Jumat, 24 April 2015

Turun Gunung, Monyet Serang Permukiman Warga

Turun Gunung, Monyet Serang Permukiman Warga


Turun Gunung, Monyet Serang Permukiman Warga

Posted: 23 Apr 2015 08:34 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Ratusan monyet turun gunung menyerang warga Jl. Kancil RT 09/Lk. 02, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandarlampung, kemarin (23/4). Monyet-monyet yang berasal dari Gunung Banten tersebut mencari makan di pekarangan rumah warga yang terdapat tanaman buah seperti pohon belimbing dan jambu biji.

Kejadian ini membuat takut warga. Sebab selain merusak tanaman, monyet-monyet itu dikhawatirkan melukai mereka. Beruntung, tak satu pun warga terluka kemarin.

Ita Mahkota (65), salah satu warga setempat, mengaku mengetahui ada banyak monyet di depan rumahnya pukul 08.00 WIB saat suaminya hendak berangkat kerja.

''Memang sempat terdengar suara cit.. cit.. cit.., seperti suara burung. Tetapi pas dilihat keluar, ternyata monyet. Kami kaget dan takut. Bapak pergi kerja, langsung saya tutup pintu rumah dan jendela," katanya.

Ketika diamati dari dalam rumah, kata dia, monyet-monyet tersebut memakan buah jambu biji dan belimbing yang ada di halaman rumahnya.

Selain rumahnya, beberapa rumah tetangganya juga dipenuhi monyet. "Monyetnya dari yang anakan sampai berbadan besar," terangnya.

Dia mengaku heran, kenapa monyet sampai masuk ke daerahnya. Padahal, selama 65 tahun tinggal di wilayah tersebut, monyet di Gunung Banten tak pernah masuk ke permukiman. "Ini pertama kalinya. Jadi saya takutlah mas," tandasnya.

 Senada disampaikan warga lainnya. Yakni, Ahiko (42). Menurutnya, dugaan sementara para warga ratusan monyet tersebut turun hingga kerumah warga dikarenakan kelaparan.

"Buktinya saja, mereka mengambil buah-buahan yang ada di pohon warga. Padahal seingat saya ada warga di sana yang diminta untuk mengurusi monyet oleh pemkot melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata," kata dia.

Terpisah, Camat Kedaton Emrin Riyadi dan Kadisbudpar Yus Amri Agus menanggapi santai kejadian tersebut.

"Mau bagaiamana lagi. Mungkin stok makanannya habis," ujar Emrin Riyadi.

Senada disampaikan Yus Amri Agus. Menurutnya, ada anggaran sebesar Rp10 juta per tahunnya di cagar hutan kera pada dua tempat. Yakni, di Gunung Banten dan Hutan Kera Sarijo. "Mungkin stok-nya sudah habis. Disanakan habitatnya kecil sedangkan populasinya banyak, dan memang itu lokasinya di sekitar rumah penduduk," katanya.

Yus Amri pun kebingungan bagaimana mengatasi persoalan tersebut. "Ya, mau gimana, mau dibuang monyetnya juga bertentangan dengan undang-undang. Kan, di sana juga sudah ditetapkan sebagai cagar monyet," ujarnya singkat. (goy/p5/c1/whk)

Bantuan Untuk Rani Mulai Mengalir

Posted: 23 Apr 2015 08:34 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Penderitaan yang dialami Rani Guana Putri (5), bocah penderita penyakit paru-paru bocor dan jantung, menuai empati. Bantuan mulai mengalir untuk putri pasangan Hermansyah (34) dan Dewi Sartika (32) tersebut.

    Kemarin (23/4), Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Bandarlampung Hj. Eva Dwiana Herman H.N. memberikan tali asih kepada keluarga Rani di gedung PKK Bandarlampung.

    Sebelumnya, Rani beserta orang tuanya dijemput Koordinator Komunitas Peduli Generasi Lampung Firman di rumahnya yang berlokasi di Jl. Pagar Alam Gg. Putra, Langkapura, Kemiling, dengan ambulans untuk menerima bantuan tersebut.

''Ya, alhamdulillah tadi Bunda Eva –sapaan akrab Eva Dwiana Herman H.N.– membantu kami untuk pemberangkatan Rani ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta," ujar Hermanysah, ayah Rani.

Dia mengatakan, mereka juga sempat ke Pemkot Bandarlampung untuk menemui Wali Kota Herman H.N. Sayangnya, wali kota sedang tidak berada di kantornya. ''Dari kantor wali kota, kami ke kantor DPRD. Di sana kami ditanya mengenai kesehatan Rani," ungkapnya.

    Sementara, Firman mengatakan, dengan adanya bantuan tersebut, komunitasnya berencana merujuk Rani ke Jakarta minimal 1-2 hari ke depan. "Kemungkinan memakai ambulans kami," ujarnya.

Diketahui, Rani hanya bisa tergolek lemah di kediamannya tanpa pengobatan. Padahal, bocah berusia lima tahun ini divonis dokter mengidap penyakit paru-paru bocor dan jantung.

Sebelumnya, anak kedua pasangan Hermansyah (34) dan Dewi Sartika (32) ini sempat menjalani perawatan medis selama tujuh hari sejak Sabtu-Jumat (11-17/4) di RSUDAM.

Hermansyah mengatakan, ia terpaksa menolak perintah dokter yang merujuk anaknya ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta lantaran tidak ada biaya. ''Memang biaya pengobatannya memakai jamkesmas, tetapi biaya hidup kami di sana bagaimana?" ujar pria yang berprofesi sebagai buruh bangunan tersebut. (gie/p5/c1/whk)

Evaluasi Poskeskel!

Posted: 23 Apr 2015 08:33 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Pos kesehatan kelurahan (poskeskel) yang ada di Bandarlampung dinilai tidak efektif keberadaannya oleh sebagian warga. Terlebih, lokasi berdirinya poskeskel berdekatan dengan puskesmas induk. Seperti disampaikan Hendriansyah dan Samsul, warga Palapa 10/H, Kelurahan Gunungterang, Langkapura.

Menurut Hendriansyah, ia tidak mengetahui adanya Poskeskel Gunungterang yang berdiri di dekat kediamannya. ''Saya di sini sudah dua tahun, tetapi belum tahu kalau ada poskeskel di sekitar sini," ujarnya kemarin.

Dilanjutkan, biasanya jika ia atau keluarganya sakit, langsung berobat ke Puskesmas Induk Segalamider, Tanjungkarang Barat, yang posisinya juga tidak jauh dari rumahnya.

''Ya, kalau sakit lebih memilih langsung ke puskesmas induk. Apalagi Puskesmas Segalamider dekat dari rumah saya. Nggak jauh-jauh amat," katanya.

Senada disampaikan Samsul.  Pengusaha elpiji ini mengaku jika sakit lebih memilih berobat ke Puskesmas Induk daripada ke Poskeskel yang berjarak 20 meter dari rumahnya.

Sebab, di Puskesmas Induk, obat yang dimiliki lebih lengkap dari pada Poskeskel dan lokasi Puskesmas Induk juga lebih dekat dari rumahnya. "Iya mas, kondisi Poskeskel juga sepi, ramai ketika ada program Posyandu saja. Jadi, saya lebih memilih langsung ke puskesmas," tukasnya.

Selain Poskeskel Gunung Terang, terlihat juga Poskeskel Rajabasa Pemuka yang terlihat sepi aktifitas.

Sementara, anggota Komisi IV DPRD Bandarlampung Imam Santoso mengatakan, sepinya pengunjung Poskeskel untuk berobat tidak secara menyeluruh terjadi pada Poskeskel yang tersebar di 126 kelurahan Bandarlampung.

Jika memang ada Poskeskel yang sepi, kata dia, karena pegawai Poskeskel setempat kurang gencar sosialisasi kepada warga sekitar. "Coba turun ke masyarakat petugasnya, beri imbauan ataupun sosialisasi terkait kesehatan. Jadi masyarakat tahu dan bisa memanfaatkan Poskeskel dan tidak harus ke Puskesmas Induk," sarannya.

Politisi Gerinda ini melanjutkan, Poskeskel juga jarang dikunjungi karena lokasinya berdekatan dengan Puskesmas. "Nah, dalam hal ini eksekutif harus mengevaluasi dan mencari lokasi lain yang tidak berdekatan," imbaunya.

Selain itu, kata dia, pihak kelurahan juga dapat membantu dalam menyosialisasikan Poskeskel,  sehingga ada satu kesatuan antara pihak kelurahan dengan tenaga kesehatan.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Bandarlampung dr. Amran mengatakan, di dirikannya satu Poskeskel di setiap kelurahan yang menyebar di 126 kelurahan untuk memudahkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang lokasinya jauh dari pusat keramaian dan sudah berdiri Puskesmas.

Untuk itu, kata dia, dari 126 Poskeskel ada 83 bangunan yang lokasinya menyewa di rumah milik warga. "Memang bagusnya Poskeskel itu didirikan di dekat kantor kelurahan. Tapi, mencari bangunan untuk disewakan itu saat ini sulit," kata dia.

Namun, Amran menjamin pelayanan kesehatan dari Poskeskel dengan Puskesmas Induk sama saja. "Obatnya sama kok, pelayananya juga sama. Yang beda hanya peredaran obat jenis antibiotik saja. Kan, ada obat golongan keras yang tidak serta merta untuk dijual dan butuh pengawasan," kata Amran.

Saat ini, terus dia, pihaknya belum terfikirkan untuk memindahkan Poskeskel yang ada di Bandarlampung. "Jadi, memang butuh disosialisasikan saja ketika sakit untuk datang ke pusat pelayanan kesehatan milik pemerintah di lokasi terdekat. Baik itu Poskeskel maupun Puskesmas Induk. Kalau soal berdekatan itu akan dievaluasi," janjinya. (goy/p5/c1/whk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar