memecah kesunyian, sebuh tampilan LCD memperlihatkan Ibu Jaksa penuh gaya memberi keterangan pers di hadapan wartawan yang mengerubunginya. Ya, ini adalah tampilan lain kala sebuah undang-undang susila berhasil dilahirkan di negara ini.

''Tepat pukul kosong-kosong lebih kosong-kosong, undang-undang susila telah ditetapkan secara sah dan meyakinkan. Dengan berlakunya undang-undang ini, maka secara resmi dan konstitusional kita telah menjadi bangsa yang bermoral," ucapnya kepada para wartawan.

Di kesempatan itu, ia pun menerangkan sudah mulai menggelar razia moral. ''Alhamdulillah, kami telah berhasil menangkap seorang penjahat moral. Secara terang-terangan melakukan tindakan pornografi dan pornoaksi," ujar Ibu Jaksa kala menjelaskan penangkapan terhadap Susila.

Para wartawan terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan. ''Detailnya nanti saya informasikan setelah penyidikan. Tetapi yang jelas, orang ini adalah penjahat moral pertama yang berhasil kami amankan," katanya.

Perlahan beralih ke sudut pandang lain, cahaya menerangi Susila yang sudah berada dalam sel. Luasannya hanya 1 x 1 meter dengan terdapat sebuah kloset di ruangan supersempit tersebut. Susila sedang duduk terkantuk-kantuk di kloset itu sambil mengeden mengeluarkan olahan perutnya. Posisi duduknya mengingatkan kita pada pose patung The Thinker Augusto Rodin.

Di dalam sel, Susila kentut begitu keras. Terdengar seperti suara orang terserang mencret, dan dia sampai menutup hidung tak tahan dengan bau kotorannya sendiri.

Ia tampak kebingungan dan tak mengerti kenapa berada di sel itu. Ia berusaha tiduran, tetapi kerepotan karena tempat tidur tersebut begitu kecil dan sempit untuk tubuhnya yang tambun. Kemudian ia bangkit, mengambil gelas seng yang tergeletak di pojok. Melihat isi gelas itu, lalu menenggaknya.

Tetapi rupanya gelas itu sudah kosong. Ia terlihat berpikir sejenak, lalu tersenyum seperti memperoleh ide cemerlang. Susila pun segera meludah berkali-kali ke dalam gelas itu, lalu menenggaknya. ''Lumayan," ucapnya.

Sampai tiba-tiba muncul dua petugas mengacungkan senjata ke arah Susila. Melihat itu, Susila langsung mundur ke belakang, kaget, sampai gelas yang dipegangnya jatuh. Susila beringsut hendak mengambil gelasnya. Melihat Susila bergerak, dua petugas itu langsung mundur, seperti berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu Susila menyerang.

Singkat cerita, muncul hakim, jaksa dan pembela. Pada adegan ini, blocking pembela selalu berada di belakang, seakan tak ingin ketahuan. Terutama, pembela selalu menjaga jarak dengan sel di mana Susila terkurung.

''Maaf, kami datang mendadak," ujar sang hakim seraya menyerahkan koran kepada petugas kepala yang segera membacanya.     Melalui koran tersebut, sang hakim menjelaskan bahwa mereka berkejaran dengan waktu. Kasus ini menjadi headline semua media. Semua mendesak agar persidangan dilaksanakan secepatnya.

Wajar bila pembela menjauhkan diri dari Susila. Ternyata, dia masih keponakan Susila. Maklum, dalam pembelaan tidak boleh ada sangkutan persaudaraan.

''Sudah! Pakde dengerin saja apa yang saya katakan. Nanti di persidangan, saya yang jadi pembela Pakde. Tetapi nanti Pakde harus pura-pura tidak kenal saya. Jangan sampai orang-orang tahu kalau kita masih ada hubungan darah," tuturnya.

Dijelaskan, si pembela, jika ia ketahuan famili Susila, akan dicap tidak bersih lingkungan. Ia pun tidak bisa membela Susila yang tak lain Pakdenya.

Keesokan hari, hakim membuka sidang. Suasana mencekam. Susila muncul dikawal seorang petugas dengan senapan siap ditembakkan. Kemunculannya mengingatkan pada penjahat psikopat yang sadis, di mana kaki dan tangan Susila dirantai, sementara kepala dan wajahnya ditutup dengan ikatan dari kulit warna hitam.

Melihat Susila diperlakukan seperti itu, Pembela langsung memprotes keras. ''Maaf Bapak Hakim, apa ini tidak terlalu berlebihan?! Klien saya bukan psikopat. Dia bukan sejenis Sumanto soloensis, yang suka memakan daging manusia. Klien saya sama sekali tidak membahayakan," ucapnya keras di hadapan sidang.

Jaksa pun memotongnya. ''Saya hanya ingin menegaskan. Yang kita lawan adalah kejahatan pikiran. Inilah orang yang lebih berbahaya daripada ide komunisme," katanya.

Suasana terus menegang lantaran perdebatan jaksa dan pembela. Melihat jaksa dan pembela makin keras bertengkar, hakim kembali mengetok palu sidang, memotong!

''Mohon petugas melepas kepala pesakitan. Maksud saya, melepas tutup kepala pesakitan," ucap sang hakim yang kala itu mempertimbangkan keinginan pembela.

Seorang petugas segera membawa masuk barang dagangan Susila. Melihat itu, Susila langsung bangkit, dan dengan riang menghambur ke arah dagangannya, seperti menyambut kekasih yang dirindukannya. Semua langsung beringsut mundur menghindari Susila. Sementara, Susila terus memeluk dan menciumi mainan-dagangan itu.

Ternyata, dagangan itu justru membawa petaka baginya. Meski hanya terlihat mainan biasa. Hakim dan jaksa menganggapnya sebagai hal bersimpangan dengan susila. Sebuah balon tak ubahnya dianggap mereka buah dada. ''Itu melanggar undang-undang susila!" ucap jaksa menunjuk barang bukti.

Sidang pun ditunda tanpa ada hasil. Di situ muncul pikiran  busuk hakim. Ia menginstruksikan kepada jaksa harus membuat Susila menyerah. Dengan harapan, Susila mau mengaku salah.

Hakim dan jaksa pun mendekati pembela untuk mengajaknya makan siang, namun pembela menolaknya. Ternyata, saat itu hakim dan jaksa berupaya membuat pembela mengalah dalam persidangan. Tetapi, pembela pun keras menolaknya.

Namun setelah lama berunding, jaksa menemukan cara lain. Jaksa bersikap mesra pada pembela, dan pembela seperti tak berdaya menolak pelukan mesra itu. Terjadi perbincangan antraa keduanya.

Tak lama pembela pergi. Jaksa memandangi kepergian pembela dengan tatapan penuh mesra. Jaksa mengulurkan tangan, semacam isyarat penuh godaan. Ternyata, dahulu mereka adalah sepasang kekasih.

Pascapembela pergi, giliran hakim mendekati jaksa. Meraih tangannya, mencium telapak tangan jaksa dengan lembut. Kemudian hakim membimbing jaksa dengan mesra. Keduanya berjalan ke satu sudut, di mana kemudian keduanya menjadi bayangan.

Mereka berpelukan, bergairah dan bercumbu. Hakim tampak mengikat kedua tangan jaksa terlentang. Kemudian dengan penuh gairah mencambuki tubuh jaksa dengan penuh birahi.

Ternyata, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu jaksa dengan pembela, di benak jaksa. Ia pun dengan asyik menikmati hubungan intimnya dengan sang hakim.

Selang beberapa hari, hakim, jaksa dan pembela muncul terburu-buru. Hakim langsung menuju meja sidang dan langsung mengetokkan palu berkali-kali. Tapi, hari itu Susila sengaja tidak dihadirkan. Hanya sebuah kloset yang sehari-hari dipakai Susila.

Suasana sidang kala itu berubah 360 derajat. Apa yang dikatakan pembela justru menyusutkan Susila. Jaksa dan pembela seperti saling berlomba melontarkan kata-kata yang justru menyudutkan Susila.

Lampu perlahan lahan mengarah dan fokus pada kloset itu. Bersamaan itu, suara jaksa dan pembela yang terus melontarkan kata-kata cercaan ke arah Susila. Ya, kloset tersebut diandaikan sebagai Susila.

''Sidang Susila dengan ini memutuskan bahwa pesakitan akan menerima hukuman seberat-beratnya," ucap sang hakim yang memutuskan Susila bersalah.

Tepuk tangan pun bermunculan pertanda pementasan selesai. Ya, itulah cerita yang hendak ditampilkan tentang buruknya peradilan yang disusupi oleh tindak asusila.

''Intinya, negara ini harus bersih dari tindak asusila. Baik itu di lingkungan masyarakat maupun persidangan. Jangan ada korban untuk hal yang seharusnya tidak terjadi," ujar Putri, sang sutradara yang kala itu berperan sebagai jaksa. (p2/c1/whk)

Fly Over Gajah Mada Diresmikan dengan Pesta Kembang Api

Posted: 10 Dec 2013 10:40 PM PST

BANDARLAMPUNG – Kabar gembira bagi warga Bandarlampung. Sebab dalam hitungan hari, fly over Jl. Gajah Mada-Jl. Ir. Djuanda rencananya diresmikan. Ya, Pemkot Bandarlampung berencana meresmikan fly over yang dibangun sejak Februari 2013 itu pada malam pergantian tahun 2014.

Informasi tersebut disampaikan Sekretaris Kota Bandarlampung Badri Tamam kemarin. Menurutnya, peresmian fly over sepanjang 600 meter itu dilakukan dengan mengadakan pesta kembang api di tempat tersebut.

Selain akan ada kemeriahan kembang api, pihaknya juga berencana mendatangkan artis-artis lokal untuk menambah kemeriahan di malam tahun baru sebagai momentum pergantian tahun.

Badri mengungkapkan, pihaknya berharap kehadiran masyarakat dalam peresmian fly over yang dibangun oleh PT Waskita Subanus dengan anggaran sekitar Rp60 miliar tersebut.

''Perayaannya memang dilaksanakan untuk masyarakat, jadi peresmiannya terbuka untuk umum. Kami sudah langsung bicarakan ini ke Pak Wali. Mudah-mudahan beliau hadir untuk meresmikan fly over tersebut," harapnya.

Dia menjelaskan, fly over Jl. Gajah Mada-Jl. Ir. Djuanda adalah yang terpanjang di Kota Bandarlampung. Saat ini, progres pengerjaan pembangunannya sudah mencapai 97 persen. ''Mudah-mudahan di akhir tahun pengerjaannya selesai sehingga bisa langsung diresmikan," ungkapnya.

Mantan sekretaris KPU Lampung itu menambahkan, saat ini pengembang sedang melakukan pengecoran tiang-tiang standar di fly over tersebut dan akan selesai di akhir tahun.

''Pokoknya, malam tahun baru kita resmikan fly over tersebut. Bersamaan dengan itu, fungsi fly over ini sudah bisa digunakan," pungkasnya. (yud/p2/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar