Selasa, 20 Mei 2014

Inspektorat Harus Turun

Inspektorat Harus Turun


Inspektorat Harus Turun

Posted: 20 May 2014 09:49 AM PDT

BANDARLAMPUNG – Dugaan honorer tak memenuhi syarat namun diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Pemkab Tanggamus dan Bandarlampung di luar kewenangan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lampung. Proses penyeleksian dan lainnya murni ditangani BKD masing-masing daerah dan langsung berhubungan dengan Badan Kepegawaian Nasional (BKN).

    ''Ya, itu urusan kabupaten/kota masing-masing. Kami tidak bisa campur tangan. Kalau dugaannya honorer Pemprov Lampung, baru bisa bertindak,'' ujar Kepala BKD Lampung Sudarno Eddi kemarin (19/5).

    Dia menjelaskan, jika memang terdapat dugaan demikian, sebaiknya inspektorat masing-masing kabupaten/kota menindaklanjutinya. ''Jika memang terbukti dugaan tersebut, untuk gagal atau menggugurkan, mereka yang memutuskan,'' katanya.

    Sudarno menjelaskan, jika terjadi demikian pihak yang bertanggung jawab sesuai dengan aturan yang ada adalah kepala daerah. Menurutnya, pada Februari lalu, BKN telah mengeluarkan surat edaran No. K.26-30/V.23-4/99 tentang Penetapan Nomor Induk PNS dari tenaga honorer kategori II formasi 2013 dan 2014, yang ditujukan kepada semua pejabat pembina kepegawaian pusat, provinsi, kabupaten/kota.

    ''Dalam surat edaran tersebut berisi beberapa lampiran, dalam lampiran I terdapat surat pernyataan tanggung jawab mutlak pejabat pembina kepegawaian. Di dalam surat ini kepala daerah membuat pernyataan dan menandatanganinya di atas meterai  Rp6.000,'' urainya.

    Di dalam surat tersebut jelas tertulis bahwa kepala daerah menjamin kebenaran dan bertanggung jawab atas data tenaga honorer yang namanya tersebut di atas, telah sesuai dengan persyaratan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lalu jika kemudian ditemukan adanya data tenaga honorer tersebut tidak benar, kepala daerah siap bertanggung jawab dan diberikan sanksi baik secara administratif maupun pidana.

    ''Jelas dalam surat tersebut, kalau honorer itu datanya tidak benar, seperti yang ditemukan Radar Lampung, ya kepala daerahnya yang harus bertanggung jawab. Kemudian juga yang berkaitan, tenaga honorer yang bersangkutan, serta atasannya dalam hal ini kepala dinasnya, karena kepala dinasnya sebagai atasan tenaga honorer itu bekerja juga wajib membuat surat pernyataan yang isinya serupa dengan surat tadi,'' papar mantan sekretaris Bandarlampung ini.

Tugaskan Irban II

Sementara, indikasi adanya honorer K2 tak memenuhi syarat tapi diangkat menjadi CPNS  di Tanggamus ditanggapi serius Inspektorat setempat.

Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Inspektur Firman Ranie telah menugaskan Irban II agar mempelajari kasus ini.

Melalui pesan singkat yang dikirimkan ke Radar Lampung, Firman Ranie mengatakan, dalam menindaklanjuti indikasi kecurangan itu Inspektorat akan berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian dan Diklat serta camat Semaka.  

''Jika nantinya dari hasil tindak lanjut tersebut ditemukan ada indikasi ke arah pemalsuan data, maka permasalahan ini akan ditingkatkan ke pemeriksaan khusus (riksus),'' tulis Firman yang mengaku tengah mengikuti Diklat PPIM II di Jakarta.

Terpisah, Kepala BKD Tanggamus Jonsen Vanisa mengharapkan, Sukri Rais anggota tim Komite anti korupsi ( KoAk ) Tanggamus dapat menyampaikan laporan secara resmi seputar adanya indikasi honorer K2 yang tak memenuhi syarat tersebut ke kantor BKD atau ke Inspektorat.

''Ini penting agar ada saksi pelapor dalam permasalahan ini. Dan kami BKD dapat melimpahkan persoalan ini ke inspektorat untuk diperiksa, karena yang berwenang memeriksa adalah Inspektorat,'' kata Jonsen.  

Jika tidak ada saksi pelapor, lanjut dia, BKD akan kesulitan dalam melimpahkan persoalan ini ke Inspektorat. ''Untuk itu diharapkan, Sukri Rais dapat segera melapor secara resmi ke BKD, supaya permasalahan ini bisa segera ditindak lanjuti. Sebab, belum ada yang melapor secara resmi atas adanya indikasi pelanggaran di dalam rekrutmen honorer K2,'' tuturnya.

    Diketahui, berdasarkan penelusuran Radar Lampung, ada tiga guru honorer K2 lolos menjadi CPNS. Ketiganya yakni Dewi Apriliani yang bertugas di SDN 1 Sudimoro serta Andi Hakim Suryatama dan Yuhana yang bertugas di SDN 3 Sukaraja.

    Namun, pengangkatan ketiganya menyisakan pertanyaan. Sebab sesuai Surat Edaran (SE) Menpan-RB No. 5/2005 tentang Pendataan Tenaga Honorer, syarat masa kerja honorer sudah ditetapkan. Yakni, honorer yang berhak menjadi CPNS adalah honorer K1 maupun K2 yang bertugas sejak Januari 2005.

    Hasil penelusuran Radar, ketiganya pada 2005 belum bertugas. Seperti Dewi yang diketahui baru bertugas pada 2007, Andi Hakim 2009, dan Yuhana 2006.

    Saat dikonfirmasi, Sukirman, kepala SDN 1 Sudimoro, membenarkan Dewi lolos CPNS dari jalur K2. Selain Dewi, lanjut dia, satu guru lagi di SD itu yang lolos CPNS yakni Ngatino.

    ''Ada tiga yang diajukan. Tetapi, satu orang atas nama Samsudin tidak lolos," ungkap Sukirman saat ditemui di sekolahnya.

    Sepengetahuannya, Dewi menjadi tenaga honorer sejak 2007. Namun, ia mengaku tak tahu kapan persisnya Dewi jadi guru honorer. ''Saya nggak tahu dia (Dewi, Red) dari kapan di sini (honorer di SDN 1 Sudimoro). Sepengetahuan saya, dia di sekolah ini sejak tahun 2007," ujarnya.

    Radar sempat berusaha mengonfirmasi Dewi perihal ini. Namun sejak Kamis hingga Jumat (9–10/5), Dewi tak pernah ke sekolah. Diketahui, ia tengah berada di rumah kerabatnya di Metro.

    Sukirman mengaku, kabar tak sedap soal Dewi sudah berembus sejak beberapa pekan lalu. Bahkan, dirinya sudah didatangi oleh empat orang yang mengaku dari sebuah LSM Koalisi Antikorupsi (KoAk). ''Mereka juga menanyakan hal yang sama. Makanya, saya nggak heran pas Mas datang nanya masalah ini," katanya.

    Radar juga menelusuri informasi terkait Andi Hakim Suryatama dan Yuhana. Menurut sumber koran ini di SDN 3 Sukaraja, Andi dan Yuhana baru bertugas pada 2009 dan 2006. Guru yang sudah bertugas sejak 2004 ini mengaku tak pernah melihat mereka sebelumnya.

    ''Saya yakin seyakin-yakinnya kalau mereka berdua itu di tahun 2005 nggak ada. Makanya saya heran kok mereka lolos jadi CPNS K2," ungkapnya.

    Masih menurut dia, syarat CNPS K2 adalah mengajukan beberapa berkas. Salah satunya pembagian tugas dan slip gaji karena gaji honorer berasal dari dana bantuan operasional sekolah (BOS). ''Nah, mereka berdua tidak melampirkan slip  gaji di tahun 2005, makanya saya yakin mereka tidak memenuhi syarat lolos menjadi K2," ujarnya.

    Di SDN 3 Sukaraja, ada empat guru yang mengajukan CPNS K2. Selain keduanya, ada Amirudin dan Winarti. ''Kalau Winarti memang tak memenuhi syarat karena baru masuk 2007. Sementara kalau Amirudin saya nggak tahu kenapa nggak lolos. Padahal, dia masuk dari 2004," tuturnya.

    Dugaan adanya CPNS siluman juga sempat mengemuka di Bandarlampung beberapa waktu sebelumnya. Dari informasi yang diterima Radar, ada tiga pegawai honorer yang tak memenuhi syarat, tetapi diangkat jadi CPNS.

    Ketiganya yakni Indra Bermawi dengan nomor tes 597243010187, Irawan M. dengan nomor tes 597243010205, dan Fery Wirawan dengan nomor tes 597243010232. Ketiga pegawai tersebut bekerja di Kecamatan Tanjungkarang Timur (TkT), Bandarlampung. Untuk Fery Wirawan ditugaskan di Kelurahan Sawahbrebes.

    ''Indra Bermawi disebut-sebut tidak pernah masuk kerja, tetapi absensi selalu ada. Sedangkan SK (surat keputusan)-nya baru dibuat pada tahun 2013 lalu," kata sumber Radar yang menolak disebutkan identitasnya.

    Sedangkan Irawan M. dan Fery Wirawan, kata sumber itu lagi, baru masuk pada tahun 2012 sebagai tenaga kontrak dan bukan berstatus tenaga honorer K2, SK dibuat mundur, serta absen tidak dari tahun 2005.

    Saat dikonfirmasi, ketiganya kompak membantah. Fery Wirawan mengaku sudah lama bekerja di kelurahan itu, yakni sejak 2005. Tepat bulan Januari 2011 pindah ke kecamatan dan bulan September kembali ke Kelurahan Sawahbrebes.

    ''Saya dari tahun 2005 kerjanya. Waktu itu namanya TKS (tenaga kerja sukarela). Dan tahun 2011, saya dikontrak. SK saya nggak mundur kok," ungkapnya saat ditemui di Kelurahan Sawahbrebes, Rabu (19/2).

Hal senada diungkapkan Irwan Ia meyakini lolosnya dirinya sebagai CPNS murni tanpa ada permainan. ''Saya tes murni kok, nggak ada main duit. Saya ini jadi honorer sambil bekerja sebagai sales," ucapnya.(eka/ehl/p5/c3/whk)

Terapkan Pendidikan Karakter Seutuhnya!

Posted: 20 May 2014 09:47 AM PDT

BANDARLAMPUNG – Pada 20 Mei 1908 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Hari itu menjadi salah satu momentum perjalanan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Peristiwa tersebut juga menumbuhkan semangat kebangsaan dan nasionalisme serta persatuan dan kesatuan.

Namun, momentum ini sudah lama berlalu, rasa nasionalisme kini terus memudar, serta tergerus dengan modernisasi dan hegemoni negara luar. Karenanya, harus ada upaya untuk mengingat momentum itu kembali.

''Ya, ibarat manusia, kita ini sudah pikun. Kita sudah jauh dari momentum itu. Jadi harus ada upaya untuk mengingatnya kembali,'' ujar Dosen Mata Kuliah Kewarganegaraan Universitas Lampung (Unila) Syahrio Tantalo kepada Radar Lampung kemarin (19/5).

Upaya tersebut, terus dia, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tapi juga semua elemen bangsa terutama organisasi-organisasi kepemudaan.

''Bangsa Indonesia saat ini sudah kehilangan karakter. Lihat saja sekarang, banyak orang pintar tapi tak berkarakter. Karena itu, harus ada pembenahan SDM (sumber daya manusia),'' jelasnya.

Menurut dia, pemerintah saat ini sudah mulai menyadari bahwa bangsa Indonesia kehilangan karakternya. Itu terlihat dari upaya Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dengan mulai menerapkan pendidikan karakter di sekolah-sekolah.

Dia menjelaskan, ada 18 nilai dari pendidikan karakter. Di antaranya, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, dan rasa ingin tahu.

Kemudian semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan dan sosial, serta tanggung jawab.

''Dengan menerapkan pendidikan karakter seutuhnya, diharapkan degradasi moral yang terjadi di bangsa kita saat ini bisa teratasi. Sebab, nilai-nilai itu yang sudah ditanamkan kepada pelajar dan mahasiswa,'' harap dia.

    Pada kesempatan kemarin, pembantu dekan III Fakultas Pertanian Unila itu juga berharap ke pemerintah untuk tidak menyatukan pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan. Sebab, ia menambahkan, keduanya harus diajarkan secara terpisah.

    ''Diharapkan peserta didik akan lebih mengerti apa itu makna Pancasila dan kewarganegaraan, jika pemberian pelajarannya diberikan terpisah. Saya juga berharap, pemerintah kembali mengkaji penambahan jam-jam mata pelajaran maupun kuliah yang bisa membangkitkan rasa nasionalisme di kalangan pelajar maupun mahasiswa. Contohnya Pancasila yang sangat sedikit sekali waktunya untuk diberikan ke pelajar dan mahasiswa,'' sarannya. (whk/p5/c3/whk)

 

Ayo Bangkit, Lawan Hegemoni

Posted: 20 May 2014 09:41 AM PDT

BANDARLAMPUNG – Sorot matanya masih berapi-api ketika berbicara tentang nasionalisme, sangat bertolak belakang dengan kulit di wajahnya yang hampir seluruhnya mengeriput. Sesekali, di wajah pria kelahiran 1932 itu juga tergambar raut wajah kecewa saat berbicara nasionalisme di zaman kini. Ya, dia adalah Ki Agus H. Cek Mat Zen.

Kemarin (19/5), Radar Lampung memang sengaja menemui salah satu pelaku sejarah Lampung itu di rumahnya, Jl. W.R. Supratman, Telukbetung Utara, untuk mewawancarai mengenai makna kebangkitan nasional.

Dengan semangat, Cek Mat – sapaan Ki Agus H. Cek Mat Zen– menceritakan tingginya rasa nasionalisme pada zaman mudanya jika dibandingkan sekarang.

Menurutnya, generasi saat ini tidak mencerminkan manusia yang memiliki rasa nasionalisme tinggi. ''Jika melihat saat ini, saya pikir di generasi yang sekarang rasa nasionalisme terhadap suatu negara itu nol,'' nilainya.

Dia melanjutkan, tidak seperti semasa muda dulu, didasari ilmu pengetahuan dan keagamaannya yang kuat belajar dari Taman Siswa (Tamsis), ia dididik dengan doktrin nasionalisme yang sangat kuat.

''Saat itu benar-benar diajarkan tentang bagaimana memperjuangkan mengusir penjajah,'' jelasnya.

Dia juga menceritakan bagaimana kekompakan organisasi kepemudaan yang dahulu pernah dirasakan. ''Tamsis berdiri pada 1934, dan di belakangnya banyak yang mengikuti, namun walaupun beberapa dari organisasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, namun pada saat itu benar-benar dalam satu visi yakni memperjuangkan nasib bangsa ini,'' paparnya.

Tidak seperti kebanyakan organisasi saat ini yang hanya berorientasikan kepada uang saja. ''Saya sekarang sudah malas untuk berorganisasi karena ujung pangkalnya hanya proposal dan uang,'' kata dia.

Menurutnya, hal seperti itu merupakan salah satu contoh kebobrokan yang ada di kalangan pemuda saat ini. Dia menganggap kebobrokan ini dilandasi tidak adanya satuan pendidikan yang mengajarkan tentang apa itu budi pekerti.

''Itu sangat penting membangun moral kita di masyarakat. Saya kira dengan tertanamnya hal ini di hati setiap orang, saya yakin benar-benar akan membuat rasa cinta kita terhadap tanah air tempat asal kita bisa tumbuh. karena memang itu adalah hal yang paling mendasar,'' terangnya.

Sementara, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bandarlampung Fauzan Sibron memandang kebangkitan nasional adalah momentum yang bisa dilakukan pemuda untuk meningkatkan nasionalisme.

Bukannya malah terbuai dengan hegemoni negara luar yang melunturkan rasa nasionalisme. ''Pemuda harus berani memegang peranan penting. Ayo bangkit!'' kata dia.

Dia memaparkan, yang menjadi persoalan saat ini adalah krisis mental para pemuda yang bisa dilihat dari KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang sudah membudaya di Indonesia. ''Ini sangat miris, hal tersebut sudah membudaya di seluruh lapisan masyarakat,'' terangnya

Menurutnya, ada beberapa faktor  yang bisa memengaruhi turunnya rasa nasionalisme yakni pengaruh globalisasi. ''Globalisasi boleh saja masuk, namun kita tidak boleh terpaku terhadap hal tersebut,'' katanya

Seorang pemuda harus bisa mengeluarkan ide-ide kreatif, di mana mungkin salah satu dari ide mereka itu bisa membantu pergerakan yang positif dari suatu bangsa.

''Di sini pemuda benar-benar harus berani maju demi perubahan yang ada, dan saya pikir itu sudah menunjukkan salah satu rasa nasionalisme,'' ungkapnya.(abd/whk)

 

Dua Suspect MERS-CoV Diobservasi

Posted: 20 May 2014 09:39 AM PDT

BANDARLAMPUNG – Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung masih merawat dua orang suspect MERS-CoV (middle east respiratory syndrome corona virus). Dua pasien yang berasal dari Lampung Tengah dan Lampung Timur itu masih menunggu hasil diagnosis.

Karena itu, keduanya masih diobservasi di ruang isolasi RSUDAM. Dua pasien yang berjenis kelamin pria dan wanita ini ditempatkan dalam satu kamar khusus. Pihak RSUDAM rencananya mengeluarkan hasil tes diagnosis keduanya hari ini (20/5).

"Tadi pagi sudah kami tanya ke Dinas Kesehatan (Diskes) Lampung. Tapi, kata mereka belum keluar. Kemungkinan besok (hari ini, 20/5) hasilnya keluar," ujar petugas RSUDAM, dr. Nina Marlina, Sp.P., kemarin.

Menurut Nina, kedua pasien yang masih diobservasi sekarang ini hanya mengalami batuk kecil. Suhu tubuh keduanya juga sudah normal, tak lagi demam tinggi. ''Tinggal batuk-batuk sedikit. Untuk flu atau demam sudah tidak. Kami berharap hasilnya negatif," ucapnya.

Hingga kemarin, RSUDAM total sudah merawat empat pasien suspect MERS-CoV. Satu pasien wanita asal Bandarlampung hasil tesnya negatif. Dia sudah diperbolehkan pulang pada Kamis (15/5). Sementara satu pasien asal Kota Metro memaksakan diri untuk pulang pada Minggu (18/5). ''Seluruh pasien suspect menderita sakit setelah pulang dari Arab Saudi. Nah, pasien pria dari Kota Metro ini memaksa pulang. Padahal, dokter belum mengizinkan. Jadi, kita tak tahu hasil diagnosisnya," kata Nina.

Menurut Nina, pihak RSUDAM juga telah menyiapkan langkah antisipasi bertambahnya pasien suspect MERS-CoV. Pasien suspect yang tak demam tinggi kemungkinan tak akan dirawat di ruang isolasi. Mengingat ada keterbatasan tempat rawat di ruang isolasi. ''Hanya ada empat tempat tidur di ruang isolasi. Tapi, bagi pasien yang merasa demam tinggi tetap akan dirawat di ruang isolasi," katanya.

Selain RSUDAM, menurut Nina, ada dua tempat lainnya yang juga menampung pasien suspect MERS-CoV. Yakni di RSUD Ahmad Yani Kota Metro dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. ''Tapi, kalau untuk melakukan pengetesan dilakukan di Jakarta. Hasilnya, Diskes yang menerima dan diumumkan oleh rumah sakit," ungkapnya. (fbi/p1/c2/wdi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar