Sabtu, 07 Februari 2015

Pasca Ditutup, Pabrik Sepi Aktivitas

Pasca Ditutup, Pabrik Sepi Aktivitas


Pasca Ditutup, Pabrik Sepi Aktivitas

Posted: 06 Feb 2015 08:46 PM PST

Diskes Tetap Monitoring
BANDARLAMPUNG - Meski pabrik saus Sambel Cap Adu Ayam sudah ditutup, tak berarti Dinas Kesehatan (Diskes) Bandarlampung lepas tangan. Faktanya, menurut Kepala Diskes dr. Amran, pabrik yang berlokasi di Jl. Hayam Wuruk 39, Kedamaian, Bandarlampung, itu belum memperpanjang izin pangan industri rumah tangga (P.IRT).

    P.IRT pabrik tersebut telah habis sejak 2010. ''Karena itu, kami juga terus monitoring di lapangan melalui petugas kami. Apakah masih beroperasi atau tidak pabrik saus tersebut. Karena jika memang pengusaha tersebut ingin membuka kembali usahanya, harus segera memproses P.IRT," kata dia kemarin.

    Menurut Amran, pasca penutupan, pemilik pabrik Budi Husin Hartono memang langsung kooperatif mengurus izin ke Diskes. Dan rencananya, petugas Diskes kembali mengecek pabrik pada Senin (9/2).

    Pengecekan itu dilakukan untuk mempertimbangkan perpanjangan izin yang diajukan Budi. "Ya, jadinya harus kita cek lagi gimana kondisi lapangan apakah sduah sesuai dari aturan dan prosedur yang ada," kata Amran.

    Amran menyatakan, Budi harus datang langsung ke loket Diskes Kota untuk mengurus izin. "Jadi kita sempat imbau untuk segera hadir dan melengkapi persyaratan. Jika  persyaratannya lengkap langsung diterbitkan sertifkat P.IRT yang baru," terangnya.

    Terpisah, Kepala Seksi Layanan Informasi BBPOM Hotna Pandjaitan mengatakan, pihaknya masih memeriksa saus yang diambil dari dua pabrik saus yang ada di Bandarlampung, Yakni, produksi Suka Wangi (SW) dan Cap Adu Ayam.

    "Masih diproses laboratorium mas, ini masih banyak metode yang digunakan untuk mengetahui kandungan yang ada di Saus tersebut apakah ada zat berbahaya atau tidak. Mudah-mudahan minggu depan sudah selesai," kata dia.

    Sementara berdasarkan pantauan Radar Lampung sekitar pukul 10.40 WIB kemarin, pasca ditutup, pabrik milik Budi sepi aktivitas. Bahkan, gerbangnya pun tertutup rapat. Gerbang itu dikunci dengan gembok besar. Pada gerbang depan juga terdapat tulisan banner gudang dikontrakkan.

    Menurut Minah (45) warga setempat, tak ada kesibukan sama sekali di pabrik yang juga memproduksi kecap merk Sinar baru itu. "Kayaknya sih gitu mas, nggak ada aktifitas lagi, sampai sekarang ini tertutup," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, Instruksi Wali Kota Herman H.N. kepada Badan Polisi Pamong Praja (Banpol PP) dan Dinas Kesehatan (Diskes) Bandarlampung untuk menutup pabrik saus Sambel Cap Adu Ayam langsung dijalankan kamis (5/2).

    Pada penutupan itu, 20 personel Banpol PP bersama tim Diskes yang diwakili Kabid Sarana dan Prasarana Asna Tarigan langsung bertemu Ko Budi –sapaan akrab Budi Husin Hartono.

Saat itu, Kepala Banpol PP Bandarlampung Cik Raden dan Asna Tarigan meminta Ko Budi mengeluarkan dan menunjukkan izin pendirian usaha home industry saus hingga izin pangan industri rumah tangga (P.IRT) yang dimiliki.

    Ketika menunjukan surat-surat izin usaha home industry tersebut terlihat izin gangguan (HO), izin pendirian usaha, dan lainnya masih lengkap dan habis masa berlakunya pada 2017. Namun pada izin P.IRT home industry yang bernama ''Sinar Baru" tersebut sudah tidak berlaku lagi sejak 30 April 2010.

    Saat dikonfirmasi prihal izin tersebut, Budi mengatakan, usaha home industry saus yang sudah berjalan sejak 52 tahun tersebut tidak memperpanjang kembali P.IRT lantaram tidak mengetahui masa berakhrinya.

    "Saya tidak tahu mas, karena di sertifikat tidak ada masa berlakunya. Kalau izin yang lain saya sudah perpanjang. Nah, kalau ini kesalahan siapa? Kok saya yang jadi beban," kata dia di meja kerjanya.

    Dia mengaku siap memperpanjang jika memang izin P.IRT-nya dinyatakan sudah kedaluarsa. "Saya tidak mau disalahkan, kan saya tidak tahu masa berlakunya karena tidak tertulis, maka dari itu saya tidak memperpanjang izin. Dan dari awal dapatnya seperti ini ada yang tertutup di bagian bawahnya dan saya tidak tahu itu apa," kilahnya.

    Selain itu, Budi mengakui sausnya tidak memiliki keterangan kapan expired (exp) product. "Faktanya memang tidak ada daftar exp. Perusahaan ini seperti hidup segan mati tak mau mas, sekarang saja karyawan saya hanya 12 orang dan dibayar per hari. Padahal sebelumnya karyawan saya 80 orang," akunya.

    Penyebabnya, terus dia, produknya kalah bersaing di lapangan meskipun harga produknya lebih murah hanya sekisar Rp700-800 per 500 ml.

    "Ini juga sudah tiga tahun tidak laku, dan gudang ini pun sudah kita tulis untuk disewakan. Karena saat ini produksi sehari hanya bisa 50 lusin saus dan 50 lusin kecap. Karena itu, izin P.IRT belum kita perpanjang juga," katanya. (goy/p5/c1/wdi)

Sudah Dua Daerah KLB

Posted: 06 Feb 2015 08:45 PM PST

BANDARLAMPUNG - Serangan demam berdarah dengue (DBD) meluas. Selain Bandarlampung, daerah lain juga telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) DBD. Menurut Kasi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan (Diskes) Lampung dr. Asih Hendrastuti, kabupaten lain yang telah menetapkan KLB adalah Lampung Utara. ''Surat pemberitahuan KLB Lampura sudah diterima Kamis (5/2) lalu," kata dia kepada Radar Lampung kemarin.

    Karena itu, lanjutnya, Diskes Lampung mengambil langkah untuk menyikapi DBD. Salah satunya dengan membuat posko pemantauan DBD. Diskes juga melakukan pemantauan atas kasus DBD saat ini per hari. Sebelum ada status KLB, pemantauan dilakukan per minggu dan per bulan.

    Berdasarkan data Diskes Lampung, pada Januari 2015, sudah ada 496 kasus DBD. ''Posko ini meng-update laporan harian untuk suspect DBD," ungkapnya.

    Asih mewanti-wanti agar warga mengantisipasi gejala DBD. Jika terserang demam tinggi yang kontinu tanpa fase naik turun, sebaiknya segera fasilitas kesehatan terdekat. "Selama virus beredar, menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah dan mengaktifkan alarm tubuh bahwa ada makhluk asing beredar di tubuh, efeknya demam," jelasnya.

    Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Urip Sumoharjo dr. Iqbal,Sp.A mengatakan bahwa tanda DBD diawali dengan demam tinggi sekitar 2 – 7 hari dengan muka merah.

Rata-rata pada hari ke 4 demam akan turun. Namun, penderita terlihat sakit(lemas ,red)," Perlu diperhatikan yakni, orang tua harus mengetahui kapan panas pertama kali,sehingga jika pada hari keempat panas segera lakukan pengecekan darah," jelasnya.

    Ia juga mengatakan bahwa kebanyakan penderita DBD berada dibawah usia 18 tahun.

    Sementara itu, warning DBD di kota Bandarlampung terus meluas. Menurut Kepala Diskes kota dr. Amran, saat ini sudah 18 kecamatan yang diwarning waspada DBD. Berdasarkan data Diskes Kota, saat ini sudah ada 89 pasien yang terkena DBD. Rinciannya, 69 orang warga kota dan 20 warga luar Bandarlampung.

    "Kan warning DBD yang tadinya hanya 9 kecamtan sekarang sudah 18 kecamatan. Maka dari itu, harus dikooridnasikan agar berjalan dengan baik dan obat fogging serta abatesasi dapat digunakan secara efektif," kata dia.

    Amran menyatakan, stok obat fogging dan bubuk abate tersedia disetiap puskesmas di kota. "Maka dari itu, bertahap fogging, sosialisasi dan abatesasi akan terus dilakukan hingga optimal dan berjalan beriringan. Bagi warga yang belum menerima bubuk abate langsung saja ke kecamatan, ataupun puskesmas bisa diminta gratis, tidak dipungut biaya," tandasnya.

    Kepala Puskesmas Rawat Inap (PRI) Satelit Pahoman Ria Sari menambahkan, , pihaknya terus menjalankan intruksi pnegoptimalan fogging. "Ya kita upayakan satu harinya satu tempat, hari ini (kemarin, Red) kami fogging di kelurahan Bumi Kedamaian, Kedamian," kata dia. (gie/goy/p5/c1/wdi)

Banjir Datang, Perahu Hilang

Posted: 06 Feb 2015 08:43 PM PST

BANDARLAMPUNG – Banjir merendam ratusan rumah warga di sepanjang aliran sungai di bawah jembatan baru Jl. Ikan Sebelah, Kelurahan Pesawahan, Telukbetung Selatan (TbS), kemarin (6/2). Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Tetapi, dua perahu milik warga diduga hilang terbawa derasnya sungai yang berada di jembatan baru tersebut.

    Menurut kesaksian warga RT 32/Lk. 3 Bambang (32), banjir datang secara tiba-tiba pada pukul 18.30 WIB. Bahkan, datangnya air tersebut dikatakannya sangatlah cepat dan begitu deras.

    ''Iya tiba-tiba saja pas hujan air masuk ke rumah-rumah yang ada di pinggiran sungai ini. Kira-kira kalau dihitung bisa mencapai lima RT, Mas, dan merendam ratusan rumah," terangnya.

    Selain itu, air yang mendadak naik tersebut juga membuat panik beberapa warga yang kapalnya diduga terbawa arus dan hilang. "Tadi sih dilihat putus tali tambangnnya, dan nggak tahu sekarang kemana. Terlebih perahu milik Alimudin (50)," kata dia.

    Senada disampaikan Suriyani (33) istri Alimudin membenarkan, bahwa perahunya diduga hilang terbawa aliran sungai. "Iya mas, tadi sempet teriak-teriak pas hujan lebat diwilayah ini. terus tiba-tiba perahu saling bertabrakan dan talinya terputus lalu kanyut. Sekarang saya belum tahu kemana perahunya," ujarnya.

    Dia mengaku bingung, jika perahu miliknya tersebut tidak ditemukan dan jika ditemukan tidak bisa dipergunakan untuk mencari ikan lagi. "Perahu inilah yang menjadi mata pencarian keluarga saya. Sempet kita mau kejer itu perahu, tapi apa daya kita air dirumah ini aja selutut atau 50 sentimeter mas," sesalnya.

    Maka dari itu, dia berharap ada kemurahan hati Wali Kota Bandarlampung Herman HN untuk meringankan bebannya. "Rp8 juta itu nggak sedikit mas, dan perahu inilah tempat menyambung hidup. Kalau tidak ada perahu ini gimana kita mau mencari makan,' tukasnya.

    Terpisah, Camat TbS Yustam Effendi menyatakan sudah menghubungi lurah, babinsa, dan babinkatibmas.  "Saya juga sudah dengar itu ada beberapa kapal yang rusak dan hanyut. Maka dari itu, ini petugas kelurahan dan kecamatan sedang mengecek dan ngontrolnya untuk dilakukan pendataan," pungkasnya. (goy/p5/c1/wdi)

Lampung Bakal Diguyur Rp1 T

Posted: 06 Feb 2015 08:36 PM PST

Untuk Dana Revitalisasi Irigasi
BANDARLAMPUNG – Bidang pertanian di Provinsi Lampung benar-benar menjadi prioritas pemerintah pusat. Itu terlihat dari rencana pemerintah pusat mengguyurkan dana ke Pemprov Lampung untuk pembenahan sarana irigasi di Sai Bumi Ruwa Jurai. Tidak tanggung-tanggung, dana yang bakal dialokasikan nilainya mencapai Rp1 triliun.

    Hal ini diungkapkan Ketua Komisi IV DPRD Lampung Imer Darius usai rapat sinkronisasi program pengairan untuk mendukung peningkatan produksi padi Provinsi Lampung kemarin (6/2).

    Dia menjelaskan, untuk Lampung, dana revitalisasi irigasi di hampir seluruh kabupaten/kota menggunakan APBN 2015. ''Kalau masalah dana pendamping, ya kita harapkan kecil saja kan. Kalau ada DAK juga kan otomatis kecil yang dikeluarkan," katanya usai rapat.

Menurutnya, revitalisasi jaringan irigasi ini penting untuk mendukung rencana perluasan lahan sawah 5.200 hektare. "Ya dilihat bagaimana air itu sampai ke lahan pertanian. Mana yang menjadi wewenang provinsi, kabupaten/kota maupun pemerintah pusat," tuturnya.

Sementara untuk masalah waduk, lanjutnya, hal itu bakal menjadi wewenang penuh pemerintah pusat. "Kalau waduk itu kan masih tahap DED (Detail Engginering  Desain). Pengerjaan fisiknya juga baru di tahun depan. Untuk tahun ini hanya mengenai masalah revitalisasi irigasinya saja," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Pengairan dan Pemukiman Robinsyah belum bisa menyebutkan daerah mana saja yang akan direvitalisasi. Pasalnya, sambung dia, hal itu masih dalam tahap perencanaan dan baru akan keluar besaran angkanya di APBN Perubahan.

"Kan lagi dibahas. Banyak sekali titik-titiknya, saya nggak hafal itu. Angka pastinya juga ya belum ada dong. Kita kan masih mengajukan. Lagipula irigasi ini kan tidak hanya provinsi saja yang berwenang. Akan tetapi juga kan kabupaten/kota dan pusat juga," terangnya.

Jika nanti dana revitalisasi sudah turun, tambahnya, baru kegiatan fisik akan dilakukan. "Kenapa kita membutuhkan anggaran dari pusat, karena APBD kita ini kecil. APBD kita ini hanya Rp15 miliar saja," ucap dia.

Diketahui, berdasarkan data ada 19 daerah irigasi yang ada di Provinsi Lampung. Di antaranya irigasi Way Payung, Argoguruh, Batanghari Utara, Raman Utara, Punggur Utara, Way Seputih, Way Rarem, Way Semangka, Way Curup, Rawa Seragi, Rawa Mesuji, dan Batu Tegi.

"Untuk tercapainya program swasembada pangan, tak hanya terfokus kepada masalah pupuk saja. Akan tetapi irigasi ini juga penting diperhatikan. Setiap lahan baik pertanian atau perkebunan memerlukan irigasi. Untuk itu, kita juga saat ini melakuan koordinasi dengan Dinas Kehutanan terkait masalah pelestarian airnya," sambungnya.

Mengenai faktor pendukung, Pemerintah Pusat akan membangun dua waduk di Desa Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu dan Desa Sukaraja, Kabupaten Tanggamus. Pembangunan akan terealisasi pada 2016. Pembangunan ini direncanakan untuk membantu Program Swasembada Pangan.

"Mungkin untuk saat ini masih dalam proses perencanaan pembuatan master plan-nya. Saya kira, untuk proses perencanaan itu pada 2015 kemudian pada 2016 bisa direalisasikan pengerjaannya," tandasnya. (abd/c1/fik)

Prioritaskan Enam Raperda

Posted: 06 Feb 2015 08:34 PM PST

BANDARLAMPUNG - Badan Legislasi DPRD Lampung memprioritaskan enam rancangan peraturan daerah (raperda) yang masuk dalam program legislasi daerah (prolegda) tahun 2015. Enam dari 17 raperda peninggalan periode sebelumnya yang menjadi prioritas adalah raperda pokok-pokok kemudahan penanaman modal; raperda pembentukan perusahan penjamin kredit daerah; raperda kepelabuhan Provinsi Lampung; serta raperda rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Kemudian raperda bantuan hukum cuma-cuma dan raperda mengenai TV kabel.

    Anggota Banleg Watoni Noerdin mengatakan, alasan keenam raperda tersebut menjadi priorotas karena memang sudah melalui ujian akademik dan memang saat ini perlu direalisasikan. "Pembahasannya variatif. Namun yang jelas jika memang nanti semuanya akan dibahas di masing-masing leading sector seperti mengenai TV Kabel akan dibahas dengan Diskominfo dan Komisi I," terang dia.

Ditanya target penyelesaian keenam raperda tersebut, politisi PDI Perjuangan ini belum bisa memastikan. Hal ini, menurut dia, tergantung kesepakatan antara pihak legislatif dan eksekutif.

Namun demikian, Watoni mengaku pihaknya akan berupaya menyelesaikan Raperda itu secepatnya. "Kalau idealnya ya memang dua bulan bisa menyelesaikan satu Raperda menjadi perda. Untuk masalah ini ya kami dari Banleg akan berupaya penuh untuk menyelesaikan hal itu," jelasnya.

Terpisah, Kabag Perundangan-Undangan Sekretariat DPRD Lampung, Bambang Djoko, mengatakan ada beberapa Raperda lagi yang akan masuk ke dalam Prolegda 2015 ini. Sayang, dia tidak merincinya.

Menurut dia, anggaran untuk pembahasan raperda tersebut kemungkinan telah habis. Namun demikian, Bambang mengaku, pihaknya akan bergotong-royong merampungkan agar bisa secepat mungkin disahkan.

"Kemungkinan juga 13 raperda lainnya akan dimasukkan dalam Prolegda. Yang jelas, tidak hanya Banleg saja, akan tetapi ya semua anggota DPRD Lampung sepakat akan menyelesaikan apa yang menjadi prioritas Raperda tersebut," tandasnya. (abd/c1/fik)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar