Sabtu, 27 Desember 2014

Rumah Terendam, Warga Tidur Tanpa Kasur

Rumah Terendam, Warga Tidur Tanpa Kasur


Rumah Terendam, Warga Tidur Tanpa Kasur

Posted: 26 Dec 2014 09:08 PM PST

Belasan KK Mengungsi
BANDARLAMPUNG – Pemkot Bandarlampung sepertinya harus segera mencari solusi terhadap musibah banjir yang terjadi di kota ini. Terlebih, dampak banjir kini meluas. Jika pada Senin (22/12) ratusan rumah di Kecamatan Kemiling dan Rajabasa dihantam banjir, kali ini giliran rumah warga Kampung Ganefo RT 10/Lk. 1, Kelurahan Waylaga, Sukabumi, yang terendam.
Bahkan, banjir yang terjadi pada Kamis (25/12) malam di wilayah ini cukup parah. Rata-rata ketinggian air mencapai 5-6 meter. Alhasil, puluhan warga mengungsi lantaran rumahnya terendam.

Bahkan pantauan Radar Lampung kemarin (26/12), sebagian rumah di sana masih terendam air setinggi 70 sentimeter. Terlihat ada sebagian warga yang juga membersihkan rumahnya dan menyelamatkan barang-barang yang sebelumnya terendam.

Maswar (40), warga setempat, mengatakan, hujan yang mengguyur wilayahnya pada Kamis (25/12) sejak pukul 17.00 WIB membuat banjir. Menurutnya, banjir memang kerap terjadi di wilayahnya, namun ini merupakan banjir terbesar.

Bahkan, meski pihaknya telah mengantisipasi dan membuat tingkatan lebih tinggi untuk menyimpan barang di langit-langit rumah tetap saja masih terendam.

"Saya sudah coba memindahkan barang-barang di atas, karena sering terjadi banjir. Eh, ternyata banjir kali ini sampai menenggelamkan rumah. Ya, basah semua, hingga barang-barang elektronik rusak semua," ungkapnya.

Maswar juga mengaku bingung karena surat-surat terkait kepemilikan rumah dan buku-buku sekolah anaknya rusak. "Banjirnya sangat cepat menenggelamkan rumah kami, sehingga satupun barang tidak ada yang bisa diselamatkan," keluhnya.

Maswar mengungkapkan, kini ia bersama lima anggota keluarganya mengungsi di rumah tetangga yang posisinya lebih tinggi. "Kami berharap agar ada bantuan dari pemerintah. Karena selain kerugian materi, kemungkinan air surut lama, sehingga kami membutuhkan tempat untuk mengungsi dan memenuhui kebutuhan sehari-hari," ungkapnya.

Dia juga mengharapkan pemerintah melakukan normalisasi kali sehingga tidak terus terjadi banjir. "Jadi tidak hanya pejabat itu datang sekadar melihat kondisi kami, kemudian lantas pulang tanpa ada yang membantu kami," harapnya.

Senada disampaikan Pulung (42), warga lainnya. Menurut dia, kediamannya terkena dampak paling parah sebab posisinya berada paling bawah dan tidak jauh dari kali penampungan dari kali Kampung Gunungsinar, Kali Keroy, Kelurahan Way Laga, Sukabumi.

"Untuk sementara waktu ini, kami mengungsi di rumah kakak saya di Jati Rahayu, Campangraya hingga air benar-benar surut," ucapnya.

Terpisah, Paiman salah satu tokoh masyarakat di wilayah tersebut mengatakan, banjir di wilayahnya tersebut memang kerap terjadi saat hujan datang. Namun, biasanya tidak separah tahun ini.

"Biasanya hanya 30-50 sentimeter, tidak sampai enam meter ketinggiannya seperti sekarang," terangnya.

Dia mengkhawatirkan, jika terjadi hujan susulan, wilayahnya kembali terendam. "Untuk itu, kita berharap ada solusi agar kali di sini dinormalisasikan. Karena penyebabanya air tidak mengalir mas, gorong-gorong tertimbun tanah dan letaknya sangat dalam sekali. Jadi kalau tidak menggunakan alat berat, sulit untuk dilakukan dengan tenaga tradisional," ungkapnya.

Sementara, Lurah Waylaga Dumta membenarkan jika wilayahnya ada yang terkana banjir dan terparah di Kampung Ganefo. "Di Kampung Krui, Gunungsinar juga ada beberapa rumah terendam. Tapi yang terparah di Kampung Ganefo. Kan gorong-gorongya tersumbat, jadi air tidak mengalir lancar," ungkapnya.

Selian itu, lanjut Dumta, daerah tersebut merupakan dataran rendah yang rawan banjir. "Memang tahun ini paling parah Mas, mungkin ada efek pembangunan lahan dari perusahaan setempat. Untuk itu kita akan menyurati mereka," kata dia.

Dumta mengaku sudah menginformasikan musbah tersebut ke ajudan Wali Kota Bandarlampung Herman H.N. dan ke kantor Dinas Sosial Bandarlampung.

"Saya juga menginformasikan kepada Camat Sukabumi M. Yudhi. Untuk diketahui, kantor kelurahan juga dalam setahun ini, sudah 5 kali kebanjiran, meskipun tidak terlalu parah," paparnya.

Terpisah, Kepala Bidang Tanggap Bencana dan Kesiapsiagaan BPBD Bandarlampung Wisnu mengatakan, penanganan banjir sementara dilakukan dengan menggunakan peralatan yang dimiliki BPBD seperti alat sedot air.

Namun, untuk logistik BPBD tidak memberikan lantaran terkendala anggaran. Selain itu, untuk penanganan tanggul ataupun gorong-gorong yang jebol pihak BPBD telah bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk menginvetarisir daerah yang mengalami kerusakan parah tanggul maupun gorong-gorong.

Wisnu menambahkan, banjir juga terjadi di Kelurahan Way Dadi, Sukarame namun tidak terlalu besar dan lokasi banjir tersebut merupakan daerah sekitar persawahan.

"Selain banjir, pada pukul 14.00 WIB terjadi pohon tumbang di Jl. Slametriyadi 4, Kelurahan Bumiraya, Kecamatan Bumiwaras," pungkasnya.

Terpisah, warga Jl Kepayang, Rajabasa Pemuka, Rajabasa mengharapkan adanya bantuan dari Pemkot Bandarlampung.

Seperti yang diungkapkan Marni, salah seorang warga RT 5 Lk. II Rajabasa Pemuka, Rajabasa. Dia mengatakan, sebelumnya ada yang mneginformasikan jika warga yang kediamannya kebanjiran akan mendapatkan bantuan, namun bantuan tersebut tidak kunjung tiba.

"Sampai hari ini (kemarin, Red) masih nggak ada bantuan apapun. Padahal bilangnya ada, sudah di data tapi datanya buat apa?" tanyanya.

Wiwin, warga lainnya, juga berharap sama. Diungkapkan, ia dan warga lainnya tidur dengan alas seadanya lantaran kasur yang mereka miliki basah.

''Kasur kami nggak bisa dipakai, basah semua. Barang-barang elektronik kami juga terendam. Mungkin itu nggak ada nilainya di mata kalian, tetapi itu barang berharga yang kami punya," tuturnya. (red/p5/c1/whk)

Kawal Liburan, Banpol PP Turunkan 400 Personel

Posted: 26 Dec 2014 09:08 PM PST

BANDARLAMPUNG – Meski pemerintah menetapkan kemarin (26/12) sebagai cuti bersama, ratusan personel Badan Polisi Pamong Praja (Banpol PP) Bandarlampung tetap bekerja. Mereka bertugas menjaga kantor-kantor pemerintahan. Seperti di Pemkot Bandarlampung kemarin, terlihat beberapa anggota Banpol PP berjaga di pos penjagaan.

Personel Banpol PP Wedita Priswana (30) mengatakan, pekerjaan menjaga kantor pemerintahan memang sudah menjadi tanggung jawabnya meski di hari libur.

''Ini namanya tugas Mas. Yang penting jalaninnya ikhlas saja. Insya Allah jalaninnya juga enak," kata dia.

Senada disampaikan personel Banpol PP lainnya, Eko Ferdian (32). Menurutnya, di saat orang-orang tengah pergi berlibur, ia masih bekerja seperti biasa.

''Kita semua ada 6 peleton. Satu peletonnya terdiri 30 orang, jadi per harinya mencapai 180 orang untuk berjaga-jaga di seputaran Bandarlampung," katanya.

Sementara, Kepala Banpol PP Cik Raden mengatakan, meskipun dalam kondisi cuti bersama dan libur nasional, pihaknya menurunkan 400 personel untuk membantu keamanan di Bandarlampung serta dua mobil patroli.

Lokasi-lokasi yang dijaga di antaranya Tugu Pengantin di Jl. Ahmad Yani dengan dibekali 1 mobil truk dan berisikan 30 personel Banpol PP. Lalu, di Tugu Adipura dengan dilengkapi 1 mobil truk Banpol PP.

Selanjutnya, Pasar Bambu Kuning, Ramayana, Masjid Al-Furqon dan Tugu Raden Intan Rajabasa serta sepanjang Jl. Zainal Abidin Pagar Alam.

Selain itu, pihaknya juga menerjunkan masing-masing 10 personel untuk menjaga kantor-kantor dinas dan DPRD  Bandarlampung.

Hal ini dimaksudkan Cik Raden agar suasana liburan berjalan kondusif tanpa ada tindak kejahatan. "Kita berupaya untuk menjaga keamanan dimasa liburan. Termasuk DPRD dan kantor dinas karena mereka aset kita," terangnya.

Bahkan, imbuh dia, di Masjid Al-Furqon pihaknya menerjunkan 20 personel hingga pagi hari. "Tujuannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terulang kembali di Masjid Al-Furqon," pungkasnya. (cw12/p5/c1/whk)

Kebut Target Sejuta Ton Padi

Posted: 26 Dec 2014 09:07 PM PST

BANDARLAMPUNG – Sejuta ton per tahun. Itulah target produksi padi di Lampung yang dicanangkan pemprov. Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Provinsi (Setprov) Lampung Farizal mengatakan sudah mengomunikasikan target ini ke pemerintah pusat.

''Kami mengomunikasikan hal ini ke pemerintah pusat mengenai dukungan untuk terlaksananya program swasembada pangan," terang dia, Jumat (26/12).

Pemprov juga sudah berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait guna merencanakan program-program untuk mempercepat swasembada pangan ini. Salah satunya ke Dinas Pengairan agar segera melaporkan apa yang dilakukan tahun mendatang.

''Baik itu mengenai perbaikan irigasi atau pembangunan dua waduk," kata dia.

Kepala Dinas Pengairan Lampung Robinsyah mengaku akan segera menyelesaikan program yang ada demi mendongkrak target produksi padi.

Berdasarkan data, ada 19 daerah irigasi yang ada di Lampung. Diantaranya irigasi Way Payung, Argoguruh, Batanghari Utara, Raman Utara, Punggur Utara, Way Seputih, Way Rarem, Way Semangka, Way Curup, Rawa Seragi, Rawa Mesuji, dan Batu Tegi.

"Untuk tercapainya program swasembada pangan itu kan tak hanya terfokus kepada pupuk saja. Akan tetapi irigasi ini juga penting dilakukan. Nah, irigasi ini juga penting dimana di setiap lahan baik pertanian atau perkebunan yang ada kita memerlukan adanya irigasi. Untuk itu, kita juga saat ini melakuan koordinasi dengan Dinas Kehutanan terkait masalah pelestarian airnya," kata dia.

Mengenai faktor pendukung, yakni Pemerintah Pusat akan membangun dua waduk di Desa Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu dan Desa Sukaraja, Kabupaten Tanggamus, akan terealisasi pada 2016. Pembangunan ini direncanakan untuk membantu Program Swasembada Pangan ini.

"Mungkin untuk saat ini masih dalam proses perencanaan pembuatan master plan-nya. Saya kira, untuk proses perencanaan itu pada 2015 kemudian pada 2016 bisa direalisasikan pengerjaannya," kata dia.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Lampung Hantoni Hasan mengatakan, target produksi padi sebanyak sejuta ton untuk 2015 harus didukung dengan sarana produksi yang jelas. Pemerintah Pusat diharapkan tidak hanya menginstruksikan Program Swasembada Pangan. Akan tetapi, harus melihat kondisi di lapangan.

"Saya rasa pemprov tidak keberatan jika memang sarana produksinya juga ditingkatkan. Saya kira penambahan satu juta ton itu bukan jumlah yang sedikit," terangnya.

Sarana produksi tersebut bisa dengan menyediakan perluasan sawah, alat-alat produksi, menambah waduk, dan sebagainya yang bisa semakin menekan angka capaian target produksi padi pada 2015. "Kalau semua itu didukung, saya yakin pemprov juga tidak keberatan," kata dia.

Diberitakan, Gubernur M. Ridho Ficardho dalam rakor kepala daerah, Selasa (23/12), mengatakan, ada beberapa dukungan yang sudah terealisasi. Salah satunya adalah penambahan anggaran untuk pengelolaan perbaikan irigasi untuk Lampung. Pemerintah Pusat sudah mengucurkan Rp200 miliar untuk perbaikan irigasi. (abd/c1/dna)

 

RS Tidak Sediakan Vaksin Rabies

Posted: 26 Dec 2014 09:07 PM PST

Bandarlampung – Rumah sakit (RS) dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) se-Lampung tidak menyediakan vaksin rabies. Jadi jika RS maupun puskesmas membutuhkan vaksin ini, harus mengajukan surat permintaan ke Dinas Kesehatan (Diskes) provinsi maupun kabupaten/kota terlebih dahulu.

Hal ini disampaikan Kepala Seksi Promosi Kesehatan sekaligus Hubungan Masyarakat (Humas) Diskes Lampung dr. Asih Hendrastuti kepada Radar Lampung, Jumat (26/12). Sayangnya, Asih tidak mengetahui secara persis angka ketersediaan vaksin rabies yang disimpan di Diskes. ''Maaf, kami sedang cuti bersama. Sebaiknya tanya lagi Senin (29/12)," ujarnya.

Namun demikian, Asih memastikan ketersediaan vaksin rabies ini aman. Suplai ke RS dan puskesmas pun berjalan lancar meski pada musim libur seperti ini. ''Kalau kami mendapatkan pemberitahuan permintaan vaksin rabies, langsung kami tindak lanjuti," ujar perempuan berjilbab itu.

Kepala Puskesmas Segalamider, Kecamatan Langkapura, Bandarlampung, drg. Ludwina mengakui hal tersebut. Puskesmas tidak menyediakan vaksin rabies karena tak memiliki perlengkapan khusus untuk menyimpan vaksin. Jika terjadi kasus gigitan anjing atau hewan yang diduga atau dengan rabies, mereka langsung berkoordinasi dengan Diskes.

"Di sini sering terjadi pemadaman listrik. Kalau suhunya tidak dijaga, vaksin bisa rusak. Jadi yang menyimpan vaksin itu Diskes Kota Bandarlampung," jelas Ludwina.

Sementara, dokter fasilitas tingkat pertama di Puskesmas Waylaga, Kecamatan Panjang, Bandarlampung dr. Rosdiana Sitanggang menambahkan, hewan penggigit—baik itu diagnosa rabies maupun tidak—harus dilaporkan ke Dinas Peternakan untuk diobservasi selama lebih kurang 14 hari.

"Apabila dalam 14 hari hewan tersebut mati, kemungkinan besar menderita rabies. Kepala hewan akan dikirim ke laboratorium untuk kepastian diagnosisnya. Apabila dalam 14 hari tidak mati, kemungkinan besar tidak menderita rabies," ujar dr. Ros, sapaan akrabnya.

    Adapun ciri-ciri hewan tersangka rabies diantaranya perubahan perilaku hewan dari jinak menjadi galak. Hewan menggigit apa saja seperti kayu, besi, karet, dan lain-lain. Kemudian, mengeluarkan air liur berlebihan dan takut cahaya dan air.

    Bagi masyarakat yang digigit oleh hewan tersangka rabies sebaiknya jangan panik. Tetapi tidak mengabaikan gigitan. Luka gigitan dicuci dengan sabun 5-10 menit, keringkan, beri alkohol 70 persen atau iyodiun tinktur. Segera bawa penderita ke tenaga kesehatan terdekat untuk mendapat vaksin anti rabies (var) dan/atau serum anti rabies (sar).

    Biasanya, luka yang memiliki risiko tinggi apabila digigit pada daerah mukosa seperti selaput lendir, bahu (kepala, wajah, leher), luka lebar dan dalam, serta luka yang banyak. Lalu, luka yang memiliki risiko rendah apabila dijilat pada kulit yang luka, lecet, atau garukan, atau luka lecet sekitar tangan, badan, dan kaki.

"Jadi makin dekat lukanya ke susunan saraf pusat akan semakin berisiko tinggi," ungkapnya.

Pada kasus penularan pada manusia terjangkit rabies ke manusia sehat pernah terjadi. "Meskipun jarang, pernah juga dilaporkan penularan dari manusia ke manusia lain. Antara lain melalui transplantasi kornea, kontak air liur penderita ke mukosa mata, atau gigitan penderita rabies," tambah dr. Ros. (gie/cw1/c1/dna)

 

Jembatan Timbang Disebar ke 11 Titik

Posted: 26 Dec 2014 09:07 PM PST

BANDARLAMPUNG - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menyiapkan dana Rp1 triliun dari APBD 2015 untuk perbaikan infrastruktur, termasuk jembatan timbang elektronik. Alokasi anggaran dengan angka fantastis itu untuk meminimalisasi pelanggaran dalam muatan dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Kepala Dinas Perhubungan Lampung Albar Hasan Tanjung mengatakan, realisasi pembuatan jembatan timbang portabel dilakukan pada 2015. Ini dimaksudkan untuk mendukung program infrastruktur jalan yang ada di Lampung. Mengingat, kerusakan jalam selama ini banyak disebabkan oleh muatan berlebih.

Nantinya, jembatan timbang portabel disebar ke sebelas titik pada delapan kabupaten/kota. Yakni Mesuji, Tulangbawang, Lampung Tengah, Bandarlampung, Metro, Lampung Timur, Pringsewu, dan Lampung Selatan.

Rinciannya, Mesuji ada di  Simpangpenawar; Tulangbawang di Dayamurni dan Panaragan; serta Lampung Tengah di Gunungsugih, Padangratu, dan Kotagajah.

Kemudian, Bandarlampung di Jalan Ir. Sutami; Metro di Terminal Metro; Lampung Timur di Pugungraharjo; Pringsewu di Kecamatan Pringsewu; serta Lampung Selatan di Simpangketapang.

Untuk meminimalisasi pelanggaran yang terjadi di setiap titik, nantinya tidak hanya personel Dinas Perhubungan yang berjaga di setiap jembatan timbang tersebut. Akan tetapi akan ditambah dengan personel satuan polisi pamong praja dan kodim di masing-masing kabupaten/kota.

"Teknisnya nanti ya diserahkan ke masing-masing kabupaten/kota yang ada," kata Albar.

Jika memang hal tersebut sudah terealisasi, nantinya DPRD meminta pemprov untuk bertindak tegas jika memang masih ada pelanggaran yang terjadi di dalam penimbangan angkutan tersebut. Sebab jika program bagus tanpa didukung dengan sumberdaya yang memadai, terlebih tidak ada ketegasan akan menjadi percuma.

"Makanya, yang penting itu ketegasan agar memberikan efek jera kepada petugas yang nakal," ucap Anggota Komisi II DPRD Lampung Akhmadi Sumaryanto.

Meskipun demikian, dia juga setuju jika memang penambahan jembatan timbang tersebut dilakukan. Mengingat banyak pelanggar muatan yang melintas. Jika program ini berjalan dan sesuai dengan ekspektasinya, maka pertumbuhan ekonomi di Lampung juga akan semakin meningkat.

"Jelas toh, jika memang akses jalan ini terpelihara, maka distribusi baik sandang, pangan, elektronik dan sebagainya tentu menjadi mudah," kata dia

Diberitakan, pemprov berencana membuat sistem penimbangan secara online untuk meminimalisasi pelanggaran yang terjadi di jalur transportasi menggunakan jembatan timbang. Hal itu disampaikan gubernur M. Ridho Ficardo dalam rapat koordinasi antarkepala daerah dan forkopimda se-Lampung di Gedung Pusiban Sekretariat Provinsi Lampung, Selasa (23/12).

Ridho mengaku sudah berkonsultasi terkait hal ini dengan beberapa daerah di Indonesia.

Dan, hal tersebut berdampak positif bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari jembatan timbang. Dia menjelaskan, timbangan berbasis online tersebut akan terhubung dengan dinas terkait. Yakni Dinas Perhubungan dan Dinas Pendapatan Daerah. Bahkan terhubung dengan Badan Pemeriksa Keuangan dan meja gubernur.

Jadi, jika memang ada oknum yang tidak bertanggungjawab dalam kelebihan muatan tersebut, akan langsung disanksi dan diturunkan kelebihan muatan tersebut.

"Jadi sampai kepada level gubernur pun bisa mengetahui. Artinya, gubernur bisa langsung mengontrol mengenai pelanggaran di jembatan timbang ini," kata Ridho. (abd/c1/dna)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar