Selasa, 08 Desember 2015

Tolak Pembangunan Tembok Beton, Warga Titip Petisi

Tolak Pembangunan Tembok Beton, Warga Titip Petisi


Tolak Pembangunan Tembok Beton, Warga Titip Petisi

Posted: 08 Dec 2015 08:16 AM PST

BANDARLAMPUNG – Warga di bantaran rel kereta api all out menolak pembangunan tembok beton. Buktinya, mereka sudah mengumpulkan surat petisi yang berisi tanda tangan 200 warga dari Kelurahan Kebonjahe, Kotabaru, Kebonjeruk, dan Enggal.

Petisi itu ditujukan ke Presiden Joko Widodo dan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. Surat petisi ini dititipkan lewat Komisi III DPRD Bandarlampung yang berencana ke Jakarta untuk menghadap Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Salah satu warga Kotabaru, Hendro, menyatakan, petisi itu tinggal disampaikan ke pemerintah pusat. ''Ada sekitar 200 kepala keluarga yang tanda tangan. Itu yang tinggal di pinggir rel Kotabaru, Kebonjahe, dan Kebonjeruk," jelas dia kemarin.

Terpisah Anggota Komisi III DPRD Bandarlampung Yuhadi membenarkan sudah mendapat amanah surat petisi warga. Dengan demikian, dia berharap protes warga mendapatkan tanggapan postif dari pemerintah pusat.

Yuhadi menyatakan, seharusnya DPRD berangkat ke Jakarta kemarin. Akan tetapi, lantaran ada sidang paripurna, maka keberangkatan tertunda lagi. "Tapi karena kami baru berangkat usai agenda paripurna, maka pertemuannya dijadwal ulang besok (hari ini red)," ujarnya.

Sebelumnya, penolakan keras juga disampaikan warga Kelurahan Kebonjahe, Enggal. Warga bahkan mengancam akan menahan alat berat milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). "Kami tetap menolak keras rencana pemagaran sisi kiri-kanan jalur KA yang ada di wilayah tiga kelurahan yakni Kotabaru, Kebun Jeruk, dan kelurahan Kebun Jahe," ujar Agus Warman (37) salah seorang warga Kebun Jahe Rt01 LK01 kelurahan enggal Bandarlampung, minggu (6/12).

Ia menerangkan, warga yang tinggal di sepanjang bantalan rel KA ini telah menampati sejak 1960 an. Selain itu, dengan adanya pemagaran, juga mengakibatkan komunikasi dan silaturahmi dengan tetangga di depan rel jadi terputus.

Ketua RT 01 Kelurahan Enggal bandarlampung, Bella mengatakan, pemagaran tembok beton oleh PT KAI tersebut bertentangan dengan sila kedua Pancasila. Yakni kemanusian yang adil dan beradab.

"Selama rel tidak dipagar selama ini tidak ada masalah kok. Kenapa pemerintah mesti melakukan pemagaran yang malah memicu masalah warga dengan pihak keamanan," ujar Bella.

Menanggapi hal itu, Humas Pengembangan Perkeretaapian Wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) Ditjen Perkeretaapian Kemenhub, Roni Lesmana menegaskan, pembetonan jalur KA Stasiun Tanjungkarang Srengsem, Panjang akan tetap berjalan normal meski dihujani penolakan masyarakat.

"Tidak akan ada penghentian sementara untuk pembangunan jalur pembatas," kata Roni melalui sambungan telepon.

Menurutnya, meski masyarakat menolak, pembangunan jalur rel akan berjalan sesuai dengan jadwal yang. Ia meminta warga untuk bersabar sementara waktu. Ia mengatakan Ditjen Perkeretaapian memastikan tidak akan mematikan jalur kendaraan di sisi rel kereta api.

"Untuk alur kendaran yang terganggu, kami mohon maaf. Untuk itu, pekerjaan ini harus diselesaikan secepatnya, agar baik jalur KA maupun jalan di sisi rel dapat kembali normal," katanya.

Kemenhub juga akan membangun jembatan penyeberangan orang (JPO) untuk akses menyeberangi rel. Saat ini, pihaknya tengah mendata kemungkinan lokasi JPO sesuai dengan kepadatan penduduk, arus kendaraan, dan orang di lokasi yang terkena dampak pembangunan. (yay/p2/c1/wdi)

Bunga Bangkai Jadi Tontonan Warga, BKSDA Turunkan Tim

Posted: 08 Dec 2015 08:14 AM PST

BANDARLAMPUNG – Tumbuhnya tanaman sejenis bunga bangkai di kompleks Griya Sukamenanti, Kedaton, direspons Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung. Kepala BKSDA Lampung Subakir menyatakan, pihaknya siap menurunkan tim ke lokasi tumbuhnya bunga yang mengeluarkan bau busuk tersebut. ''Rencananya besok (hari ini, Red) BKSDA menurunkan tim. Terdiri staf dua orang dan satu tenaga ahli. Dari situ nanti kami teliti lebih lanjut," katanya via ponsel kepada Radar Lampung kemarin.

Subakir menambahkan, jika itu benar bunga bangkai jenis amorphophallus titanium becc maka bunga tersebut masuk kategori langka. Karenanya, dia melarang warga untuk merusak bunga tersebut sebelum dipastikan oleh tim BKSDA. "Nanti kita liat dulu. Apakah jenis bunga yang dilindungi atau sebaliknya," jelas Subakir.

Bunga bangkai tak berbahaya bagi manusia. Hanya, diakuinya, bunga bangkai memang mengeluarkan bau menyengat yang tak sedap. Sehingga, bisa menimbulkan salah paham kalau bunga tersebut dapat mengancam kesehatan warga sekitar.

Subakir juga menyatakan bunga tersebut dominan ditemui di daerah lembab. Biasanya, didalam hutan lebat. Tetapi, untuk bunga bangkai di Griya Sukamenanti justru tumbuh di daerah dengan kontur perbukitan.

"Saya juga baru tahu karena baca koran. Bunga langka itu kok dapat tumbuh di area bebatuan. Sementara umumnya hanya tumbuh di hutan yang lebat, dan memiliki kelembaban suhu 20 derajat celcius," paparnya.

Menurut dia, bunga bangkai dan bunga jenis Rafflesia Arnoldii adalah dua jenis tanaman yang berbeda. Tetapi, kerap kali masyarakat menganggapnya sama. "Antara Rafflesia Arnoldii dan bunga bangkai memiliki perbedaan pada klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidupnya, dan siklus hidupnya," kata Subakir.

Sementara itu berdasarkan pantauan Radar Lampung, lokasi tumbuhnya bunga bangkai tersebut jadi tontonan warga sekitar. Hingga sore pukul 17.00 masih ada saja warga yang penasaran melihat. Bau menyengat yang keluar dari bunga tersebut sudah tercium dari jarak 10 meter. Bau tersebut juga membuat warga yang tinggal tak jauh dari lokasi bunga bangkai tersebut terganggu.

''Ada sebagian warga yang minta untuk ditebang. Sebab, bau tidak sedap yang dikeluarkan bunga itu membuat warga yang tinggal di sini tidak nyaman," ujar Firdaus (45), warga setempat beberapa waktu lalu.

Dia berharap dinas terkait dapat meninjau keberadaan bunga tersebut. Sebab, warga khawatir bunga yang tumbuh dengan sendirinya itu membawa penyakit menular. ''Takutnya membawa wabah penyakit. Sebab dari bentuk dan aroma baunya saja sudah aneh. Jadi takutnya membahayakan warga sekitar. Makanya sebagian warga meminta bunga itu segera dimusnahkan," kata dia.

Tak hanya itu, warga sekitar lokasi juga ikut mempertanyakan apakah bunga tersebut termasuk bunga yang terlindungi secara hukum. "Maklumlah mas, kita orang awam. Takutnya ketika ditebang, malah melanggar hukum. Sebab kita tidak tahu, bungga jenis itu dilindungi atau tidaknya," kata dia.

Ditambahkan Yanto, warga lainnya, bau busuk bunga tersebut lebih terasa menyengat pada malam hari. "Kalau malam persis kita mencium bangkai. Nah kalau siang baunya berkurang, tapi tetap bau busuk," ungkap dia. (ozy/p2/c1/wdi)

Bank Pasar Disuntik Rp20 Miliar

Posted: 08 Dec 2015 08:13 AM PST

BANDARLAMPUNG – Kabar baik untuk Bank Pasar. Bank pelat merah ini bakal mendapat suntikan modal dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung tahun depan. Jumlah modal yang akan disuntik pemkot cukup besar. Yakni Rp20 miliar. Hal itu terungkap dalam rapat paripurna pembahasan tingkat II penyertaan modal bank perkreditan rakyat (BPR) di DPRD Bandarlampung kemarin.

''Pemkot akan memberikan tambahan modal secara bertahap terhitung pada 2016 sampai 2020," kata Juru Bicara Pansus (Panitia Khusus) Penyertaan Modal Nu'man Abdi.

Anggota Komisi II DPRD Bandarlampung ini menjelaskan, modal dasar Bank Pasar berada di kisaran Rp35 miliar. Nah dengan tambahan Rp20 miliar tersebut, modal Bank Pasar diproyeksi jadi Rp55 miliar. Mekanisme penambahan modal dilakukan bertahap. Yakni terhitung sejak 2016 hingga 2020.

Sebenarnya, lanjut dia, jumlah modal dasar tersebut masih jauh dari angka ideal. Sebab berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penambahan Modal Disetor kepada Perusahaan Daerah dan Perda tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Perusahaan Daerah yang menetapkan modal Bank Pasar adalah Rp75 miliar.

"Selepas tahun 2020, setoran modal selanjutnya akan diatur menyesuaikan kemampuan pemerintah daerah di tahun tersebut," katanya.

Tujuan penambahan modal dasar ini kata Nu'man adalah meningkatkan daya saing Bank Pasar selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

"Ke depannya, saya harap Bank Pasar dapat menjadi motor penggerak perekonomian daerah, melalui kredit terhadap usaha mikro, keciil dan menengah," katanya.

Dalam paripurna kemarin juga mengatur mengenai pola perekrutan direksi dan anggota dewan pengawas. Nantinya, anggota dewan direksi akan diangkat langsung oleh Wali Kota dan menjabat selama empat tahun. (yay/p2/c1/wdi)

Pasok Pangan ke Jakarta, Ridho Gandeng Ahok

Posted: 07 Dec 2015 11:28 PM PST

BANDARLAMPUNG - Kerja keras Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung di bidang perekonomian mulai membuahkan hasil. Kemarin, Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo menyepakati nota kesepakatan (MoU) dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. MoU itu bernomor 14/2015 dan 520/1137/04/2015 tentang Penyediaan Bahan Pangan dari Provinsi Lampung untuk Provinsi DKI Jakarta.

Dengan adanya MoU tersebut, Lampung akan memasok sejumlah bahan pangan ke Jakarta. ''Dengan kerja sama ini tentu diperlukan peningkatan sistem pertanian dan kesiapan petani serta komitmen dan kerja sama semua pihak dalam menjaga lahan-lahan pertanian yang digunakan sebagai daerah ketahanan pangan", jelas Ridho di Balai Kota DKI Jakarta.

Ditambahkan Sekretaris Provinsi Lampung Arinal Djunaidi, ada tiga poin kesepakatan kedua Pemprov. Yakni terkait spesifikasi produk, kualitas yang telah disepakati dan harga yang terbaik. "3 poin tersebut kontrolnya berada di food station", jelasnya.

Gubernur DKI Jakarra Basuki Tjahaja Purnama menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta siap mendukung berbagai program kerjasama dengan Pemprov Lampung. Terutama dalam rangka menjaga stok pangan di Jakarta.

"Apa pun bentuk kerjasama yang akan dilakukan baik langsung maupun tidak langsung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta siap mendukung dan telah menugaskan 3 BUMD yang bertugas untuk melakukan kerjasama," jelas pria yang akrab disapa Ahok ini.

Ditambahkan Karo Humas dan Protokol Bayana, kerjasama ini rencananya dilakukan dalam dua bentuk. Yang pertama adalah kerjasama langsung. "Dimana Provinsi Lampung akan menyediakan bahan pangan dengan sistem perdagangan langsung oleh BUMD atau Swasta yang ditunjuk oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun Pemerintah Provinsi Lampung, dengan bahan pangan yang akan disediakan meliputi beras, pisang, kelapa dan ayam buras," terang dia.

Sedangkan, bentuk kerjasama yang kedua dengan pola investasi atau tidak langsung. Yaitu Pemprov DKI Jakarta menyediakan anggarannya dan Pemerintah Provinsi Lampung sebagai penyedia lahan. Sedangkan, rencana kerjasama dengan pola investasi akan dilaksanakan dengan tiga cara. Diantaranya,pengembangan agribisnis ternak sapi potong meliputi pembibitan, pengembangbiakan, penggemukan dan penelitian.

Selanjutnya dengan pengembangan agribisnis ternak ayam buras. Yakni pembibitan dan penggemukan ayam buras dan Pengembangan produktivitas pertanian melalui intergrasi agro industri beras sebagai pusat pengolahan pangan di provinsi Lampung. "Kerja sama ini diharapkan dapat menjaga stabilitas ketersediaan bahan pangan bagi Provinsi DKI Jakarta dan juga untuk Provinsi Lampung", imbuh Kabag Humas Setprov Lampung Heriyansyah. (wdi/rls/p1/c1/wdi)

Battar Belum Lewat Krisis

Posted: 07 Dec 2015 11:11 PM PST

BATTAR Abinaya Basupati (17 bulan), penderita penyumbatan saluran empedu (atresia bilier), belum melewati masa krisis. Pascaoperasi cangkok hati Minggu (29/11) lalu, Battar masih dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. ''Ini masih naik-turun dan dirawat di ICU Anak. Sehingga para dokter sering mengawasi perkembangannya," kata ibu Battar, Jumi Lestari, kemarin.

Menurut Tari-sapaan akrabnya-masa krisis Battar diperkirakan antara 15 hari hingga 1 bulan lamanya. "Itupun tergantung pada kondisi sang anak," kata Tari.

Dia menyatakan, sampai kemarin masih menunggu uluran tangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung untuk turun tangan membantu kesulitan biaya yang dihadapi keluarganya.

"‎Belum ada yang hubungi bahkan yang kunjung kesini. Cuma mas yang sering kesini. Kita hampir setahun berobat di Jakarta tapi pemerintah Lampung sebatas janji dan tutup mata. Jika benar-benar berniat menolong langsung ke RSCM. Lihat sendiri kondisi Battar," cetusnya.

Di sisi lain, kondisi , sang Ayah Sutriyono berangsur membaik. Pendonor hati bagi Battar itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah dari sebelumnya di rawat di ruang HGU (High Care Unit) Kamar 401, Gedung A Lantai 4. "Insyallah sore ini (kemarin.red), bapak sudah boleh pulang dari RSCM," ucap dia.

Tari terpaksa menyewa rumah tinggal untuk suaminya di belakang RSCM. Tujuannya agar dapat memantau Battar yang masih di rawat di ICU. "‎jadi pagi pulang merawat suami, sore-nya ke RSCM untuk melihat kondisi Battar," tambah Tari. (hyt/c1/wdi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar