Selasa, 04 Maret 2014

RSUDAM Baru Bayar Separuh

RSUDAM Baru Bayar Separuh


RSUDAM Baru Bayar Separuh

Posted: 04 Mar 2014 05:38 AM PST

BANDARLAMPUNG – Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM) dr. Reihana akhirnya buka suara terkait polemik utang RS pelat merah tersebut dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Bandarlampung.

Setelah sebelumnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menyatakan akan mencairkan klaim RSUDAM hari ini (4/3), kemarin (3/3) Reihana menyatakan bakal membayarkan sebagian utang mereka ke PMI hari ini juga.

''Ya, tadi (kemarin, Red) saya sudah perintahkan staf untuk membayarkan klaim yang masuk dari PMI. Jadi saya yakin besok (hari ini) PMI sudah mendapat pembayaran sebagian klaim yang mereka masukkan ke kami. Tetapi baru bisa 50 persen dahulu," ujarnya saat ditemui di Pemprov Lampung kemarin.

Sayang, 50 persen pembayaran yang dimaksud Reihana tersebut bukan 50 persen dari total klaim PMI sejak November 2013 lalu. Ya, pencairan hanya dilakukan untuk klaim PMI pada Januari 2014.

''Yang kami dapat baru pencairan BPJS. Jadi, kami pun hanya bisa bayar yang Januari dahulu. Kenapa harus 50 persen dahulu, itu karena BPJS baru bayarkan klaim kami 50 persen," aku Reihana.

Dia menerangkan, kalau dirupiahkan, 50 persen klaim yang dibayarkan dari BPJS sekitar Rp4 miliar. ''Cukup banyak pengeluaran yang harus kami bayarkan. Untuk bayar jasa-jasa TKS (tenaga kerja sukarela) dan segala macam," katanya yang mengaku belum mendapat kabar dari BPJS bahwa hari ini ada pencairan klaim RSUDAM lagi.

Diketahui, BPJS Bandarlampung menyatakan akan mencairkan klaim RSUDAM hari ini. Artinya, RSUDAM pun tidak lagi punya alasan menunda pembayaran klaim terhadap kantor cabang PMI Bandarlampung. Sehingga, PMI bisa menjalankan manajemen operasional lembaganya.

    ''Saya sudah dapat laporan dari tim verifikator hasil evaluasi selesai malam ini (Minggu malam, Red). Senin (3/3) tinggal urusan pemberkasan dan Selasa (4/3) klaim pembayaran RSUDAM sudah bisa cair seratus persen," terang Kepala Kantor BPJS Bandarlampung dr. Johana kepada Radar Lampung, Minggu (2/3).

    Sementara, Kepala Unit Transfusi Darah Cabang (UTDC) PMI Bandarlampung dr. Aditya M. Biomed berharap dengan pencairan tersebut, klaim PMI yang diusulkan kepada RSUDAM pun segera terbayarkan.

    ''Harapannya, PMI menjadi prioritas dalam penggunaan biaya klaim yang bakal didapat RSUDAM. Kami tidak mau hal buruk seperti kehilangan seluruh rekanan kantong darah terjadi," ujarnya.

Aditya memaparkan, utang PMI Bandarlampung lebih besar dari perkiraan awal sebesar Rp306 juta. Jika dikalkukasikan dalam kurun tiga bulan terakhir, utang PMI Bandarlampung sudah menembus angka Rp1 miliar.

Dia menuturkan, jumlah tersebut muncul dari kalkulasi selama tiga bulan ke belakang. Sebab tidak sebatas pada Januari 2014, pemasukan biaya pengganti pengelolaan darah (BPPD) dari klaim RSUDAM pun belum masuk terhitung November tahun lalu.

''Total tiga bulan kita belum memdapat klaim BPPD dari RSUDAM. Kalau yang Januari karena tertundanya klaim dari BPJS. Sementara, November dan Desember 2014 karena RSUDAM mengaku belum mendapat pembayaran klaim jamkesmas dari Kemenkes (Kementerian Kesehatan)," paparnya.

Masalah pun tidak hanya mengancam persediaan kantong darah. Melainkan mulai merambat ke persediaan reagen PMI. Beruntung, pihaknya memiliki sedikit persediaan reagen atau bahan yang dipakai dalam reaksi kimia. Sebab, untuk reagen, pemesanan bisa dilakukan buat kebutuhan selama tiga bulan.

''Yang kami takutkan, kalau masalah molornya pembayaran terus berlangsung, bisa-bisa kami juga tidak bisa membeli reagen lagi, sama seperti nasib kantong darah," tukasnya. (sur/p5/c1/whk)

Perbaikan Talut Tunggu Anggaran

Posted: 04 Mar 2014 05:37 AM PST

BANDARLAMPUNG – Warga RT 03/Lk. I Kelurahan Kalibalau Kencana, Kecamatan Kedamaian, resah. Sebab hingga kemarin, talut sepanjang 20 meter yang jebol pada Sabtu (1/3) malam akibat hujan deras belum diperbaiki. Sementara dengan adanya talut yang cukup kokoh saja, mereka tetap kebanjiran. Apalagi jika talut tersebut roboh. Terlebih, kemungkinan banjir bandang kembali terjadi cukup besar. Mengingat saat ini hujan masih sering terjadi, bahkan secara tiba-tiba.

    Seperti yang diungkapkan Lilik (59), warga setempat. Ia mengharapkan Pemkot Bandarlampung segera memperbaiki talut yang rusak dan membuatnya lebih kokoh serta tinggi. Sehingga talut tersebut dapat melindungi warga di pinggiran sungai.

    ''Banjir malam itu memang tidak seberapa parah dibandingkan yang terjadi pada Agustus 2013 atau 2008 lalu. Namun lumayan juga untuk membuat rumah kami berantakan. Banjirnya merendam rumah sampai ketinggian 80 sentimeter," ceritanya.

    Pria yang berprofesi sebagai penjahit gorden ini mengatakan, jika hujan sudah mulai turun, anaknya sudah memperingatkan agar ia segera meninggalkan rumah dan mengungsi.

    Menurut Lilik, ia telah tinggal di daerah tersebut selama tujuh tahun. ''Dahulu kalau banjir tidak separah saat ini. Sekarang saya buat dua lantai, tetapi lantai atas cuma untuk peralatan jahit saja agar tidak terendam," katanya.

    Pantauan Radar Lampung kemarin, sisa-sisa banjir masih terlihat. Sampah berserakan di lahan kosong pinggir sungai. Tanah pun masih becek. Lalu lumpur-lumpur yang terbawa banjir pun masih mengotori rumah warga.

    Terlihat talut yang roboh. Kemudian sekitar empat meter talut tersebut amblas, tanah yang menopang talut terbawa air sungai saat banjir terjadi. Padahal, talut ini telah dibangun cukup tinggi, lebih dari tiga meter. Namun karena aliran sungai yang cukup deras dari arah Wayhalim, membuat talut tak mampu bertahan.

    Sementara, menurut Wali Kota Herman H.N., perbaikan segera dilakukan. Namun menunggu pencairan anggaran. Sebab, anggaran yang digunakan merupakan anggaran daerah sehingga ada proses terlebih dahulu.

    ''Kita tidak bisa asal gunakan dananya. Perlu ada pengajuan, lalu diproses untuk dicairkan. Tetapi, saya akan perintahkan untuk sesegera mungkin perbaikan talut dilakukan," katanya. (eka/p5/c1/whk)

Rapat Usulan Plt. Sekprov Ditunda

Posted: 04 Mar 2014 05:37 AM PST

Tiga Nama Masuk Bursa
BANDARLAMPUNG – Jabatan sekretaris Provinsi Lampung hingga kemarin masih gelap. Seharusnya rapat pengisian jabatan pelaksana tugas (Plt.) Sekprov digelar kemarin. Namun, rapat terpaksa ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.

Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. lebih memilih melakukan pertemuan dengan KPU Lampung di ruang kerjanya. "Sampai sekarang belum ada nama pasti terkait Plt. Sekprov. Pak Gubernur tidak jadi melakukan rapat itu," kata Asisten I Bidang Pemerintahan Setprov Lampung Fitter Syahboedin saat ditemui usai keluar dari ruang kerja gubernur kemarin.

Sekarang ini, lanjut dia, gubernur masih mempercayai tugas Sekprov kepada empat asisten yang ada. "Penetapan Plt. Sekprov ini kan terkait dengan tugas-tugas Sekprov itu sendiri. Untuk sekarang ini, Pak Gubernur memilih memperkuat fungsi asisten yang harus berjalan maksimal," ujarnya.

Didesak siapa nama yang menjadi pembicaraan gubernur terhadap kalangan PNS golongan IV/d, ia pun mengaku sama sekali tidak mengetahuinya. "Kalau saya nggak bisa mengatakan itu. Ini masih rahasia pimpinan. Alhamdulillah, sekarang ini semua tugas Sekprov telah dibagi habis oleh empat asisten yang ada," ungkapnya.

Belakangan, terdapat tiga nama santer yang diisukan bakal menggantikan Berlian Tihang. Menurut informasi yang diterima Radar Lampung, ketiganya adalah Fitter Syahboedin, Asisten II Setprov Lampung Arinal Djunaidi, dan Kepala Badan Diklat Lampung Zaini Nurman.

Menanggapi hal itu, Fitter pun mengaku siap bila memang ditunjuk gubernur mengisi jabatan Plt. Sekprov. "Pada hakikatnya, kita dari awal bekerja harus siap ditunjuk pimpinan sebagai apa pun. Jadi kalau memang saya diminta menjadi Plt. Sekprov sekali pun, ya saya harus siap," katanya.

Hingga kini, ujar dia, semua pihak masih menunggu kebijakan gubernur untuk menunjuk siapa pengganti Berlian. "Kalau modelnya pencalonan gubernur, ya saya daftar," ungkapnya setengah berseloroh.

Sebelumnya, Sjachroedin Z.P. menyatakan akan melakukan pembahasan Plt. Sekprov kemarin (3/3) pagi. "Tunggu saja Senin (3/3). Saya mau rapat untuk menetapkan siapa pengisi jabatan Sekprov Lampung," kata Sjachroedin Z.P.

Sayangnya, lagi-lagi dia belum mau mengatakan siapa nama pengganti Berlian. "Kan baru mau dirapatkan. Pokoknya pangkat IV/d. Saya liat dahulu mana yang senior dan berpengalaman," ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai penggantian Berlian sebenarnya belum begitu mendesak. Pihaknya menyatakan masih sanggup mengambil alih posisi itu.

"Jadi sebenarnya kalau pengganti Sekprov itu bisa nantilah. Sekarang ini juga belum mendesak. Jabatan Sekprov belum terlalu penting karena selama ini Sekprov bisa dibantu empat asistennya. Sekprov kan hanya mengoordinasi. Jadi tidak ada Sekprov, bukan masalah yang aneh," ucapnya.

Terlepas dari pernyataan itu, menurutnya, siapa nama yang akan menjadi pengganti Sekprov harus berdasarkan penilaian bersama. Salah satunya dengan melihat kinerja dan kedisiplinan. "Untuk menjadi gubernur, bupati, dan wali kota bisa saja 'ketoprak'. Sementara untuk Sekprov tidak sembarang. Harus yang berpengalaman di bidang pemerintahan," ungkapnya. (sur/p2/c2/wdi)

Eksekutif Sibuk, Pengesahan Raperda Usul Inisiatif Molor

Posted: 04 Mar 2014 05:36 AM PST

BANDARLAMPUNG – Pekerjaan rumah DPRD Bandarlampung cukup banyak. Selain belum menyelesaikan rancangan peraturan daerah (raperda) yang ada di produk legislasi daerah (prolegda), ada raperda inisiatif 2013 yang hingga kini belum disahkan.

Menurut Ketua Badan Legislasi (Banleg) DPRD Bandalampung Wahyu Lesmono, pihaknya sebelumnya berencana membahas dan mengesahkan enam raperda usul inisiatif pada akhir Januari 2014. Namun selain terkendala waktu, pihaknya belum bisa menyelesaikan atau mengesahkannya karena padatnya agenda eksekutif.

Wahyu mengaku pihaknya sebelumnya giat melakukan pembahasan atau hearing dengan eksekutif atau sejumlah satker dalam pembahasan enam raperda usul inisiatif ini.

''Sebelumnya, kami terus melakukan pembahasan dan hearing. Namun karena pihak eksekutif banyak kegiatan, pengesahannya belum kita lakukan, ditunda. Dan minggu-minggu ini kita bahas lagi. Insya Allah secepatnya kita sahkan menjadi perda. Pokoknya sebelum masa jabatan kami berakhir, diupayakan untuk disahkan," janji dia.

Enam raperda tersebut yakni raperda tentang nama-nama jalan di wilayah Bandarlampung, raperda tentang perubahan Perda Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha, raperda tentang perizinan daerah. Kemudian raperda tentang pengelolaan sampah, raperda tentang perlindungan anak, dan raperda tentang tata kelola usaha perikanan dan hasil olahan ikan.

''Karena enam raperda tersebut pembahasannya sudah dalam tahap finishing (penyelesaian), kita akan mempercepat," ujarnya.

Anggota Komisi C DPRD Bandarlampung ini menambahkan, dari enam raperda tersebut, ada dua yang memang menjadi tanggung jawab banleg. Yakni  raperda tentang nama-nama jalan di wilayah Bandarlampung dan raperda tentang perubahan Perda Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha. (eka/p5/c1/whk)

Bandarlampung Terendah Nasional

Posted: 04 Mar 2014 05:34 AM PST

BANDARLAMPUNG – Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat Bandarlampung mengalami laju inflasi pada Februari 2014 mencapai 0,02 persen. Angka itu menempatkan kota ini terendah senasional. Komoditas pertama yang memberi andil terjadinya inflasi atau kenaikan harga konsumen adalah kelompik perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar dengan sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,13 persen.

Disusul kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,03 persen; kelompok kesehatan 0,03 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,03 persen.

Sementara kelompok bahan makanan memberikan deflasi sebesar 0,20 persen. Sedangkan kelompok sandang serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan tidak memberikan andil.

Kepala BPS Lampung Adhi Wiriana mengatakan, dari 82 kota yang diamati perkembangan harganya, ada 55 kota yang mengalami inflasi dan 27 kota deflasi.

    ''Untuk inflasi terendah ada di Kota Bandarlampung dan Probolinggo sebesar 0,02 persen. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Pontianak sebesar 2,73 persen," katanya.

Adhi melanjutkan, dari perhitungan inflasi tahun kalender (point to point) pada 2014 sebesar 0,76 persen atau lebih rendah dibandingkan 2011 sebesar 0,70 persen dan 2013 (0,73 persen), tetapi lebih tinggi dibanding 2012 (-0,11 persen).

Sementara inflasi year on year (yoy) sebesar 6,36 persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding 2011 yang 10,49 persen, namun lebih tinggi dibanding 2012 (3,21 persen) dan 2013 (5,56 persen).

Menurut dia, inflasi juga berlaku fluktuatif, di mana pada Januari hingga Maret ini pemenuhan akan kebutuhan makanan pokok masih stabil karena suplai cenderung membaik.

''Nah, saat ini Bandarlampung dalam masa panen sehingga kelompok bahan makanan tidak mengalami perubahan indeks," ucapnya.

Meski begitu, terus dia, dari perhitungan indeks harga konsumen (IHK), inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks pada kelompik kesehatan yang naik 0,64 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,47 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga naik 0,46 persen. Lalu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik 0,16 persen; kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan naik 0,03 persen; serta kelompok sandang naik 0,01 persen.

''Sementara beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi di antaranya pasir, beras, cat kayu/cat besi, genting, tarif dokter spesialis, buah pir, pecel (lontong), udang basah, surat kabar harian, dan ikan mas segar," papar Adhi. (red/p5/c1/whk)

Jangan Buang Orgil ke Bandarlampung!

Posted: 04 Mar 2014 05:33 AM PST

BANDARLAMPUNG – Maraknya keberadaan orang gila (orgil) serta gelandangan dan pengemis (gepeng) di Bandarlampung membuat gerah Dinas Sosial (Dissos) setempat. Terlebih, keberadaan mereka sejak beberapa tahun terakhir ini diketahui berasal dari daerah lain. ''Kami minta tolong kepada siapa pun, jangan buang orang gila ke kota ini! Kami sulit melakukan penertiban karena tidak punya tempat untuk menampung," ujar Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dissos Bandarlampung Muzahirin Daud kemarin.

Dia mengatakan, hingga kini tempat rehabilitasi orgil dan gepeng belum bisa disediakan Pemkot Bandarlampung. Menurutnya, saat ini hanya Pemprov Lampung yang memiliki rumah sakit jiwa di Desa Kurungannyawa, Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran.

Dia menjelaskan, di Bandarlampung baru ada tempat penampungan rehabilitasi swasta. Tetapi daya tampungnya sedikit, belum bisa menerima tampungan baru. Pemkot tengah berupaya agar Pemprov Lampung dapat mencarikan solusi terkait permasalahan ini.

''Kami juga meminta Dissos kabupaten dan kota lainnya untuk duduk bersama dalam rangka membuat tempat penampungan atau merenovasi RSJ Kurungannyawa agar lebih luas. Sehingga bisa menampung orang gila lebih banyak. Jadi jangan asal main buang ke sini!" tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Polisi Pamong Praja (Banpol PP) Bandarlampung Cik Raden mengatakan, timnya beberapa hari lalu mengamankan tujuh gepeng dan orgil.

''Ada yang tertangkap oleh kami saat orgil itu baru beberapa saat dibuang dari dalam kendaraan. Kami pergoki pekan lalu, malam hari, di Jl. Raden Intan, Tanjungkarang Pusat," bebernya.

Sementara dari pantauan Radar Lampung, masih terdapat orgil yang berkeliaran di kota ini. Seperti yang terlihat di Stadion Pahoman. Orgil tersebut berjenis kelamin laki-laki, serta berkaus dan bercelana pendek hitam. Pakaiannya compang-camping dengan rambut gimbal tak terawat. Ia berjalan tanpa alas kaki.

Menurut Susanti, salah satu pedagang di Stadion Pahoman, sebelumnya tidak ada orgil di daerah tersebut. ''Tidak pernah ada kok orgil. Baru kali ini saja terlihat," kata perempuan yang berjualan minuman itu.

Terpisah, anggota Komisi D DPRD Bandarlampung Dolly Sandra mengatakan, pemkot harus bersikap tegas jika memang keberadaan orgil di Bandarlampung berasal dari daerah lain.

''Problem kota-kota besar memang seputar orgil, anjal, dan gepeng. Kalau memang itu berasal dari wilayah lain, ya tegas, berikan teguran kepada daerah yang telah membuangnya ke kota ini. Kalau dibiarkan, ya kita sendiri nanti yang repot," katanya. (eka/p5/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar