Kamis, 08 Oktober 2015

Kabut Asap Intai Kota

Kabut Asap Intai Kota


Kabut Asap Intai Kota

Posted: 07 Oct 2015 09:22 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Permasalahan kabut asap tengah membelit beberapa provinsi di negara ini. Permasalahan itu, tampaknya, mulai mengintai kota ini. Buktinya kemarin (7/10), kabut asap terlihat di kawasan perbukitan yang berlokasi di Kelurahan Sukarame 2, Telukbetung Barat. Lantaran embusan angin yang cukup kencang, asap itu terus meluas menuju perbukitan di sekitarnya.

    Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandarlampung Wisnu mengakui memang terjadi kebakaran di daerah tersebut pada Selasa (6/10) sekitar pukul 20.00 WIB.

    "Ya, semalam kami memang mendapat kabar adanya kebakaran di Bukit Sitagoh yang ada di Kelurahan Sukarame 2," ujarnya kepada Radar Lampung kemarin.

    Namun, karena lokasinya ternyata sangat jauh, maka mobil pemadam kebakaran (damkar) hanya sekadar standbye bersama aparat polsek setempat. Penyemprotan pun urung dilakukan, karena menurutnya titik api cukup jauh dari pemukiman warga.

    "Kami hanya berjaga di sekitar pemukiman warga. Kalau memang sekiranya merembet dan membahayakan penduduk baru kami lakukan penyemprotan," ungkapnya.

    Hingga saat ini. pihaknya hanya memantau. Karenanya, salah satu mobil damkar disiap siagakan di kelurahan tersebut. Wisnu juga mengaku belum dapat menduga terjadinya kebakaran tersebut.

    "Selain ilalang, di sana kan wilayah perkebunan. Ada banyak pohon pisang atau kebun durian. Bisa jadi puntung rokok atau sengaja dibakar untuk membuka lahan. Berapa luas lahan yang terbakar juga kami belum tahu pasti," lanjutnya.

    Terkait adanya kepulan asap hingga kemarin siang, Wisnu pun menduga masih ada api yang masih menyala. Namun kembali dia menegaskan, pihaknya hanya dapat memantau saja.

    Lurah Sukarame 2 M. Ramli membenarkan kebakaran terjadi di lahan bukit tersebut. Dia mengungkapkan api mulai membesar sejak pukul 18.00 WIB dan baru dapat dipadamkan pukul 00.00.

    "Itupun dari warga yang memadamkan. Pemadam kebakaran memang datang, tapi karena lokasinya di atas gunung, jadi mereka membantu dengan alat seadanya," katanya.

    Dia mengungkapkan, kebakaran lahan di bukit tersebut memang selalu terjadi setiap tahunnya. Justru tahun ini mereka beruntung karena kebakaran tidak sampai merusak perkebunan mereka.

    "Kalau tahun-tahun sebelumnya sempat merusak kebun kami," kenangnya.

    Dia mengatakan, asap yang ada saat ini merupakan sisa-sisa kebakaran pada kayu-kayu mati. Bahkan menurutnya saat ini volume asap itu sudah mengurang dibanding sebelumnya.

    "Tentu saja kami merasa khawatir. Selain dengan asap juga dengan apinya yang suatu saat merambat ke pemukiman warga," ujarnya. (yay/p2/c1/whk)

’’Kalau Masih Wali Kota, Saya Pecat!’’

Posted: 07 Oct 2015 09:22 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Permasalahan yang mendera SMPN 24 Bandarlampung ternyata juga menuai perhatian dari mantan Wali Kota Herman H.N. Kemarin (7/10), mantan kepala daerah yang terkenal tegas ini angkat bicara terkait polemik tersebut. Dia mengatakan, dalam permasalahan itu, seharusnya ada tindakan tegas dari pejabat berwenang untuk memberikan sanksi terhadap Kepala SMPN 24 Bandarlampung Helendrasari.

Sebab, menurutnya, apa yang dilakukan Helendrasari sudah di luar tugas, pokok, dan fungsi dari seorang kepala sekolah. ''Kalau saya masih wali kota, saya pecat! Karena kan sudah ada anggaran dari pemkot, SPP sudah dibayar semua sama pemkot, tidak perlu lagi nekan-nekan murid lah!" tandasnya.

Kendati demikian, ia menyatakan, hal tersebut hanya pendapatnya saja sebagai seorang mantan kepala daerah, sebab untuk memberhentikan seorang kepala sekolah dari jabatannya bukan lagi menjadi kewenangannya. Karenanya, ia menyarankan Radar Lampung untuk menanyakan permasalahan tersebut kepada Penjabat (Pj.) Wali Kota Bandarlampung Sulpakar.

"Ya, saya kan tidak ada kewenangan lagi. Coba tanyakan kepada Pak Sulpakar saja," sarannya.

Sementara kemarin, Sulpakar mengaku belum dapat memberikan keputusan. Sebab, ia masih membutuhkan waktu untuk mengkaji hasil pemeriksaan inspektorat.

    "Kan saya sudah sampaikan, permasalahan itu akan diselesaikan dalam satu minggu. Ini kan baru hari ke berapa? Sabar dulu ya," katanya kemarin.

    Diketahui, tim pemkot masih memverifikasi data yang didapat. Hal ini dibenarkan asisten I Pemkot Bandarlampung sekaligus Plt. Inspektur Dedi Amarullah.

"Ya, semua data tengah diverifikasi, tetapi belum bisa dipublikasi," ujarnya kepada Radar Lampung, Selasa (6/10).

Terkait deadline dari Pj. Wali Kota Sulpakar yang meminta Inspektorat segera merampungkan tugasnya dalam satu pekan ke depan, ia mengaku tengah mengupayakannya bersama tim dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Bandarlampung.

"Pastinya, hasil investigasi kami belum bisa dipublikasi. Kita perlu adakan pembahasan ulang dengan tim yang turun, yakni BKD. Masalah ini kompleks!" tandasnya. (abd/yay/p2/c1/whk)

Penutupan Akses Jalan Tak Tepat!

Posted: 07 Oct 2015 09:19 PM PDT

BANDARLAMPUNG – Asep Buldani, salah seorang guru SMAN 16 Bandarlampung yang dituding Sri Karmila, kepala sekolah setempat, sebagai provokator dalam permasalahan pihak sekolah dengan warga Susunanbaru, Tanjungkarang Barat, angkat bicara.

Kemarin (7/10), ia mendatangi press room Pemkot Bandarlampung untuk memberikan keterangan kepada awak media. Dengan tegas, ia membantah tudingan Sri Karmila yang menyatakan dirinya sebagai provokator.

''Saya bukan provokator. Itu murni reaksi spontan warga yang resah karena jalan menuju masjid ditutup," ujarnya.

    Asep mengakui sempat meminta Sri Karmila menggelar musyawarah dengan warga terkait kebijakan penutupan pintu masuk ke masjid. Namun bukannya ditanggapi, justru ia dituduh memanas-manasi warga untuk memprotes upaya sekolah menutup gerbang belakang sekolah.

    "Sejauh ini hubungan sekolah dan lingkungan masyarakat terjalin dengan baik, saya hanya tak ingin masalah ini berlarut-larut," tuturnya.

    Bahkan, menurutnya selama ini warga mendukung sekolah di bidang peningkatan infrastruktur, salah satunya pembangunan masjid itu.

    "Nilai sumbangan warga paling besar dibandingkan hasil sumbangan siswa," terangnya.

    Asep juga membenarkan rencana Sri Karmila memutasi dirinya dengan alasan dirinya dinilai sebagai provokator dalam masalah itu. Bahkan ia mengaku telah dipanggil Sekretaris Disdik Bandarlampung Anisah untuk memastikan dirinya benar-benar akan dimutasi.

"Alasannya karena permasalahan masjid, jarang masuk dan berkelakuan buruk. Saya sudah klarifikasi semuanya," jelas dia.

    Menurutnya, usulan pemutasiannya sangat tidak relevan jika dikaitkan dengan masalah penolakan warga terhadap penutupan masjid itu. "Ini sudah sangat jauh membias. Saya akan meminta klarifikasi langsung nanti dengan kepsek, bukti-bukti apa yang didapatnya sehingga menyimpulkan saya sebagai provokator," tandasnya.

    Dia melanjutkan, alasan penutupan akses masuk warga ke masjid karena banyak siswa bolos juga kurang tepat. Sebab di sekolah itu telah dilengkapi dengan CCTV.

    "Pintu masuk ke masjid juga sudah ada pintu. Kalau alasannya hanya takut siswa bolos, sepertinya kurang tepat," nilainya.

Diketahui, hubungan manajemen SMAN 16 Bandarlampung dan sebagian warga Kelurahan Susunan Baru, Tanjungkarang Barat tengah tidak baik.

    Penyebabnya, warga merasa terhalangi aksesnya untuk menjalankan ibadah di Masjid Darul Taqwa lantaran manajemen sekolah menutup akses masuk yang biasanya digunakan warga untuk beribadah ke masjid yang berada di lingkungan sekolah tersebut.

    Redi Novaldianto, salah satu warga setempat mengatakan, pembangunan Masjid Darul Taqwa sebagian besar berasal dari masyarakat. Dengan harapan masjid itu dapat digunakan secara bersama.

    "Padahal 85 persen dana pembangunan masjid murni sumbangan dari warga, hanya 15 persennya saja sumbangan siswa," ujarnya, Selasa (6/10).

    Redi menjelaskan, awalnya pihak sekolah kesulitan dalam pembangunan masjid, karenanya pihak sekolah lantas memasang spanduk permintaan sumbangan pembangunan masjid.

Melihat itu, warga kemudian berinisiatif untuk menggalang dana dan melanjutkan pembangunan masjid yang sempat terbengkalai itu. Akhirnya, atas bantuan warga, masjid dapat dibangun dengan kontruksi dua lantai.

    "Total dana yang terkumpul itu sekitar Rp300 juta," katanya.

    Karena itulah menurutnya warga merasa kecewa saat pihak sekolah menutup akses jalan warga yang terletak di pintu belakang sekolah. Meski pihak sekolah telah memberikan alternatif untuk menggunakan pintu depan sekolah, namun warga masih merasa keberatan lantaran harus memutar jauh dan tidak bisa dilewati saat sore dan malam hari.

    Karena itulah, Redi mengaku telah melaporkan permasalahan ini ke Dinas Pendidikan (Disdik) Bandarlampung, Penjabat Wali Kota Bandarlampung dan DPRD Bandarlampung.

    "Dari Disdik sudah mengecek ke lokasi, tapi sepertinya mereka justru mendukung penutupan akses masuk itu. Alasannya karena terbatas untuk umum," lanjutnya.

    Saat dikonfirmasi, Kepala SMAN 16 Bandarlampung Sri Karmila membenarkan telah menutup pintu belakang sekolah. Namun, terus dia, hal itu bukan dilakukan untuk menghalangi warga untuk beribadah.

    "Saya ini muslim! Tidak mungkin saya mau menghalangi warga yang mau beribadah. Saya hanya meminta warga menggunakan gerbang depan. Jangan belakang," tandasnya.

    Sri menjelaskan, penutupan pintu masuk itu dikarenakan untuk menjaga keamanan. Selain itu untuk mencegah siswa membolos saat jam pelajaran.

    "Murni karena itu, kami belum mampu menempatkan satpam di pintu belakang, dananya dari mana? Jadi saya tegaskan lagi, saya tidak pernah melarang warga beribadah di masjid," tukasnya.

    Kendati demikian, Sri mengakui jika peruntukkan masjid itu merupakan fasilitas umum terbatas. Artinya, hanya sebagai fasilitas penunjang siswa untuk beribadah. "Tapi tetap  kami bebaskan warga beribadah," imbuhnya.

    Dia juga membenarkan telah merekomendasikan Asep Buldani untuk dimutasi karena hasil penilaian pihak sekolah, Asep merupakan provokator terkait permasalahan masjid tersebut.

    "Sudah kita rekomendasikan, hanya tinggal menunggu SK-nya lagi. Asep itu provokator yang membuat warga resah terkait permasalahan masjid ini," tegasnya.

    Dia juga akan mengusulkan audit terhadap pembangunan masjid, karena menurutnya tidak ada laporan jelas mengenai keuangan pembangunan masjid. (yay/p2/c1/whk)

Petani Dilarang Garap Lahan Kota Baru

Posted: 07 Oct 2015 09:17 PM PDT

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Lampung menggelar rapat terkait Kota Baru. Rapat dipimpin Sekretaris Provinsi (Sekprov) Arinal Djunaidi. Hasilnya, pemprov tidak akan memberikan lahan 1.308 hektare di Kecamatan Jatiagung tersebut untuk digarap oleh para petani.

Sebab, Pemprov Lampung khawatir Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor SK.333/Menlhk-Setjen/2015 tentang Pelepasan Kawasan Lahan Kota Baru pada 14 Agustus lalu dicabut kembali karena lahan digunakan tidak sesuai fungsi ekologi.

Terlebih menurut Pemprov Lampung lahan yang digunakan sebagai lahan pembangunan pusat pemerintahan Lampung tersebut merupakan kawasan register 40. "Jadi kalau kita serahkan ke petani, tidak sesuai dengan fungsi ekologinya," kata Kepala Biro Aset Pemprov Lampung Lukmansyah.

Menurutnya, pihaknya dalam memutuskan langkah ini juga sudah memiliki edaran yang telah disampaikan kepada masyarakat. Yakni, tertanggl 11 Agustus 2015. Yakni terkait pengsongan lahan dan menghentikan bercocok tanah di Lahan Kota Baru, Lampung Selatan.

Adapun surat edaranya, Nomor 028/1697/11/2015. "Artinya sehubungan dengan kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) juga sudah diserahkan dan dilempahkan ke Pemprov pada 14 agustus tahun 2015. Berkaitan dengan itu agar tidak timbul lagi penyerobotan dan penanaman secara ilegal," kata dia.

Langkah tersebut dipastikan agar tidak terjadi hal yang diinginkan oleh pihak Pemprov maupun kementrian. "Kita deadline sampai bulan Mei 2016. Jadi harus sudah klir dan bersih semua lahan dari tanaman," tegasnya. (goy/c1/wdi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar