Senin, 02 Februari 2015

Saus Murah, Per Kilogram Hanya Rp4 Ribu

Saus Murah, Per Kilogram Hanya Rp4 Ribu


Saus Murah, Per Kilogram Hanya Rp4 Ribu

Posted: 01 Feb 2015 06:39 PM PST

PADA Senin (26/1), Polresta Bandung menggerebek industri rumahan yang memproduksi saus sambal menggunakan bahan kimia berbahaya di Kelurahan Caringin. Meski di kemasan tertulis bahan dasarnya cabai dan tomat, tetapi dalam produksinya, saus sambal itu bahkan tak menggunakan cabai sama sekali.

Penggerebekan itu menjadi isu hangat nasional, terutama di Lampung. Penelusuran Radar Lampung kemarin, beberapa warga mengaku khawatir rumah usaha pembuatan saus yang ada di Bandarlampung melakukan hal yang serupa dengan di Bandung. Yakni menambah bahan kimia berbahaya dalam pembuatan sausnya.

Seperti disampaikan Amalia (24), warga Kecamatan Tanjungsenang. Saat ditemui ketika sedang makan mi ayam bakso di sekitar Stadion Pahoman, ia mengaku saat ini enggan mengonsumsi saus.

Itu karena ia mendengar pemberitaan saus yang dicampur bahan kimia berbahaya. ''Saat ini kalau mau makan saus, saya lebih memilih yang bermerek terkenal, karena lebih bisa dijamin mutunya. Sebab kalau yang ada di sini, belum tentu dari produksi yang terjamin standar mutunya," kata dia.

Menurutnya, terlihat dari aspek warna pada saus berbeda dari saus yang bermerek hingga saus yang beredar dalam plastik setengah kiloan di pasar.

"Jadi nggak sembarang saus saya gunakan, apalagi saus yang isi ulang seperti ini, kan ngeri. Kalau ada bahan kimiannya gimana? Apalagi, harganya kan sangat murah," kata mahasiswi perguruan tinggi negeri di Bandarlampung ini kemarin (1/2).

Senada disampaikan Shinta (21), warga Kecamatan Wayhalim. Dia juga mengaku khawatir dengan peredaran saus murah dan tidak jelas siapa produsennya.

Namun, kata dia, ia tetap menggunakan saus saat makan mie ayam. "Kalau saya makan mie ayam nggak pakai saus, aneh rasanya, seperti ada yang kurang lengkap. Tapi, kalau makan bakso saya masih bisa nggak pakai saus," ujarnya.

Menurutnya, terkait ada tidaknya bahan kimia di saus yang beredar luas di masyarakat dan dijual murah, bahkan saus-saus yang dibungkus kemasan memang patut dipertanyakan kesehatannya.

"Tapi ya sudahlah, ada kimia atau nggaknya, dosa pengusaha itu sendiri. Kan kita nggak tahu. Selama ini juga saya belum merasakan efeknya," akunya.

Terpisah, Kamsi, salah satu pedagang mi ayam dan bakso di Kecamatan Kemiling, mengatakan, ia sudah terbiasa menggunakan saus kemasan lantaran harganya murah.

''Kalau saya biasa membeli Rp1.500–2.000 untuk 500 gramnya. Nah kalau mau memakai saus bermerek seperti iklan ditelevisi kan biayanya besar. Pasti pedagang mi ayam dan bakso pada nggak sanggup," kata dia.

Terkait adanya pemberitaan tentang saus yang menggunakan bahan kimia sebagai campurannya di Bandung hingga digerebek oleh polisi, Kamsi mengaku tak mengetahuinya.

"Masak iya mas, mudah-mudahan di sini baik-baik saja sausnnya dan tidak menggunakan bahan yang bukan semestinya. Saus ini kan memang dicari untuk konsumsi bakso dan mie, dan di pasaran saus seperti ini selalu laris terjual," tandasnya.

Sementara, Brewok penjual saus kemasan di Pasar Tani, Kemiling, mengatakan, saus kemasan memang paling dicari penjual mie ayam, bakso, sosis, dan segala macam makanan yang menggunakan saus.

Dia melanjutkan, selain murah saus tersebut mudah didapat di pasaran. "Ya, ini laris mas, banyak yang makai kok. Kalau mau buat mie ayam," terangnya.

Saat Radar mencari jenis saus yang beredar di Bandung seperti Sinarsari, Unggul Sari, dan Indosari., Brewok mengaku tidak menjual saus seperti itu. Dia mengungkapkan, saus kemasan yang dijual semuanya diproduksi di Lampung.

Sementara, pantauan Radar Lampung di beberapa pasar tradisional dan warung kelontongan, tidak ditemukan saus kemasan yang berasal dari Bandung .

Radar hanya berhasil menghimpun tiga saus kemasan yang memiliki warna berbeda. Yakni, berwarna merah pekat, merah kental, dan merah cerah.

Masing-masing kemasan tercantum kode produksi izin rumah tangga dan berlabelkan halal. Dan ada salah satu sambal kemasan yang tidak memiliki masa expired atau kedaluwarsa. (goy/p5/c1/whk)

Izin Sekadar Formalitas

Peredaran saus murah di pasaran mendapat tanggapan berbeda dari instansi terkait seperti Dinas Kesehatan (Diskes) serta Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandarlampung.

Kadiskes Bandarlampung dr. Amran mengatakan, saat menjabat kepala bidang sarana dan prasarana hingga menjadi Kadiskes, ia tidak pernah mengurus perizinan home industry saus.

''Karena itu, nanti kami berkoordinasi dengan BBPOM Bandarlampung terkait permasalahan ini," ujarnya kemarin (1/2).

Menurutnya, selama ini ia hanya pernah mengurus izin home industry kue kering dan kecap. ''Ya sudah, nanti saya cek dan koordinasikan dahulu ya," singkatnya.

Sementara Kabid Sarana dan Prasarana Diskes Bandarlampung Asna Tarigan mengatakan, regulasi izin yang dilakukan Diskes dengan pengusaha selama ini hanyalah perjanjian komitmen di atas meterai.

''Ya, pernah ada yang mengajukan home industry saus. Namun setiap melaksanakan perjanjian, kami memang tidak pernah mengawasi komposisi yang digunakan di lapangan," bebernya.

Menurutnya, hal itu tidak dilakukan lantaran dalam perjanjian antara Diskes di atas meterai 6 ribu, pengusaha berjanji komposisi yang ditulis di kemasan sudah sesuai bahan-bahan saat pembuatan.

''Jadi yang ada pada kami hanya pernyataan pengusaha yang berkomitmen di atas meterai," kata dia.

Karena itu, kata Asna, jika ternyata komposisi yang dibuat berbeda dan tidak sesuai prosedur yang tertulis akan ditindaklanjuti. ''Lab kami terbatas dan akan kami koordinasikan dengan BBPOM apakah produk yang beredar tersebut telah memenuhi standar dan diizinkan dijual," katanya.

Terpisah, Kepala Seksi Layanan Informasi BBPOM Hotna Pandjaitan mengklaim sudah rutin melakukan pengawasan terkait peredaran saus kemasan.

''Kita sudah awasi dan hasilnya masih belum ada indikasi seperti di Bandung. Bahkan, yang dijual di Lampung ini kan sudah terdaftar di Diskes kabupaten dan kota masing-masing wilayah. Nah, kita sebagai pengawas sudah kita awasi produk tersebut, dan tidak ada masalah," akunya.

Menurutnya, pengusaha saus dalam membeli bahan baku pembuatan saus, seperti cabai dan tomat melihat kondisi harga cabai dan tomat turun. "Jadi pas harga turun diborongnya," ujarnya singkat. (goy/p5/c1/whk)

BBPOM-Diskes Harus Razia

Banyaknya saus kemasan yang beredar di Bandarlampung mendapat tanggapan dari berbagai elemen. Di antaranya anggota Komisi IV DPRD Bandarlampung Imam Santoso, pengamat ekonomi asal Universitas Bandar Lampung (UBL) Erwin Oktavianto, dan mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bandarlampung dr. Boy Zaghlul Zaini.

Imam Santoso mengatakan, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandalampung harus segera turun ke lapangan untuk merazia dan mengecek apakah terjadi kasus yang sama terkait saus kemasan yang menggunakan berbahan kimia seperti di Bandung.

''Jika di Bandung itu karena laporan warga setempat. Nah, ini harus ada inisiatif oleh BBPOM dan Dinas Kesehatan (Diskes) Bandarlampung untuk turun ke lapangan dan cek saus kemasan yang banyak beredar," ujarnya kemarin (1/2).

Menurut dia, kedua instansi ini juga harus melakukan uji laboratorium. ''Dari harga yang murah itulah timbul kecurigaan. Mana mungkin ada harga cabai yang murah. Terus campurannya itu apa? Disebutkan nggak dalam komposisi yang ditulis. Jadi harus benar-benar dilihat sudah sesuai belum antara izin dengan yang dilakukan pengusaha di lapangan," kata dia.

Jadi, terus dia, saus kemasan yang telah beredar tersebut pantas dicurigai kebenaran komposisi dan jaminan kesehatannya. "Kan banyak saus cabai yang diselewengkan, ini saya rasa bukan hanya terjadi di Bandung. Tapi, bisa terjadi di seluruh daerah. Untuk itu, BBPOM harus turun segera, jabarkan kepada publik hasilnya, jadi kita semua tidak bertanya-tanya," tandasnya.

Sebab, bisa jadi BBPOM dan Diskes selama ini menyatakan baik karena hanya menerima sample untuk diuji. "Nah, sample yang diterima, sama yang dijual itu bisa saja berbeda," ucapnya.

Senada disampaikan Erwin Oktavianto. Menurutnya, jika melihat dari segi ekonomi terlihat harga dengan kualitas dan kuantitas yang terjadi tidak masuk akal.

"Sehingga semua warga bisa mempertanyakan kesehatan yang dijamin dalam bahan makanan tersebut. Nah,, sekarang pertanyaannya, kenapa saus kemasan tersebut bisa beredar?" kata dia.

Ia khawatir, banyak masyarakat yang belum sadar dan mengetahui saus yang beredar dengan murah dan dapat ditemui di lokasi yang sering dikunjungi masyarakat baik kelas bawah hingga atas.

"Ya kita lihat saja, yang paling banyak menggunakan saus kemasan ini kan seperti tempat bakso, mie ayam, bahkan rumah makan besar yang ada di Bandarlampung pun tak luput menggunakan saus semacam ini. Nah, ini kan kita khawatirnya saus tersebut sangat rendah kualitasnya dan berbahaya untuk kesehatan," paparnya.

Jika dikaitkan dengan faktor ekonomi, kata pria yang disapan Erwin ini, melukiskan kesejahteraan sebagai prinsip utama ekonomi. "Permintaan barang-barang tersebut tidak akan pernah hilang jika pemerintah tidak melakukan gerakan dan intervensi untuk menggalakkan hidup sehat dan menghadirkan bahan pokok makanan yang aman dikonsumsi rakyatnya," jelasnya.

Selanjutnya, kata dia, masyarakat akan terus menggunakan saus tersebut untuk digunakan sebagai bahan makanan pelengkap makanannya jika pemerintah tidak pernah melakukan sosialisasi terkait permasalahan itu.

"Harus ada langkah tegas yang dilakukan pemerintah dalam hal ini. Jadi melihat inflasi yang tinggi, segala macam barang dijual murah pastinya kualitas akan lebih rendah dan ini menjadi salah satu kondisi yang memprihatinkan untuk berpola hidup sehat," pungkasnya.

Sementara, dr. Boy Zaghlul Zaini mengatakan, saus yang beredar di Bandarlampung kebanyakan memang berbahaya untuk kesehatan anak dan semua orang.

"Jika memang sudah seperti ini, BBPOM harus turun tangan untuk mengecek apakah saus yang beredar dan dijual sudah terdaftar atau belum dan apakah tetap aman untuk dikonsumsi," pintanya.

Menurutnya, yang patut diwaspadai adalah penggunaan terhadap anak dari jajanan di lingkungan sekitar.

"Di situlah butuh figur guru dan orang tua untuk mencegah anaknya membeli makanan yang menggunakan saus. Jadi semua harus peduli, bukan hanya pemerintah. Tetapi semua elemen untuk bersatu padu menjaga kesehatan," kata dia.

Terlebih, sudah banyak yang mengalami gangguan pada pencernaannya. "Nah, bukannya tidak mungkin efek mengonsumsi saus yang menggunakan bahan kimia akan mengganggu fungsi otak, ginjal, dan hati," terangnya. (goy/p5/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar